Abu Vulkanik Bisa Ganggu Kulit, Ini Cara Merawatnya Setelah Terpapar

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung menyebabkan sebaran abu vulkanik mencapai sejumlah wilayah. Pada Minggu (6/9), BMKG mendeteksi dua klaster sebaran abu yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.
Paparan abu vulkanik selama ini lebih banyak dikaitkan dengan gangguan pernapasan dan iritasi mata. Namun, kulit juga dapat terdampak ketika bersentuhan langsung dengan abu.
Sifat abu vulkanik yang abrasif dapat membuat kulit terasa tidak nyaman, terutama ketika partikel yang menempel kemudian digosok. Pada sebagian abu vulkanik, keberadaan senyawa asam di permukaan juga dapat meningkatkan risiko iritasi.
Risiko iritasi dapat semakin tinggi ketika seseorang terpapar abu dalam konsentrasi tinggi atau dalam waktu lama. Kondisi kulit yang sedang sensitif atau mengalami gangguan juga dapat membuat keluhan terasa lebih mengganggu.
Dokter spesialis dermatologi, venerologi, dan estetika, dr. Anesia Tania, Sp.DVE, FINSDV pun mengingatkan agar menghindari menggosok partikel kering yang masih menempel pada permukaan kulit agar tak terjadi iritasi.
“Karena abu bersifat abrasif, prinsip terpenting justru menghindari menggosok partikel kering di permukaan kulit,” ujar dr. Anesia.
Jika abu terlihat cukup banyak menempel di wajah, bilas terlebih dahulu dengan air agar sebagian besar partikel terangkat tanpa banyak gesekan. Setelah itu, gunakan gentle facial cleanser dengan air suam-suam kuku.
Hindari penggunaan facial scrub, cleansing brush, kapas yang digosok kuat, atau exfoliating cleanser hanya karena wajah terasa lebih kotor dari biasanya. Setelah mencuci wajah, keringkan dengan cara menepuk-nepuknya secara perlahan, kemudian lanjutkan dengan moisturizer.
Perlukah Double Cleansing?
Tidak semua orang perlu melakukan double cleansing setelah terpapar abu vulkanik. Namun menurut dr. Anesia, metode tersebut tetap dapat dilakukan jika seseorang menggunakan makeup berat atau sunscreen water-resistant.
“Double cleansing boleh dilakukan kalau memang menggunakan makeup berat atau sunscreen yang water-resistant. Tetapi kalau hanya terkena abu dan tidak memakai makeup berat, gentle cleanser satu kali biasanya sudah cukup,” kata dr. Anesia.
Membersihkan wajah berkali-kali justru dapat menambah iritasi, terutama pada kulit sensitif atau yang mengalami eczema.
Pilih Skincare Tanpa Bahan Aktif
Paparan abu vulkanik tidak otomatis membuat seluruh rutinitas skincare harus dihentikan. Jika kulit masih terasa nyaman dan tidak menunjukkan tanda iritasi seperti kemerahan, perih, kering berlebihan, atau terasa tertarik, rutinitas yang biasa digunakan masih dapat dilanjutkan.
Namun, jika kulit mulai terasa burning, tightness, kemerahan, atau bersisik, rutinitas skincare sebaiknya dibuat lebih sederhana untuk sementara.
“Kalau paparan cukup berat atau sudah muncul keluhan burning, tightness, erythema, atau scaling, sebaiknya menyederhanakan skin care sementara menjadi gentle cleanser, moisturizer, dan sunscreen,” ujar dr. Anesia.
Moisturizer yang mengandung humektan maupun bahan yang mendukung skin barrier dapat digunakan. Sementara itu, sejumlah active ingredients yang berpotensi menambah iritasi, seperti retinoid, AHA/BHA, scrub, benzoyl peroxide, atau vitamin C dengan formulasi sangat asam, dapat dikurangi atau dihentikan sementara jika kulit mulai sensitif.
Menurut dr. Anesia, prinsipnya, tidak perlu menambah banyak produk baru ketika kulit sedang menghadapi kondisi lingkungan yang tidak biasa. Rutinitas yang lebih sederhana juga membuat perubahan kondisi kulit lebih mudah dipantau.
Makeup Masih Boleh, tetapi Jangan Bereksperimen
Tidak ada bukti klinis bahwa makeup secara khusus membuat abu vulkanik menjadi lebih berbahaya bagi kulit. “Tidak ada bukti klinis bahwa makeup secara khusus ‘menarik’ volcanic ash atau membuat abu otomatis menjadi lebih berbahaya bagi kulit,” jelas dr. Anesia.
Yang perlu diperhatikan adalah kombinasi makeup, sebum, keringat, masker, dan partikel lingkungan yang kemudian dibersihkan secara agresif. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan iritasi atau memicu breakout pada orang yang memang rentan.
Makeup juga masih boleh digunakan jika memang diperlukan, tetapi sebaiknya pilih produk yang sudah cocok dengan kulit dan pertimbangkan riasan yang lebih ringan. Hindari mencoba banyak produk baru selama kondisi udara masih dipenuhi abu.
Untuk perempuan dengan eczema yang sedang flare atau kulit yang sudah merah dan perih, kosmetik yang tidak diperlukan sebaiknya dihentikan sementara sampai kondisi kulit membaik. Dan jangan lupa tetap gunakan sunscreen, ya.
Rambut dan Kulit Kepala Juga Perlu Dibersihkan
Abu vulkanik tidak hanya dapat menempel pada wajah dan kulit tubuh, tetapi juga rambut serta kulit kepala. Meski bukti klinis khusus mengenai dampak abu vulkanik terhadap penyakit kulit kepala masih terbatas, partikel yang bersifat abrasif sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk atau digosok pada kulit kepala.
“Setelah pulang dari aktivitas outdoor dengan paparan cukup banyak, hindari menggaruk scalp yang masih penuh abu. Bilas rambut terlebih dahulu dengan air, kemudian keramas menggunakan shampoo biasa yang gentle,” kata dr. Anesia.
Setelah keramas, pastikan seluruh abu terbilas. Conditioner dapat digunakan pada batang rambut jika terasa kasar atau kering. Tidak perlu menggunakan clarifying shampoo berulang kali hanya untuk melakukan “detoks abu”. Pembersihan yang terlalu agresif justru berpotensi membuat kulit kepala semakin tidak nyaman.
