4 Tips Jitu Sehat Finansial Sejak Muda: Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
ยทwaktu baca 3 menit

Bisa sehat finansial sejak dini merupakan suatu pencapaian yang ingin diraih oleh banyak orang, terutama generasi milenial. Tujuannya agar di masa yang akan datang, generasi milenial bisa lebih mengerti bagaimana cara mengatur keuangan yang baik dan benar.
Terlebih di masa pandemi ini, banyak hal tak terduga sering terjadi sehingga membuat kamu harus siap mengeluarkan uang yang disebut dengan dana darurat. Misalnya, kamu berpotensi terkena dampak pengurangan karyawan hingga terpapar virus Covid-19. Artinya, kamu juga harus bisa memprediksi apa yang terjadi di masa depan sehingga bisa lebih siap secara finansial.
Oleh karena itu, memahami bagaimana caranya untuk sehat finansial sejak muda merupakan hal terpenting. Lantas, apa yang harus dilakukan oleh para generasi milenial? Berikut kumparanWOMAN telah merangkum beberapa tips untuk kamu.
Bedakan kebutuhan dan keinginan
Konsep tentang kebutuhan dan keinginan memang cukup sulit dimengerti. Pasalnya, tidak sedikit generasi milenial di era ini lebih memilih membeli barang yang diinginkan daripada barang yang dibutuhkan.
Hal tersebut juga diakui oleh investor muda sekaligus CO-Founder dari Sekolah Saham Indonesia, Dennis SLL. Ia mengungkapkan bahwa kebanyakan generasi milenial sering mengalami distraksi. Akibatnya, tidak jarang membelanjakan barang-barang yang justru bukan kebutuhan.
"Generasi milenial itu banyak banget distraksi. Buka handphone sedikit belanja. Kalau belanjanya reksa dana, tidak apa-apa. Tapi ini belanjanya barang-barang yang mungkin bukan kebutuhan tapi cuma keinginan semata," jelas Dennis dalam kelas virtual bersama Bank OCBC NISP yang mengangkat tema 'No Pain No Gain: Sehat Finansial Sejak Muda', Selasa (13/7) pukul 19.00 WIB.
Dennis juga memberi saran bagaimana cara generasi milenial untuk membedakan kebutuhan dan keinginan tersebut. Salah satunya dengan menerapkan metode Rules of 7 days, yang bisa membantu kamu melihat seberapa butuhnya barang tersebut untuk kamu beli.
"Caranya gampang, kita bisa pakai metode Rules of 7 days ya. Jadi gak apa-apa kita masukin dulu barangnya ke keranjang e-commerce, habis itu kita tahan selama 7 hari. Nanti di hari kedua dan seterusnya, kita lihat, kita masih memiliki keinginan gak? Atau gak, selama 7 hari itu, aktivitas kita terganggu gak kalau kita tidak memiliki barang tersebut?" ungkap Dennis.
"Kalau rutinitas kita sampai terganggu, artinya apa? Artinya kita beneran membutuhkan barangnya, yaudah kalau kayak gitu tinggal beli. Tapi kalau gak ada masalah selama 7 hari, biasanya keinginan untuk membeli berkurang jadinya sudah gak pengin beli," tambahnya kembali.
Pisahkan rekening kebutuhan dan tabungan
Memisahkan rekening kebutuhan dan tabungan mungkin akan dianggap sebagai hal yang cukup menyulitkan. Namun, kamu perlu tahu bahwa manfaat yang diberikan bisa memberikan pengaruh besar. Dennis sendiri mengungkapkan bahwa memisahkan rekening kebutuhan dan tabungan bisa membuat kamu menekan pengeluaran.
"Misalnya kamu punya uang Rp 500 ribu, uang itu kamu taruh di dompet. Sementara saya juga punya uang Rp 500 ribu, tapi Rp 400 ribu saya taruh di brankas rumah, ibaratnya. Habis itu kita pergi. Kamu bawa Rp 500 ribu, saya bawa Rp 100 ribu, itu sudah pasti kamu bakal spend uang lebih banyak dibandingkan saya. Karena yang saya bawa lebih sedikit," jelas Dennis.
Maka itu, untuk menahan nafsu tersebut agar generasi milenial bisa tetap konsisten menabung adalah memisahkan tempat penyimpanannya. Dengan begitu, kamu bisa menjaga finansial jadi lebih baik dan sehat dari sebelumnya.
Terapkan metode 50 30 20
Salah satu cara untuk bisa bisa sehat finansial sejak muda adalah menerapkan metode 50 30 20. Dennis sendiri menyarankan metode ini agar generasi milenial tetap bisa membagi keuangannya ke beberapa bagian, misalnya untuk kebutuhan, investasi, dan lainnya.
Dennis sendiri sudah menerapkan metode ini ketika ia berkuliah dan belum mendapatkan gaji yang tetap. Namun, ia selalu bertekad, ketika mendapatkan uang misalnya Rp 500 ribu, otomatis ia akan mengambil 20% dari uang tersebut untuk berinvestasi atau menabung. Sedangkan 50% untuk kebutuhan dan 30% lainnya untuk keinginan.
Dengan menerapkan metode ini, kamu bisa tetap mengontrol keuangan yang akan dikeluarkan untuk kebutuhan dan keinginan. Tapi tetap bisa menyisihkan sedikit untuk menabung atau berinvestasi.
Bagaimana menurut kamu? Tertarik untuk mencoba?
Penulis: Johanna Aprillia
