Kumparan Logo

Pacu Jalur, Festival Meriah di Riau yang Sarat Akan Unsur Sejarah

kumparanTRAVELverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Jalur Binaan RAPP (Foto: Novianti Rahmi Putri/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
com-Jalur Binaan RAPP (Foto: Novianti Rahmi Putri/kumparan)

Selain menyimpan kekayaan alam yang indah, Indonesia juga memiliki event-event menarik yang sayang untuk dilewatkan, salah satunya adalah Festival Pacu Jalur yang digelar di Kuantan Singingi, Riau.

“Tanbaru (Tahun Baru)-nya masyarakat Kuansing”, seperti itulah gambaran seberapa penting dan meriahnya Festival Pacu Jalur yang rutin diadakan setiap tahun. Pacu Jalur sendiri merupakan sebuah perlombaan dayung dengan menggunakan perahu kayu panjang yang oleh masyarakat setempat disebut dengan jalur. Festival ini berlangsung selama empat hari dan pada tahun 2018 ini digelar dari 29 Agustus hingga 1 September 2018.

com-Pembukaan Festival Pacu Jalur (Foto: Novianti Rahmi Putri/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
com-Pembukaan Festival Pacu Jalur (Foto: Novianti Rahmi Putri/kumparan)

Pada perhelatannya yang ke-115, Festival Pacu Jalur diawali dengan penampilan tari-tarian budaya dan dibuka secara resmi oleh Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman pada Rabu (29/8).

“Event Pacu Jalur ini mungkin ada 300.000 pengunjungnya, dan ini luar biasa. Jadi, kita semakin optimis majunya pariwisata Riau, majunya Pacu Jalur, dan majunya Kuansing,” paparnya sebelum membuka Festival Pacu Jalur.

Pada tahun 2018, Festival Pacu Jalur mempertandingkan 182 jalur yang merupakan perwakilan dari berbagai daerah dan pihak swasta. Salah satu pihak swasta yang turut mendukung serta berpartisipasi dalam festival ini adalah PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). RAPP menurunkan empat jalur binaannya yakni Putri Kumayang Linduang Daun RAPP, Tapak Godang Sungai Gorakan RAPP, Pulou Laghe Mandulang Untuang RAPP, dan Carano Kuansing RAPP.

“RAPP sangat mendukung Festival Pacu Jalur yang merupakan kegiatan tahunan nasional yang digelar di Kuansing. Kegiatan ini merupakan kebanggaan kita semua. Dengan kegiatan ini, kami bisa melebur menyatu dan menjadi bagian dari masyarakat,” jelas Wan Jakh, General Manager Stakeholder Relations RAPP.

Sejarah dan Filosofi Pacu Jalur

Di balik kemeriahannya, kegiatan Pacu Jalur memiliki sejarahnya tersendiri. Jalur, telah dikenal oleh masyarakat sejak abad ke-17 sebagai sarana transportasi hingga alat angkut berbagai kebutuhan. Pasalnya, kala itu, belum ada moda transportasi darat, sehingga masyarakat harus melakukan berbagai kegiatannya dengan bantuan transportasi air.

Seiring berjalannya waktu, jalur pun mulai dikenal bukan hanya sebagai moda transportasi saja. Masyarakat mulai berkreasi untuk menghias jalur sebagai cara mengukuhkan identitas sosialnya. Hingga akhirnya, terciptalah perlombaan Pacu Jalur sebagai acara perayaan dan peringatan sebuah momen spesial. Contohnya, di masa penjajahan Belanda, Pacu Jalur diadakan untuk merayakan hari jadi Ratu Wilhelmina.

com-Festival Pacu Jalur di Kuansing (Foto: Novianti Rahmi Putri/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
com-Festival Pacu Jalur di Kuansing (Foto: Novianti Rahmi Putri/kumparan)

Pacu Jalur memang memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi. Namun di balik itu, juga terdapat filosofi dan nilai yang tersimpan di dalamnya. Pada sebuah jalur, setiap tukang atau orang yang ada di perahu tersebut memiliki perannya masing-masing. Perbedaan peran tersebut merupakan bentuk perwujudan untuk mempertahankan nilai luhur yakni pembagian peran yang harmoni.

Artinya, jika para tukang bekerja gotong royong sesuai dengan perannya, bukan tidak mungkin jalur mereka bisa menjadi juara. Tapi jika mereka tidak bekerja secara seirama, kekalahan atau bahkan terjatuh di tengah perlombaan pacu jalur pun bisa saja terjadi.

Story ini merupakan bentuk kerja sama dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).