kumparan
search-gray
Food & Travel1 Mei 2018 7:06

Menelusuri Masa Lalu Jakarta Lewat Tur Jalan Kaki

Konten Redaksi kumparan
Video
Pernahkah kamu merasa libur akhir pekanmu terlalu singkat dan membosankan? Bisa jadi kamu merasakannya karena hanya bermalas-malasan di rumah sambil terus memandangi layar gadget. Salah satu cara sederhana untuk membuat liburmu lebih menarik, namun tetap hemat adalah dengan ikut walking tour atau tur jalan kaki menjelajahi kota.
ADVERTISEMENT
Sekilas mungkin terdengar melelahkan. Namun setelah mengumpulkan motivasi, akhirnya kumparanTRAVEL membulatkan niat untuk ikut walking tour yang diadakan Komunitas Historia Indonesia pada Sabtu (28/4). Bermodalkan donasi Rp 50 ribu per orang untuk pemandu dan tiket masuk, kami memilih rute tur melewati Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, dan Galangan VOC.
Rombongan walking tour di Museum Bahari
Rombongan walking tour di Museum Bahari (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Kami dipandu oleh salah satu anggota Komunitas Historia Indonesia (KHI), Rendi Dwi Kurnia. Ia meminta kami berkumpul di Menara Syahbandar, Jakarta Utara pada pukul 08.00 WIB. Setelah menunggu rombongan lengkap, kami mulai berjalan kaki ke Pelabuhan Sunda Kelapa pada 08.30 WIB. Rombongan dibatasi 30 orang saja per tur.
Menariknya, rombongan tur didominasi oleh keluarga. Tampak beberapa orangtua mengajak anak-anaknya yang masih usia sekolah dasar. Annisa, salah satu peserta dari Bekasi turut mengajak keponakannya yang berusia 7 tahun dalam tur itu.
ADVERTISEMENT
“Saya sudah pernah ikut tur KHI sebelumnya, saya pikir kayaknya menarik kalau ngajak keponakan saya. Biar enggak main handphone aja di rumah, main game melulu,” tuturnya saat diajak ngobrol kumparanTRAVEL.
Meski harus berjalan kaki di bawah terik sinar matahari, anak-anak dalam rombongan tidak mengeluh. Mereka malah tampak antusias menelusuri jejak kolonial di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara.
Sesampai di Pelabuhan Sunda Kelapa, Rendi menjelaskan pentingnya peran bandar laut itu. Menjadi pelabuhan yang pertama dibangun oleh Kerajaan Sunda, kawasan itu sempat dikuasai Portugis pada 1511 dan direbut lagi oleh Kerajaan Demak dan Cirebon pada 1527.
Rombongan walking tour di Pelabuhan Sunda Kelapa
Rombongan walking tour di Pelabuhan Sunda Kelapa (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
“Pelabuhan ini dulu paling ramai karena letaknya strategis, dekat dengan Selat Malaka dan Selat Sunda. Semua rempah-rempah yang dikirim ke Eropa, dikumpulkan di sini dulu,” papar Rendi kepada rombongan.
ADVERTISEMENT
Puas mengambil foto dan mengulik kisah Pelabuhan Sunda Kelapa, tur berlanjut ke Museum Bahari. Hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.
Terdiri atas tiga gedung, museum itu memiliki ruang rempah-rempah, diorama, replika kapal, dan perpustakaan. Sayangnya, sebagian koleksi museum itu telah rusak akibat kebakaran pada 16 Januari 2018 lalu.
Museum Bahari
Museum Bahari (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
“Ini adalah salah satu museum favorit saya di Jakarta. Tapi sayang sekali, sebagian blok A dan C baru terbakar. Padahal di sana ada diorama, miniatur perahu dan alat navigasi laut,” papar Rendi.
Rendi menceritakan bangunan itu dulunya adalah gudang rempah-rempah yang merupakan komoditi berharga bagi VOC. Namun, bukan hanya itu yang bisa kamu pelajari di sana. Terdapat patung-patung pelayar hebat yang pernah menaklukkan samudera hingga sampai ke Nusantara seperti James Cook, Jan Pieterzoon Coen, Vasco da Gama, dan lain-lain.
Patung Cornelis de Houtman di Museum Bahari
Patung Cornelis de Houtman di Museum Bahari (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Perjalanan kami berlanjut ke Galangan VOC. Tempat itu dulunya merupakan bengkel bagi kapal-kapal VOC. Bahkan James Cook, penemu benua Australia, pernah singgah dan memperbaiki kapalnya di sana. Menariknya gedung bersejarah itu berkali-kali pindah tangan dan kini masih dimiliki swasta.
ADVERTISEMENT
Galangan VOC di Penjaringan, Jakarta Utara
Galangan VOC di Penjaringan, Jakarta Utara (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Beruntung Susilowati, perempuan yang terakhir membeli gedung Galangan VOC pada 1996, juga pencinta sejarah. Ia memugar gedung itu dengan dana pribadi dan kini bisa dikunjungi publik secara gratis.
“Yang menarik adalah justru pihak swasta yang menyelamatkan Galangan Kapal VOC ini. Awalnya akan dijadikan ruko dagang, tapi karena mengetahui sejarah panjang bangunan ini, akhirnya beliau ikut jatuh cinta pada sejarahnya dan mempertahankan bentuk aslinya,” tambah Rendi.
Rombongan walking tour di Galangan VOC
Rombongan walking tour di Galangan VOC (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Pada pukul 12.00 WIB, kami kembali ke Menara Syahbandar dan menutup tur jalan kaki hari itu. Pelajaran yang kami dapatkan hari itu jelas berbeda daripada hanya membaca buku sejarah. Kami melihat langsung bentuk peninggalan kolonial dan kisah yang membangunnya hingga masih berdiri sampai hari ini.
Menara Syahbandar di Museum Bahari
Menara Syahbandar di Museum Bahari (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Perspektif baru tentang masa lalu Jakarta pun kami dapatkan. Begitu banyak yang kota metropolitan ini lalui. Menjadi saksi bisu peradaban Kerajaan Sunda, dikuasai kolonial, hingga menjadi salah satu kota terpadat di dunia seperti sekarang.
ADVERTISEMENT
Tertarik untuk ikut menelusuri masa lalu Jakarta lewat walking tour?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white