4 Hal Seputar Kanker Payudara dan Pengobatannya

8 September 2019 18:14
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi kanker payudara. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kanker payudara. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Kanker payudara masih perlu terus menjadi perhatian di Indonesia. Sebab, menurut catatan Departemen Kesehatan RI pada 2019, penyakit ini masih menjadi kanker dengan angka kejadian tertinggi pada perempuan Indonesia.
ADVERTISEMENT
Kita tentu perlu mengetahui lebih banyak mengenai penyakit ini. Selain memahami bahwa kita perlu melakukan pengecekan secara berkala, penting pula untuk mengetahui beberapa hal lain seputar kanker payudara dan pengobatannya.
Misalnya, dengan memperhatikan beberapa hal yang diutarakan oleh spesialis hematologi onkologi medik, Dr. dr. Andhika Rachman, SPpD-KHOM. Baru-baru ini, dokter yang telah lama mendalami mengenai kanker payudara itu mengutarakan beberapa fakta yang bisa kita perhatikan mengenai penyakit tersebut.
Selengkapnya, berikut kumparanWOMAN sajikan rangkumannya.
1. Mengenai pengobatan herbal
Ilustrasi obat herbal. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat herbal. Foto: Shutterstock
Menurut dr. Andhika, dunia kedokteran sebenarnya tidak mengharamkan terapi menggunakan obat-obatan herbal. Namun, yang perlu diperhatikan adalah mengenai dosis dari obat herbal tersebut. Sebab, kandungan dalam obat herbal bisa jadi belum ditakar dosisnya.
ADVERTISEMENT
Misalnya, penggunaan obat herbal mahkota dewa. dr. Andhika mengatakan, bila seseorang mengonsumsi obat ini setelah kemoterapi, maka efeknya seperti dua kali melakukan perawatan kemoterapi.
"Apa akibatnya? Hancur badannya," ujar dr. Andhika dalam sesi konferensi pers bertajuk 'Harapan Baru bagi Pasien Kanker Payudara HER2 Positif - Better Chance for More Life' di kawasan Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
2. Tak boleh hamil terlebih dahulu
Alat Uji Kehamilan atau Testpack dengan Hasil Negatif Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Alat Uji Kehamilan atau Testpack dengan Hasil Negatif Foto: Shutterstock
Menurut dr. Andhika, pasien yang sudah selesai menjalani kemoterapi boleh melakukan kontak fisik dengan pasangan. Namun, syaratnya adalah tidak boleh hamil terlebih dahulu. Apalagi, bila yang menjalani kemoterapi adalah perempuan.
"Karena, kondisi sel-selnya sedang rusak. Bila dia berhubungan badan dan hamil, itu terus terang (akan menjadi) rusak," ungkap dokter yang membuka praktik di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) tersebut.
ADVERTISEMENT
3. Kanker bisa terjadi karena genotipe atau fenotipe
Ilustrasi kanker Foto: THINKSTOCK
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kanker Foto: THINKSTOCK
Pada dasarnya, kanker bisa disebabkan oleh faktor genotipe (genetik) atau fenotipe (lingkungan). Ini menjelaskan mengapa ada orang yang gaya hidupnya tidak sehat, namun tetap terbebas dari kanker dan begitu pula sebaliknya.
Namun, dr. Andhika menuturkan, masalah terjadi karena tidak semua orang melakukan pengecekan, apakah mereka memiliki gen kanker atau tidak.
"Bila ibunya terkena, kita perlu melakukan pengecekan, apakah ibu ini akan menurunkan gen tersebut atau tidak," ungkapnya.
4. Efek kanker payudara pada laki-laki jauh lebih parah
Logo Kanker Payudara Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Logo Kanker Payudara Foto: Pixabay
Kanker payudara seringkali dianggap sebagai penyakit yang hanya dialami perempuan. Namun, ini adalah pandangan yang salah. Laki-laki juga mungkin saja terjangkit penyakit tersebut.
dr. Andhika mengatakan, bila lelaki terkena penyakit ini, efeknya justru akan lebih parah. Sebab, kanker ini menyerang payudara dan pada laki-laki, organ tersebut tidak berkembang. Sehingga, kanker akan menyerang otot atau lemak secara langsung.
ADVERTISEMENT
"Jadi pergerakannya begitu cepat dan yang terdiagnosis kebanyakan sudah stadium lanjut," tutur dr. Andhika.