Kumparan Logo

Bicara Terbuka soal Menstruasi Bisa Ciptakan Lingkungan yang Lebih Setara Gender

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
embed from external kumparan

Tak bisa dipungkiri, di era modern seperti sekarang ini masih banyak perempuan yang belum berani bicara soal menstruasi secara terbuka. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari adanya tabu, stigma, mitos, hingga budaya yang sudah dipercaya sejak dulu.

Padahal, menstruasi adalah hal alami yang terjadi pada perempuan di usia subur. Kondisi ini wajar dialami sama seperti menyusui, hamil, dan melahirkan, sehingga tidak perlu malu untuk dibicarakan. Jadi harusnya perempuan tidak segan membicarakan soal siklus bulanan ini.

Ilustrasi menstruasi. Foto: Shutter Stock

Nicole Jizhar, Co-Founder platform Nona Woman, meyakini bahwa perempuan harus sadar kalau menstruasi adalah hal normal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, mereka tak akan segan membicarakan soal topik ini.

Menstruasi itu sama normalnya dengan makan, napas, dan ini adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Jadi penting bagi kita para perempuan untuk percaya diri dan sadar karena ini akan berujung pada ke kesetaraan gender,” jelas Nicole Jizhar dalam program Ladies Talk kumparanWOMAN.

Mengapa demikian? Dengan adanya ketimpangan menstruasi dan kurangnya edukasi soal hal ini, mereka tidak akan tahu kondisi kesehatan tubuhnya sendiri. Bisa jadi, mereka tidak tahu kalau sebenarnya sedang mengalami Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) atau ada masalah lain dengan siklus bulanannya.

“Karena ketidaktahuan ini, kemungkinan mereka melewatkan sekolah, kerja, dan kegiatan lainnya akan jadi makin besar. So how we can achieve gender equality kalau kita tidak sadar dengan kondisi diri sendiri,” pungkas Nicole.

Ilustrasi menstruasi. Foto: Julia Lazebnaya/Shutterstock

Jadi di era modern seperti sekarang, penting sekali bagi kita untuk memecahkan stigma ini dan membahas tentang topik menstruasi secara terbuka. Andrea juga menambahkan, topik ini tidak hanya perlu dinormalisasi untuk sesama perempuan, tapi juga laki-laki.

“Supaya para laki-laki dan yang lainnya tidak lagi menganggap perempuan berlebihan saat kesakitan karena menstruasi hingga tidak bisa bekerja. Mereka perlu tahu kalau sebagian perempuan memang mengalami kram parah dan itu sebenarnya bukan hal yang baik-baik saja dan justru perlu dibicarakan,” ungkap Andrea.