Para Ahli Prediksi Akan Ada 5 'New Normal' Dalam Penerbangan Usai Pandemi

14 Mei 2020 12:03 WIB
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
suasana kabin pesawat saat pandemi yang dipotret pramugari, Molly Choma Foto: Instagram: Mollychoma
zoom-in-whitePerbesar
suasana kabin pesawat saat pandemi yang dipotret pramugari, Molly Choma Foto: Instagram: Mollychoma
ADVERTISEMENT
Seiring dengan mulai menurunnya kasus pandemi corona di berbagai negara, beberapa bandara dan maskapai penerbangan telah mulai beroperasi. Beragam perubahan mulai dilakukan maskapai penerbangan atas alasan keselamatan.
ADVERTISEMENT
Sebanyak sembilan dari 10 ahli memperkirakan bahwa akan ada waktu perputaran yang lebih lambat antara penerbangan ketika operasional kembali seperti semula. Ada beragam perubahan yang diperkirakan para ahli akan kamu temui dalam penerbangan.
Apa saja? Dilansir Forbes, berikut lima di antaranya yang telah berhasil kumparan rangkum.

1. Proses Check-In di Bandara Lebih Lama

Suasana check-in penumpang Air China, Foto: instagram : wishnutama
Proses check-in diperkirakan bisa saja memakan waktu hingga empat jam. Kok bisa lama? Ya, karena petugas bandara dan penumpang mesti menerapkan physical distancing.
Penumpang juga mesti saling menunggu sebelum menaiki pesawat, dan juga menerapkan sanitasi bagi penumpang, serta bagasi yang dibawa. Sementara itu, maskapai membutuhkan waktu lebih untuk melakukan pembersihan kabin dan disinfeksi secara menyeluruh.
ADVERTISEMENT
Dalam jangka waktu pendek, rangkaian aturan ini diperkirakan akan mengurangi jumlah penumpang yang terbang, serta rute penerbangan. Sehingga penundaan (delay) akan lebih jarang terjadi.

2. Teknologi di Bandara Akan Semakin Canggih

Petugas mengarahkan calon penumpang tentang cara melakukan pelaporan mandiri. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Teknologi dan automasi digital akan memainkan peran penting. Pihak bandara sebisa mungkin akan mengurangi kebutuhan untuk melakukan kontak fisik dengan penumpang. Untuk itu, teknologi biometrik akan dikembangkan lebih lanjut.
Tanpa perlu saling bersentuhan, akan ada teknologi biometrik yang mendeteksi wajah penumpang sebagai bentuk lain dari paspor. Sejumlah maskapai penerbangan termasuk British Airways, Qantas, dan EasyJet dikabarkan telah menggunakan teknologi seperti ini.
Menurut World Travel and Tourism Council (WTTC), bandara-bandara utama yang banyak dilalui wisatawan seperti Bandara Changi di Singapura, Bandara Heathrow di London, dan JFK di Amerika Serikat juga akan melayani check-in online dan pembayaran tanpa kontak fisik.
ADVERTISEMENT
Lalu, para ahli memperkirakan bahwa pengantar juga tidak akan diperbolehkan masuk. Kecuali untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan atau anak kecil yang terbang tanpa pendamping.

3. Akan Ada 'New Normal' dalam Proses Check In

Petugas Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta melakukan disinfeksi di terminal dan fasilitas bandara. Foto: Dok. Angkasa Pura I
Selain menerapkan sistem check-in dengan biometrik, ada kemungkinan bandara akan membuat ruang khusus untuk disinfeksi. Misalnya saja terowongan khusus untuk disinfeksi penumpang atau terowongan fogging bagi barang bawaan.
Lalu, akan ada pula pelindung di konter customer service, pengadaan tempat sanitasi tangan, serta pemindaian suhu tubuh dalam jumlah orang yang lebih banyak. Ruang tunggu juga akan dibuat jadi lebih besar, sehingga memungkinan penumpang untuk menerapkan physical distancing.
The Telegraph juga menjelaskan bahwa sanitasi tidak hanya akan dilakukan secara manual saja, tetapi juga melalui sinar UV. Bandara Heathrow di London berencana akan memulai uji coba sanitasi jenis ini. Dan hanya orang-orang yang dapat menyamai aturan berlaku saja yang diizinkan untuk terbang.
ADVERTISEMENT

4. Tidak Akan Ada Layanan Makanan dalam Pesawat

Pramugari Japan Airlines tengah melayani penumpang Foto: Shutter Stock
Di dalam kabin, mengenakan masker adalah sebuah kewajiban. Baik masker medis atau non medis, seperti masker kain. Beberapa maskapai besar telah menerapkan aturan seperti ini, misalnya KLM dan Air France.
Kemungkinan maskapai lainnya juga akan melakukan hal yang sama demi menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang. Di luar itu, ada kemungkinan bahwa layanan makanan di dalam pesawat untuk penerbangan jarak pendek akan dihentikan.
Sementara untuk penerbangan jarak jauh, maskapai penerbangan akan mempertimbangkan 'light refreshment'. Walau belum ada kejelasan seperti apa refreshment yang ditawarkan.
Hong Kong Airlines sendiri telah berhenti menawarkan makanan sama sekali, baik untuk penerbangan pendek maupun panjang.

5. Penumpang Akan Menjalani Rapid Test Setiba di Tujuan

Relawan Indonesia Bersatu Lawan COVID-19 Gelar Rapid Test Massal di Bandara Soekarno Hatta. Foto: Dok. Istimewa
Setiba di bandara tujuan, penumpang internasional akan menunjukkan dokumen lain selain paspor, salah satunya adalah dokumen imunitas dan keterangan kesehatan. Hal ini merupakan salah satu langkah yang didukung oleh IATA (International Air Transport Association).
ADVERTISEMENT
"Penumpang yang tiba akan menjalani pemeriksaan suhu di tujuan akhir dan bahkan berpotensi melakukan tes darah untuk COVID-19," prediksi Conde Nast seperti yang diberitakan Forbes.
Namun, tes macam ini diperkirakan tidak akan berjalan dalam jangka waktu panjang. Meski tidak dapat menjamin penumpang imun dengan COVID-19 ketika pengujian suhu tubuh dilakukan, karena ada penumpang yang terinfeksi tanpa gejala, tetap saja langkah pengecekan suhu tubuh sebagai langkah pre-screening mesti dilakukan.
Para ahli juga memprediksi bahwa nantinya akan ada badan kesehatan federal baru yang dibuat untuk mengkoordinasikan pemeriksaan kesehatan di bandara. Sebab, menurut Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC, bepergian dalam era 'New Normal' memerlukan tindakan terkoordinasi, termasuk standar dan protokol baru.
ADVERTISEMENT
"Hal ini diperlukan agar sektor perjalanan dan pariwisata global dapat berjalan dengan aman dan penuh tanggung jawab ketika konsumen mulai kembali terbang," katanya.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.