Menguak Sejarah Panjat Pinang, Hiburan Zaman Belanda yang Eksis Hingga Sekarang

15 Agustus 2020 7:38 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi perlombaan panjat pinang Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perlombaan panjat pinang Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
HUT ke 75 RI yang jatuh pada tanggal 17 Agustus tak hanya dihiasi dengan berbagai ornamen bendera Merah Putih, tetapi juga diwarnai dengan berbagai macam lomba.
ADVERTISEMENT
Dari sekian banyak perlombaan yang digelar, lomba panjat pinang merupakan salah satu lomba yang kerap menghiasi perayaan Agustus-an.
Ilustrasi perlombaan panjat pinang Foto: Shutter Stock
Para peserta berlomba-lomba memanjat tiang berukuran 10 hingga 12 meter untuk menggapai puncak pinang yang sudah diisi dengan berbagai hadiah.
Tak mudah untuk mencapai puncak, karena biasanya pinang tersebut telah diolesi oli ataupun minyak untuk menambah keseruan lomba. Sehingga dibutuhkan kerja sama untuk mengambil hadiah di puncak pinang.
Tapi, kalau mundur sedikit ke belakang dan melihat sejarah politik masa lalu, panjat pinang merupakan sarana hiburan orang Belanda di Batavia.
Sejarawan dan founder Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali. Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
Sejarawan sekaligus Founder Komunitas Historia Indonesia (KHI), Asep Kambali, menjelaskan bagaimana asal-usul panjat pinang yang menjadi hiburan di zaman penjajahan. Ia mengungkapkan bahwa permainan ini sudah ada sejak zaman Dinasti Ming dan Dinasti Qing.
ADVERTISEMENT
"Lomba panjat pinang ini sudah modifikasi dari upacara festival hantu, dari China. Masyarakat balapan naik ke atas, di atasnya ada hadiah 'hantu' hiburan," kata Asep, saat dihubungi kumparan, Jumat (14/8).
Mengutip laman Forum Budaya dan Sejarah Tionghoa, Rinto Jiang, dalam artikelnya bertajuk “Korelasi Perlombaan Panjat Pinang di Indonesia dengan Budaya Tionghoa", menjelaskan bahwa permainan ini sudah lama populer di China dengan nama qiang-gu. Bahkan sejak zaman Dinasti Ming (1368-1644) dan pada masa Dinasti Qing (1644-1911).
Hanya saja qiang-gu alias panjat pinang ala China ini tidak diperbolehkan dimainkan lagi oleh otoritas kerajaan, karena beberapa kali menimbulkan korban jiwa, misalnya karena peserta terjatuh dari ketinggian.
Warga mengikuti lomba panjat pinang kolosal dalam rangka HUT ke-74 Kemerdekaan RI di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Tak hanya di China, permainan yang mirip dengan panjat pinang juga sudah dikenal di Malta pada abad pertengahan, atau sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 hingga abad ke-15 Masehi.
ADVERTISEMENT
Mengutip Time of Malta, masyarakat di wilayah kepulauan yang terletak di Eropa bagian selatan ini memainkan panjat pinang, atau yang dalam istilah lokal disebut gostra, untuk meramaikan Festival Saint Julian.

Lomba Panjat Pinang dan Simbol Penindasan

Lomba panjat pinang di zaman Belanda Foto: Dok. Komunitas Historia Indonesia (KHI)
Sementara itu, di zaman penjajahan Belanda, perlombaan ini dikenal sebagai de Klimmast, yang memiliki arti ‘memanjat tiang’. Dahulu pada 1920-an, yang dipasang di puncak untuk diperebutkan adalah bahan makanan dan pakaian.
Nah, yang berlomba-lomba saling menginjak tak lain orang-orang lokal atau penduduk Indonesia saat itu. Yang ikut lomba pun bebas, siapa saja. Saling injak demi mendapatkan hadiah.
"Kenapa makanan atau pakaian, karena dua ini merupakan kebutuhan pokok yaitu sandang dan pangan, papan-nya enggak ada karena memang mungkin tidak menyesuaikan," lanjut Asep.
ADVERTISEMENT
Pada zaman Hindia Belanda, orang-orang yang mengikuti permainan panjat pinang untuk memperebutkan benda-benda yang bergantung di atasnya, seperti kemeja, celana, dan lain-lain karena memang pada saat itu benda tersebut adalah barang mewah.
Sementara masyarakat Indonesia bersusah payah memanjat dan meraih hadiah, orang-orang Belanda hanya menonton dari bawah.
Ilustrasi panjat pinang Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan
Asep pun menjelaskan bahwa perlombaan ini merupakan salah satu simbol penindasan pada saat itu.
"Jadi, seperti simbol penindasan, gitu, ya. Bahan tertawaan hiburan karena yang main kan itu orang kita, enggak ada orang Eropa main itu. Jadi bersusah payah gitu, dan orang Eropa tertawa melihat kita melorot, jatuh, bahkan tidak sedikit yang meninggal," ujar Asep.
Asep pun menuturkan, pada masa itu panjat pinang biasa diadakan setiap 31 Agustus untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Belanda.
ADVERTISEMENT
"Diadakannya pada saat biasanya perayaan-perayaan bersejarahnya Hindia Belanda, yaitu misalnya pas ulang tahunnya Ratu Belanda panjat pinang ini," ujar Asep.
Ilustrasi perlombaan panjat pinang Foto: Shutter Stock
Banyak orang menganggap bahwa panjat pinang hanya membawa kenangan buruk di masa penjajahan. Masa-masa di mana kita, bangsa Indonesia, ditindas dan ditertawakan oleh bangsa lain.
"Tetapi poin, nilai dan maknanya itu adalah apakah dengan kita panjat pinang makin belajar sejarah. Apakah dengan panjat pinang kita makin kenal para pahlawan?," imbuh Asep.
Hal ini pula lah yang membuat lomba panjat pinang dilarang untuk digelar di beberapa wilayah di Indonesia. Salah satunya di Aceh.
Namun, tidak sedikit yang menilai bahwa panjat pinang diadakan untuk meneladani perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.
ADVERTISEMENT
Selain itu, ada beberapa nilai yang bisa diambil, yaitu kerja sama, semangat, dan pantang menyerah untuk meraih sesuatu.
com-TikTok, ilustrasi lomba di Hari Kemerdekaan Indonesia Foto: Shutterstock
Meski begitu, Asep mengungkapkan bahwa Hari Kemerdekaan yang digelar setiap tahunnya sebaiknya diisi dengan berbagai lomba yang bermanfaat. Misalnya dengan menggelar lomba yang bisa mengingatkan kita tentang sejarah dan jasa, serta perjuangan para pahlawan.
"Misalnya dengan lomba mirip pahlawan, lomba bermain puzzle sejarah, lomba tebak wajah pahlawan, lomba lagu-lagu perjuangan, dan lomba menarik lainnya," pungkas Asep.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)