Menilik Pesona Kaesong, Kota Bersejarah di Korut yang di Lockdown Kim Jong Un

Setelah mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Korea Utara, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, memberlakukan lockdown di Kota Kaesong yang berada di selatan dekat perbatasan dengan Korea Selatan.
Kasus pertama virus corona ini kemungkinan besar dibawa oleh seseorang yang sudah positif COVID-19, dan melintas batas secara ilegal dari Korea Selatan ke Korea Utara. Lockdown di Kaesong menjadi tindakan pertama yang dilakukan pemerintah Korea Utara untuk menghentikan penyebaran virus corona di negara itu.
Kaesong memang nama yang cukup asing bagi wisatawan. Kaesong merupakan kota bersejarah yang berfungsi sebagai ibu kota dinasti Koryo atau Goryeo sejak tahun 918 hingga 1392 yang dulunya bernama Wan Geon. Goryeo sendiri merupakan salah satu kerajaan terkuat di semenanjung Korea.
Menariknya, Kaesong merupakan rumah bagi situs warisan dunia UNESCO. Tercatat, ada sekitar 12 peninggalan bersejarah di kota tersebut yang masuk ke Situs Budaya UNESCO tahun 2013 silam.
Peninggalan sejarah dinasti Goryeo yang masuk ke dalam warisan dunia salah satunya adalah Jembatan Sonjuk dan makam Raja Kongmin. Dilansir dari laman resmi UNESCO, status warisan dunia itu diberikan sebagai bentuk mewujudkan nilai-nilai politik, budaya, filosofis, dan spiritual dari Kerajaan Goryeo.
Dilansir situs resmi North Korea Travel, tidak seperti kota-kota besar di Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK), Kaesong menjadi satu-satunya kota yang tidak hancur selama perang Korea Selatan dan Korea Utara. Sebab, kala itu Kaesong masih milik Korea Selatan sebelum adanya perjanjian gencet senjata Korea pada tahun 1953.
Sempat menjadi pusat dagang produksi ginseng Korea, kini kota Kaesong menjadi pusat industri makanan ringan Korea Utara. Karena dekat dengan batas negara dengan Korea Selatan, kota ini merupakan pusat pertukaran ekonomi antarbatas kedua negara.
Selain itu, Kawasan Industri Kaesong juga dipimpin bersama oleh kedua negara. Penduduk Korea Selatan pun diizinkan mengunjungi Kaesong. Namun, dengan syarat penduduk Negeri Gingseng itu tidak boleh berkunjung lebih dari satu hari dan pergi ke Pyongyang.
Kaesong adalah tujuan utama para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Korea Utara. Hal itu lantaran kota ini dikenal sebagai rumah bagi gingseng terbaik di Korea Utara dan menjadi Lembaga Pendidikan tertinggi di Koryo pada abad ke-10. Selain itu, Kaesong juga menjadi salah satu dari dua lokasi di Korea Utara yang dapat diakses dari Selatan.
Situs bersejarah yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Gerbang Nam Kaesong, Akademi Konfusius Songgyungwan (kini Museum Koryo), Jembatan Sonjuk, dan Paviliun Pyochung. Gerbang Nam merupakan tempat wisata paling ikonik di Kaesong yang dibangun menjelang akhir dinasti Koryo pada tahun 1391.
Gerbang tersebut dibangun kembali oleh Pemerintah Korea Utara pada tahun 1954, setahun setelah bangunan itu dibom oleh Amerika Serikat. Di sisi gerbang terdapat lonceng yang digunakan untuk memberi tahu waktu di Kaesong. Lonceng itu diprediksi dapat didengar hingga jarak 40 km dari kota tersebut.
Untuk mencapai Kaesong, wisatawan harus lebih dulu menuju Ibu Kota Pyongyang. Setelah itu dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan atau tur profesional yang diakui Pemerintah Korea Utara via jalan tol sekitar 2,5 jam perjalanan darat.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
