Satu Jam Naik Grab Andong di Yogyakarta, Bisa Kemana Saja?

Perusahaan ride hailing, Grab Indonesia, bekerja sama dengan Paguyuban Andong Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwisata Yogyakarta dan Dinas Perhubungan Yogyakarta resmi meluncurkan Grab Andong di Yogyakarta, pada Jumat (23/8). Dengan adanya layanan andong dalam aplikasi Grab, wisatawan kini bisa memesan andong secara online.
Sistemnya cukup unik sebab tarif yang dipatok tidak dihitung berdasarkan jarak rute perjalanan. Namun, tarif andong dibandrol per jam sehingga wisatawan bisa memesan andong untuk minimal satu jam dengan tarif Rp 150 ribu.
Setelah satu jam, maka penumpang akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 1.250 per menit. Satu kali trip, penumpang dibatasi hanya bisa memesan andong untuk maksimal tiga jam.
Transportasi ikonik asal Jogja ini juga hanya bisa dipesan di sepanjang jalan Maliboro. Ada enam shelter yang bisa jadi tempat penjemputan. Tak hanya sebagai tempat penjemputan, setelah jalan-jalan naik andong, penumpang juga akan diantar kembali ke Jalan Malioboro.
Untuk mengenali andong yang dipesan, caranya pun cukup mudah. Setiap andong yang terdaftar sebagai mitra Grab adalah andong yang memiliki surat izin operasional kendaraan tidak bermotor dari Pemerintah Provinsi DIY.
Sehingga di badan andong akan ada pelat kuning bertuliskan nomor andong, sama persis seperti nopol di kendaraan bermotor. Nomor itu yang akan muncul di aplikasi Grab sehingga penumpang bisa mengenali andongnya.
Nah, karena dibatasi minimal satu jam, wisatawan harus pintar-pintar mengatur waktu agar bisa berkeliling dengan puas menggunakan andong.
Lalu, destinasi wisata mana saja yang bisa dikunjungi dalam waktu satu jam naik andong? Ketua Paguyuban Andong DIY Purwanto mengatakan sejatinya kurun waktu satu jam sangat cukup bagi wisatawan yang mau jalan-jalan berkeliling Malioboro dan sekitarnya.
“Satu jam itu, wisatawan bisa jalan dari Malioboro, terus sampai Titik Nol, lurus lagi melewati Keraton, terus ke kanan ke Ngejaman Keraton, ke kanan lagi kembali lagi ke Malioboro,” ujar Purwanto kepada kumparan, Jumat (23/8).
Nah, saat andong melaju ke arah selatan dari Malioboro menuju ke Titik Nol Kilometer, ada banyak spot yang bisa kamu nikmati. Ada pusat perbelanjaan seperti Mal Malioboro dan Ramai Mal, ada pula toko-toko batik kondang seperti Terang Bulan, Danar Hadi hingga Batik Pangestu.
Lalu, kamu juga akan melewati pintu utama Pasar Beringharjo, salah satu pusat perekonomian terbesar di Yogyakarta. Di seberangnya, ada pula Batik Hamzah, pusat oleh-oleh dengan konsep unik yang ada di Yogyakarta.
Di sebelah selatan Beringharjo, kamu bisa melihat Benteng Vredeburg, yaitu bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda.
Di seberang Vredeburg, terdapat Gedung Agung, bangunan yang dulunya menjadi kediaman resmi residen Belanda. Namun, saat ibu kota dipindah ke Yogyakarta, Gedung Agung resmi menjadi istana kepresidenan.
Hingga saat ini jika presiden berkunjung ke Yogyakarta, Gedung Agung menjadi tempat singgah presiden dan para menteri.
Di sebelah selatan Vredeburg, tepatnya persis di luar pagar, kamu bisa melihat Monumen Serangan Umum 1 Maret. Monumen ini dibangun untuk memperingati serangan tentara Indonesia terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949. Dalam peperangan itu Kota Yogyakarta berhasil diduduki oleh TNI selama 6 jam.
Nah, monumen ini berada tepat di sudut sebuah persimpangan besar yang disebut Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Dari sini, ada dua bangunan bersejarah yang juga bisa dilihat kemegahannya yaitu Kantor Pos Besar dan Gedung Bank Indonesia.
Dari persimpangan ini, andong akan melaju terus ke arah selatan menuju alun-alun utara. Dari situ, andong akan melewati Keraton Yogyakarta dan Ngejaman Keraton. Kemudian andong akan kembali menuju ke arah utara melewati pusat oleh-oleh Kota Yogyakarta.
Sehingga kamu pun bisa mampir sebentar untuk membeli oleh-oleh seperti kaos khas Jogja hingga makanan ikonik yaitu bakpia.
“Bila sambil beli oleh-oleh, di sana ada kerajinan kaos dan bakpia, terus nanti kembali lagi ke Malioboro. Itu cukup satu jam,” jelas Purwanto.
Naik andong sejatinya akan memberikan pengalaman yang berbeda kepada wisatawan. Kereta kuda ini jalannya memang lamban. Namun, justru hal ini yang jadi ciri khas transportasi asal Kota Gudeg ini. Jalannya yang lamban juga akan memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menikmati suasana Kota Yogyakarta.
Untuk perjalanan yang lebih nyaman, andong disarankan hanya diisi oleh empat penumpang. “Kalau mau nyaman, isinya empat penumpang. Tapi bisa juga diisi sampai enam penumpang,” ujarnya.
Bahkan untuk sensasi pengalaman yang berbeda, kamu juga bisa meminta duduk di kursi depan, persis di samping kusir. Andong-andong wisata ini juga telah didesain sedemikian rupa sehingga tampilannya lebih bersih dan cantik, lengkap dengan tempat duduk yang empuk seperti sofa. So, jangan lupa naik andong kalau berkunjung ke Yogyakarta, ya!
