kumparan
Food & Travel21 Maret 2018 12:36

Rili Djohani, Pulang ke Ibu Pertiwi demi Terumbu Karang

Konten Redaksi kumparan
Rili Djohani, Direktur Eksekutif CTC.
Rili Djohani, Direktur Eksekutif CTC. (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)
Perempuan berambut pendek itu mengenakan blus hitam bermotif saat ditemui kumparanTRAVEL. Wajahnya yang tampak keibuan tersenyum ramah menyambut kedatangan kami.
ADVERTISEMENT
Begitu dia menyapa, terdengarlah logat kebaratan meski Bahasa Indonesia yang dituturkan sangat lancar. Ialah Rili Djohani, Executive Director sekaligus founder Coral Triangle Center (CTC), organisasi konservasi laut dan terumbu karang yang berbasis di Sanur, Bali.
Rili adalah ahli biologi kelautan yang dibesarkan di Belanda. Ibunya berasal dari Manado, sedangkan ayahnya berasal dari Deli, Sumatera Utara. Keduanya menyelesaikan pendidikan di Belanda, lalu melahirkan Rili dan kakaknya di Negeri Tulip tersebut.
Rili Djohani, Direktur Eksekutif CTC.
Rili Djohani, Direktur Eksekutif CTC. (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)
Namun, terumbu karang seperti memanggil Rili untuk kembali ke Ibu Pertiwi. Film dokumenter buatan Jacques Cousteau, oseanografer asal Perancis dan penemu teknologi aqua-lung, membuat Rili penasaran pada dunia bawah laut. Ia kemudian menyelami Laut Utara, Laut Mediterania, dan Laut Karibia. Hingga akhirnya ia jatuh cinta pada kekayaan laut Indonesia saat pertama kali diving di Kepulauan Seribu pada 1989.
ADVERTISEMENT
“Saat itu usia saya masih 24 tahun. Di sanalah pertama kali saya lihat penyu sisik. Saya kan orang biologi, suka sekali lihat binatang, tumbuhan, keanekaragaman. Saat itu saya mikir ‘wah ini dunia lain’,” papar wanita yang juga mantan Country Director for Indonesia untuk The Nature Conservancy (TNC) itu.
Meskipun demikian, kekaguman atas kecantikan surgawi itu juga datang dengan keresahan. Ia sadar bahwa banyak ancaman yang membahayakan terumbu karang dan biota laut Indonesia. Mulai dari pemburuan ikan dengan bom dan obat kimia, hingga sampah plastik.
Rili lalu memutuskan untuk kembali dan mengabdi di Indonesia. Ia ingin membantu dengan apapun yang bisa dilakukan. Kemudian, Rili memulai karirnya di WWF Indonesia sebagai sukarelawan selama 6 bulan, hingga menjadi staf tetap.
ADVERTISEMENT
“Selama 6 bulan jadi volunteer di WWF Indonesia, saya bisa diving dari Sabang hingga Merauke. Saya diminta melakukan pendataan bawah laut. Meski tidak dibayar, saya senang bisa eksplorasi. Sekarang tempat-tempat yang saya ambil datanya dijadikan taman nasional,” tambahnya.
Rili Djohani, Direktur Eksekutif CTC.
Rili Djohani, Direktur Eksekutif CTC. (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)
Dari sana, Rili juga bertemu banyak penduduk lokal yang sangat tergantung pada laut, seperti Suku Bajo dan Bugis. Ia bahkan sering menumpang pada perahu nelayan dan diajak makan bersama. Menyaksikan langsung bagaimana mereka hidup di laut dan makan dari hasil laut, memunculkan perspektif baru baginya.
“Saya pikir kalau sumber ikan itu hilang pasti akan banyak orang kelaparan. Saya harus bantu melestarikan,” pungkasnya.
Suasana kantor pusat Coral Triangle Center, Bali.
Suasana kantor pusat Coral Triangle Center, Bali. (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)
Setelah berkontribusi lewat WWF Indonesia pada 1989-1993 dan lewat TNC pada 1995-2009, ia kemudian mendirikan Coral Triangle Center pada 2010, organisasi konservasi laut yang fokus pendekatannya lewat pemberdayaan penduduk lokal. Menurutnya, partisipasi warga setempat merupakan penggerak utama yang dibutuhkan dalam misi penyelamatan terumbu karang.
ADVERTISEMENT
“Tanpa keterlibatan dan dukungan dari orang lokal akan susah sekali untuk melestarikan sumber daya laut. Sebab, mereka yang bergantung dan tinggal di sana,” tutur wanita alumni University of Leiden, Belanda, itu.
Rili Djohani, Direktur Eksekutif CTC.
Rili Djohani, Direktur Eksekutif CTC. (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)
Terhitung sejak 1989, sepak terjang Rili di dunia konservasi laut Indonesia sudah berjalan 28 tahun. Di sela-sela kesibukannya, Rili kadang menyempatkan diri untuk diving di Nusa Penida, Kepulauan Banda, dan lain-lain. Laut bagaikan rumah baginya.
“Saya kembali ke Indonesia karena kekayaan alamnya. Apalagi saya orang biologi laut. Itu seperti takdir bagi saya,” tutup Rili.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan