Kumparan Logo

Aktifkan Mode Privasi di Media Sosial, Apakah Perlu?

kumparanWOMANverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi media sosial  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi media sosial Foto: Shutterstock

Ladies, dalam sehari seberapa sering kamu mengunggah foto atau video di media sosial?

Platform tersebut memang memberikan kemudahan bagi setiap orang yang ingin membagikan ataupun sekadar mencari informasi. Setiap pengguna bebas untuk berekspresi dengan cara apa pun, entah sekadar mengungkapkan pendapat, mengkritik suatu isu, dan masih banyak lagi.

Namun tak jarang, pengguna media sosial membagikan informasi yang cukup detail di platform medsos terutama terkait informasi pribadi, misalnya nomor telepon, e-mail, lokasi saat ini, dan masih banyak lagi. Hal ini ternyata menimbulkan risiko yang berbahaya. Karena informasi-informasi tersebut bisa saja disalahgunakan oleh orang lain sehingga saat ini sejumlah media sosial menyediakan pilihan pengaturan privasi untuk para pengguna.

Salah satu aplikasi yang sudah menerapkannya adalah Instagram. Media sosial untuk berbagi foto dan video ini memberikan pilihan privasi akun pada pengaturan aplikasinya. Dengan demikian hanya orang yang mengikutimu saja yang bisa mendapat akses terhadap aktivitasmu di Instagram. Tentu saja, fitur ini bisa kamu manfaatkan untuk melindungi diri agar terhindar dari berbagai kejahatan di platform online. Namun fitur ini tetap kembali lagi menjadi sebuah pilihan saja. Ada yang memilih membuat akunnya jadi privat, ada juga yang tidak.

Melansir dari situs Panda Security, berikut ini terdapat beberapa alasan lainnya mengapa kamu harus mengaktifkan fitur privasi di akun media sosial.

1.Menghindari cyberstalking

Ilustrasi menggunakan sosial media. Foto: Shutter Stock

Pernahkah kamu mendengar tentang cyberstalking? Cyberstalking merupakan aktivitas menguntit yang dilakukan seseorang dengan memanfaatkan internet atau teknologi lainnya. Saat ini pengguna media sosial sudah semakin bertambah sehingga informasi yang beredar pun semakin banyak.

Pada Januari 2020 dalam laporan Digital 2020 Global Review yang dipublikasi oleh We Are Social, disebutkan kalau saat ini sudah lebih dari 4,5 miliar orang menggunakan internet dan pengguna media sosial sudah melampaui 3,8 miliar. Dari data tersebut disimpulkan bahwa hampir 60 persen populasi dunia sudah beraktivitas secara online dan jumlahnya akan terus bertambah. Penambahan jumlah pengguna ini tidak menutup kemungkinan akan berdampak pula pada maraknya aktivitas cyberstalking.

Cukup banyak orang yang mengalami cyberstalking akibat terlalu mudah membagikan informasi di media sosial, bahkan hal-hal tertentu yang seharusnya tidak diketahui oleh orang lain. Untuk menghindari penyalahgunaan informasi, mengaktifkan mode privasi bisa kamu lakukan agar lebih aman dalam bermedia sosial.

2. Cegah terjadinya penipuan identitas

Ilustrasi Dating Online Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Di era digital ini, memalsukan identitas bisa dilakukan dengan sangat mudah, terutama bila seseorang dengan gampang membagikan informasi penting tentang diri sendiri.

Dikutip dari survei yang dipublikasi di Statista, jumlah pengguna jejaring sosial di Indonesia diperkirakan akan mencapai 256,1 juta di tahun 2025 mendatang. Artinya sudah cukup banyak informasi dari pengguna asal Indonesia yang bisa kamu temukan secara online, itu pun belum termasuk informasi dari akun yang berasal dari luar negeri.

Untuk menghindarkan identitasmu disalahgunakan oleh orang lain, ada baiknya bila kamu membatasi informasi yang dibagikan ke media sosial agar terhindar dari dampak negatif tersebut.

3. Melindungi diri dari aktivitas blackmailing

Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Shutter Stock

Blackmailing atau pemerasan kerap terjadi di media sosial. Orang memanfaatkan informasi yang kamu sebarkan dan kemudian dieksploitasi untuk kepentingan tertentu yang bisa merugikan dirimu sendiri.

Seorang pelaku blackmailing biasanya akan mengancam kamu dengan beragam informasi yang didapatkan dan berusaha menakut-nakuti dengan hal-hal yang bisa saja mempermalukanmu bila informasi tersebut disebarkan.

Mengutip dari Metro UK, ada beberapa hal yang bisa dilakukan bila kamu di-blackmail oleh seseorang. Usahakan untuk menyimpan setiap bukti blackmail yang ada, blok akun media sosial blackmailer, ganti password di setiap akun media sosialmu dan akun penting lainnya, serta carilah orang yang bisa membantu kamu keluar dari masalah tersebut.

4. Menjaga citra diri

Ilustrasi Perempuan Bermain Media Sosial Foto: Dok. Shutterstock

Media sosial bisa menjadi salah satu cara membangun personal branding agar semakin dikenal oleh orang banyak dan meningkatkan peluang kamu dalam pekerjaan. Namun di balik manfaat tersebut, media sosial bisa menjadi bumerang untukmu bila tidak menjaga perilaku bermedia sosial dengan baik.

Dikutip dari Business News Daily, media sosial bisa kamu jadikan tempat untuk mengunggah pencapaian, portofolio, dan aktivitas bermanfaat lainnya agar dilirik oleh rekruter. Namun, sebuah kesalahan nyatanya bisa merusak reputasi kamu dan menghilangkan peluang pekerjaan.

Dalam survei yang dipublikasi di Career Builder pada 2017 disebutkan sebanyak 70 persen rekruter biasanya menyaring calon karyawannya berdasarkan aktivitas di media sosial, serta informasi yang didapatkan melalui mesin pencari. Setiap informasi yang disebarkan akan menjadi jejak digital yang bisa diakses orang sewaktu-waktu dan merugikan dirimu sendiri sehingga penting untuk menjaga privasi dalam bermedia sosial.

Penulis: Adinda Cindy Lapod

----

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

embed from external kumparan