Bincang Karier: drg. Ratu Mirah, Head of Professional Marketing PC Unilever
·waktu baca 8 menit

Dokter merupakan salah satu profesi yang menjadi incaran banyak orang. Pasalnya dari segi strata sosial, profesi dokter dianggap terpandang oleh sebagian orang dan dokter juga diketahui memiliki penghasilan yang menjanjikan
Namun, tidak semua orang memutuskan untuk menjadi dokter hanya karena materi semata. Ada juga yang ingin memberikan manfaat karena bisa membantu orang lain. Salah satunya adalah drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc.
Perempuan yang akrab disapa Dokmir itu merupakan alumni dari Universitas Padjajaran. Ia kemudian melanjutkan postgraduate di Clinical Dentistry University of Queensland di Brisbane. Setelah itu, ia juga melanjutkan studinya sebagai Master of Dental Science di Community Oral Health and Epidemiology di University of Sydney.
Saat ini, Mirah menjabat sebagai Head of Professional Marketing Personal Care di salah satu perusahaan Fast Moving Consumer Good atau FMCC kenamaan, yakni Unilever Indonesia. Ia sudah bergabung dengan Unilever sejak tahun 2008.
Sebelum bergabung dengan Unilever, rupanya Mirah pernah menjadi dosen karena memang background keluarganya dari kalangan pendidik. Ia pun sempat merasa bimbang apakah lanjut menjadi dosen atau mencoba peruntungan dengan bekerja sebagai staf korporat. Dan kecintaannya terhadap public health membuat Mirah akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Unilever dengan tujuan membagikan ilmunya kepada masyarakat.
Saat ini Mirah sudah bekerja selama 14 tahun di perusahaan korporasi kenamaan dunia itu. Bagaimana cerita Mirah membangun karier dari latar belakang kedokteran gigi dan bisa sukses menjadi leader di perusahaan multinasional? Simak kisahnya berikut ini.
Bisa ceritakan sedikit tentang background dokter Mirah? Apakah sedari awal memang sudah tertarik terjun ke dunia kesehatan mulut?
M: Dulu sebenarnya saya mau jadi guru matematika. Tapi, mungkin memang jalannya menjadi dokter gigi kali ya, sesuai arahan dari orang tua. Meskipun ini arahan orang tua, tapi ketika saya memutuskan untuk terjun menjadi dokter gigi, saya harus komit dan tidak asal dan cuma ngikutin saja. Makanya saya lanjut sekolah lagi, terus udahlah langsung tercebur ibaratnya.
Bagaimana akhirnya memutuskan menjadi pekerja korporat dengan latar belakang sebagai dokter gigi?
M: Karena memang ambil Public Health, inginnya bekerja yang bisa punya purpose lebih ke masyarakat. Saat pulang ke Indonesia, setelah melanjutkan studi di Australia saya agak galau juga karena sebelumnya sempat jadi dosen. Apakah saya mau tetap jadi dosen atau coba ke korporat di Unilever. Soalnya brand Pepsodent program-programnya fokus ke masyarakat banget. Terus aku juga ingat ayahku almarhum bilang kalau jadi dokter gigi itu harus imbang juga ke masyarakat.
Saya sampai konsultasi juga sama dosen di Australia yang passionnya juga public health. Dia bilang, 'Mirah kalau saya jadi kamu, saya prefer sesuai dengan passion. Kamu kan passionnya lebih ke masyarakat, backgroundnya juga ambil oral health, saya yakin kalau kamu bekerja di perusahaan yang punya purpose jelas, itu bisa tersalurkan dan kamu bisa create program-program yang bisa bermanfaat bagi banyak orang. Jadi dokter gigi bermanfaat, tapi pasti kamu hanya di dental clinic kamu, tapi kalau kamu bekerja di perusahaan yang punya purpose kamu akan membantu banyak'.
Kemudian saya berpikir iya juga ya. Akhirnya saya follow advise beliau dan alhamdulillah pas banget Unilever lagi membutuhkan dokter gigi dan program-programnya lagi mau difokuskan agar lebih bermanfaat lagi.
Bagaimana perjalanan karier dokter Mirah hingga akhirnya bisa menjabat sebagai Head of Professional Marketing Personal Care Unilever Indonesia di Unilever Indonesia?
M: Saya bergabung di Unilever tahun 2008, jadi total sudah 14 tahun. Kalau dulu saya memang sudah di bagian professional marketing ya, tapi hanya fokus di oral care saja. Awal bergabung, saya bekerja untuk mengembangkan program-program yang sudah ada. Misalnya dulu programnya mungkin masih kepada masyarakat, tapi lama-lama ada juga program untuk dokter gigi, kemudian juga orang tua.
Kemudian saya sempat bekerja ke Unilever Indonesia Foundation (UIF) selama lima tahun. Di situ ada pengalaman yang memperkaya juga, jadi bukan cuma oral care saja, tapi terintegrasi semua yang berhubungan dengan kesehatan dan well being. Kemudian baru akhirnya balik lagi ke professional marketing pada Januari 2022.
Menjabat sebagai Head of Professional Marketing Personal Care Unilever Indonesia, hal apa saja yang menjadi tanggung jawab dokter Mirah?
M: Fokusnya professional marketing tapi lebih mengembangkan program-program yang lebih deep dengan stakeholder yang lebih beragam. Saat ini Unilever bertujuan untuk mengembangkan professional marketing di bagian personal care. Jadi meskipun target bisnisnya harus growth terus, di sisi lain manfaat ke masyarakatnya juga harus lebih banyak. Dampak sosial dan juga lingkungan itu harus berimbang, sama meningkatnya. Apalagi setelah pandemi kemajuan teknologi jadi kayak berkembang banget.
Bagaimana pengalaman bekerja di perusahaan multinasional seperti Unilever? Apa benefit yang Anda rasakan untuk kehidupan profesional dan apa tantangannya?
M: Unilever itu perusahaan yang asyik untuk bekerja. Apalagi ketika kita bekerja di company yang purposenya sama. Kesempatan untuk pengembangan diri itu sangat besar di Unilever karena sangat inklusif dan diverse, tidak memandang gender. Terlebih, saya memiliki tujuan yang sama dengan Unilever, yakni meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat, jadi pas banget sama passionku, jadi itu sih benefitnya.
Sementara tantangannya kalau di awal-awal sih pasti karena datang dari dunia pendidikan, ada jet lag sedikit untuk masuk ke dunia korporat. Gimana caranya kita selalu berusaha mengembangkan program dan berdampak bagi masyarakat. Jadi harus selalu mencari insight terus juga bekerja sama dengan stakeholder agar betul-betul program bisa memberikan impact. Mungkin tidak bisa diukur sekarang, tapi bisa diukur dua sampai tiga tahun setelah program berjalan. Cuma kadang-kadang ada rasa pengen cepet-cepet.
Menurut Anda, seberapa penting passion untuk bekerja?
M: Menurut saya penting banget. Contohnya pada profesi dokter gigi, biasanya akan mengalami beberapa kendala saat ingin membuat program yang berguna dan memberikan dampak perubahan perilaku masyarakat. Ketika bekerja dengan passion maka kendala dan tantangan akan lebih mudah dilalui.
Saya percaya juga kalau bekerja itu bukan cuma mencari nafkah, tapi juga untuk mengembangkan diri dan aktualisasi diri. Hal yang paling penting, kita bisa bermanfaat baik untuk company, lingkungan dan juga untuk keluarga.
Apakah Anda pernah merasa down atau stress selama bekerja walaupun pekerjaan saat ini sudah sesuai dengan passion?
M: Pasti adalah ya, kalau tidak kayaknya saya bohong banget. Tapi, balik lagi ke company-nya. Jadi ketika saya waktu itu merasa bosan, saya berusaha terbuka kepada perusahaan. Kemudian pihak perusahaan juga mendengar dan melihat secara kapabilitas dan pengalamanku jadi terbuka juga untuk melihat peluang lain.
Perusahaan multinasional apalagi di bidang FMCG dikenal dengan waktu kerja yang sangat demanding. Bagaimana dengan pengalaman Anda dan bagaimana cara menghadapinya?
M: Untungnya Unilever itu sangat fleksibel antara mental health, well being dan pekerjaan. Jadi, kita tuh bisa kerja dari mana saja, apalagi sekarang yang penting result atau target oriented. Memang harus pinter-pinter karena kita dikasih keleluasaan. Pastinya aku kerasa waktu dua tahun ke belakang pandemi ini kan stress level meningkat, tapi kita ada support untuk mental health yang disediakan perusahaan.
Kalau untuk keluarga pastinya support system harus jalan. Time management; kalau jadi ibu paling pagi bangunnya, jadi ngurus segala macam tapi jangan dianggap beban, fun saja gitu.
Aku punya ritual bangun subuh dan tidak tidur lagi. Jadi percaya aja kalau itu memang bagus untuk kesehatan, bagus juga untuk keluarga jadi tidak ada ruginya. Setelah itu baru ke kantor, dan untungnya kantor juga fleksibel banget. Even belum work from home itu, aku dulu tinggal di Bandung dan setiap Jumat dan Senin aku boleh kerja dari sana. Jadi sebelum WFH tren, Unilever jadi kayak pilot projectnya, para employe perempuan itu fleksibel yang penting targetnya tetap jalan dan achieve. Paling penting kita tetap tanggung jawab sudah dikasih kebebasan kayak gitu, dan paling penting support system dari keluarga.
Menurut dokter Mirah, kemampuan apa saja yang harus dimiliki perempuan jika ingin membangun karier hingga posisi leader di perusahaan multinasional seperti Unilever?
M: Untuk menjadi leader, pastinya komunikasi yang paling penting. Terus bagaimana caranya pemimpin bisa memberikan kesempatan kepada para rekan kerja untuk mengaktualisasikan diri dan tampil. Kemudian penting juga sebagai pemimpin bisa mendengar suara dari rekan kerja. Jadi memberikan kesempatan untuk rekan kerja agar bisa mengembangkan potensinya.
Kalau aku sih sebagai leader paling memegang prinsip akuntabilitas bahwa kepercayaan itu harus benar-benar dijaga. Segala macam fleksibilitas dan tanggung jawab jangan dijadikan beban, tapi menjadi ajang pembuktian. Sebagai pemimpin juga harus percaya dan lead by example kali ya. Kita juga harus punya persistensi bahwa kita punya target untuk harus mencapai tujuan.
Anda adalah Ibu dengan 4 orang anak, bagaimana Anda mengatur peran sebagai ibu sekaligus working woman dan bahkan seorang leader di perusahaan besar? Ada advise yang bisa Anda share untuk perempuan karier lainnya?
M: Yang pastinya harus balance ya. Memang kita pasti perlu support system yang baik. Kemudian kalau aku tetap family is number one, apa pun itu. Kita ingat lagi ada purpose untuk company kita, tapi kita ada purpose untuk keluarga kita. Kemudian dari segi tantangan, kita juga harus memperkuat dari segi religius untuk menguatkan diri.
Apa saja kunci sukses dalam berkarier versi dokter Mirah?
M: Yang pertama kita harus passionate, terus jangan stop belajar. Belajar kan tidak cuma secara akademis, tapi bisa belajar juga dengan banyak dimensinya. Terus jangan mudah menyerah, kalau aku percaya kalau sesuatu yang instan itu akan berakhir instan. Kita juga jangan lupa bersyukur dan tau limit, jangan terlalu ambisius. Kita juga sebagai perempuan jangan merasa jadi penghambat, perempuan bisa melakukan apapun.
