Food & Travel
·
12 Juni 2021 7:41
·
waktu baca 2 menit

Mengasapi Jenazah, Ritual Pemakaman Ekstrem Suku Anga di Papua Nugini

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Mengasapi Jenazah, Ritual Pemakaman Ekstrem Suku Anga di Papua Nugini (4366)
Ilustrasi suku di Papua Nugini. Foto: Shutterstock
Setiap suku tentu punya tradisi atau ritual yang masih dijalankan hingga saat ini, termasuk untuk memakamkan seseorang yang telah berpulang. Seperti halnya Suku Anga di Papua Nugini yang punya cara tak biasa yaitu mengasapi jenazah yang telah meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Dilansir Amusing Planet, tak seperti suku lainnya, Suku Anga terbilang memiliki ritual pemakaman unik dan ekstrem. Jika biasanya seseorang yang telah meninggal di dunia akan dikuburkan di tanah, anggota Suku Anga justru melakukan proses mumifikasi dengan mengasapi jenazah orang yang meninggal.
Mengasapi Jenazah, Ritual Pemakaman Ekstrem Suku Anga di Papua Nugini (4367)
Ilustrasi pemakaman di Papua Nugini. Foto: Shutterstock
Jika mumifikasi Mesir kuno menggunakan garam dan campuran rempah-rempah untuk menutupi jasad, lain halnya dengan Suku Anga yang justru menggunakan bantuan asap dari api.
Apa yang dilakukan oleh Suku Anga ini sebenarnya memiliki tujuan yang lebih universal, sebab pengasapan juga dapat dilakukan untuk mengawetkan daging hewan (seperti ikan). Melalui metode ini, tujuan utama mumifikasi ialah menghilangkan air di dalam tubuh sehingga mencegah penguraian.

Mengasapi Jenazah Jadi Bagian Mumifikasi Suku Anga

Proses mumifikasi Suku Anga dimulai dengan terlebih dahulu merobek lutut, siku, kaki, dan sendi lainnya dari mayat. Batang bambu berongga kemudian dimasukkan ke dalam celah-celah robekan tersebut, sehingga air dari tubuh dapat menetes ketika mayat diasapi selama lebih dari satu bulan.
ADVERTISEMENT
Cairan-cairan dari jenazah tersebut nantinya akan dikumpulkan dan diolesi ke bagian tubuh penduduk desa lainnya. Konon, cara tersebut diyakini dapat mentransfer kekuatan orang yang sudah meninggal kepada orang yang masih hidup.
Meski demikian, beberapa artikel lainnya mengeklaim bahwa cairan tersebut juga digunakan sebagai minyak goreng untuk memasak. Namun, hal tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya.
Setelah tubuh diasapi dan dikeringkan, jenazah tersebut akan ditutupi dengan oker (pewarna merah alami yang berasal dari tanah liat). Hal ini untuk melindungi rusaknya jasad dari unsur-unsur lainnya. Proses ini juga ditujukan untuk mempercepat proses pembusukan mayat.
Mumifikasi Suku Anga tak dapat kita saksikan lagi saat ini. Sejak tahun 1949, ketika para misionaris menyebarkan ajaran agama di Aseki, mumifikasi Suku Anga dihentikan dan tak muncul mumi yang baru.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, sisa-sisa mumi lama masih mereka jaga dan bisa ditemukan di beberapa desa di Distrik Aseki. Suku Anga bukanlah suku yang punya ritual unik mengawetkan mayat dengan proses mumifikasi. Di Indonesia, ritual pemakaman dengan proses mumifikasi juga dilakukan Suku Toraja di Sulawesi Selatan.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)