Demi Cinta, 3 Putri Jepang Ini Rela Lepas Gelar Kerajaan

7 Januari 2021 17:24 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Demi Cinta, 3 Putri Jepang Ini Rela Lepas Gelar Kerajaan. Foto: AFP, AFP PHOTO / POOL / Yoshikazu, TSUNOREUTERS/Shizuo Kambayashi/Pool
zoom-in-whitePerbesar
Demi Cinta, 3 Putri Jepang Ini Rela Lepas Gelar Kerajaan. Foto: AFP, AFP PHOTO / POOL / Yoshikazu, TSUNOREUTERS/Shizuo Kambayashi/Pool
ADVERTISEMENT
Setiap kerajaan di dunia tentu memiliki aturan yang berbeda-beda. Terutama dalam mengatur hubungan pernikahan para anggotanya.
ADVERTISEMENT
Jika Kerajaan Inggris memperbolehkan anggota keluarga kerajaan menikah dengan masyarakat biasa, kekaisaran Jepang punya aturan sebaliknya.
Setiap Putri Jepang yang menikah dengan selain anggota keluarga kerajaan harus menaati peraturan undang-Undang tahun 1947 di Jepang yang mewajibkan mereka untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya sekaligus meninggalkan Keluarga Kekaisaran.
Akibat dari peraturan tersebut, ada sejumlah putri kekaisaran Jepang yang terpaksa harus merelakan statusnya demi menikah dengan pria pilihan mereka. Para putri ini rela kehilangan hak istimewanya sebagai keluarga kerajaan, termasuk pemasukan dari negara demi cinta.
Lalu siapa saja mereka? Berikut kumparanWOMAN telah merangkumnya untuk Anda.

1. Putri Sayako atau Putri Nori

Putri Sayako atau yang lebih akrab disebut dengan Putri Nori (51) ini merupakan anak termuda dan anak perempuan satu-satunya dari mantan Kaisar Jepang Akihito dan Permaisuri Michiko.
Putri Sayako dari Jepang. Foto: AFP PHOTO/POOL/ISSEI KATO
Setelah lulus kuliah dari Gakushuin University pada 1992 dengan jurusan bahasa dan sastra Jepang, Sayako menjadi seorang peneliti di Yamashina Institute for Ornithology, sebuah institut yang fokus mempelajari burung di Jepang.
ADVERTISEMENT
Kemudian pada 2005, tepatnya saat Sayako berusia 36 tahun, ia menikah dengan kekasihnya Yoshiki Kuroda yang saat itu berusia 40 tahun. Yoshiki Kuroda ini merupakan orang biasa atau bukan berasal dari keluarga kerajaan. Yoshiki bekerja sebagai perancang kota untuk pemerintah Tokyo.
Putri Sayako dan Yoshiki Kuroda. Foto: AFP PHOTO/POOL/Kaku KURITA
Dilansir The Telegraph, Yoshiki merupakan teman dekat dari Fumihito, Pangeran Akishino, kakak dari Putri Nori. Sayako dan Yoshiki bertemu sejak keduanya masih kecil dan kuliah di kampus yang sama. Hubungan mereka berubah menjadi lebih serius ketika dewasa.
Tepat pada 15 November 2005, Sayako resmi menanggalkan gelar kebangsawanannya dan meninggalkan Keluarga Kekaisaran Jepang setelah menikah dengan Yoshiki Kuroda. Pesta pernikahan keduanya digelar dengan upacara Shinto di sebuah hotel di Tokyo.
ADVERTISEMENT
Setelah menikah dengan Yoshiki, Sayako berhenti bekerja sebagai ornitologis dan fokus menjadi ibu rumah tangga.

2. Putri Noriko atau Noriko Senge

Lahir pada 22 Juli 1998, Putri Noriko dari Takamado adalah anak perempuan kedua dari mendiang Pangeran Takamado, Norihito, sepupu dari mantan Kaisar Jepang Akihito. Setelah lulus sekolah, Putri Noriko kuliah di Universitas Gakushuin dengan jurusan psikologi dan lulus pada 2011.
Putri Noriko dari Jepang. Foto: AFP PHOTO / POOL / Yoshikazu TSUNO
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 5 Oktober 2014, Noriko menikah dengan Kunimaro Senge, anak tertua dari kepala pendeta kuil bersejarah, Izumo Taisha. Pernikahan tersebut dihadiri 300 tamu undangan, termasuk anggota keluarga kekaisaran dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.
Dilansir Japan Times, keduanya pertama kali bertemu pada 2007 saat Putri Noriko dan ibunya mengunjungi Izumo Taisha, kuil Shinto yang berada di kota Izumo, Prefektur Shimane. Setelah itu mereka menjadi sepasang kekasih.
Putri Noriko dan Kunimaro Senge. Foto: AFP PHOTO / JIJI PRESS
Kunimaro yang juga menjadi pendeta di kuil tersebut sering menemani Noriko dan menghabiskan waktu bersama untuk melihat burung dan menanam pohon. Di lokasi yang sama, Kunimaro menyatakan cinta pada Noriko.
ADVERTISEMENT
Sama dengan Putri Nori, setelah menikah Noriko juga harus meninggalkan gelarnya sebagai keluarga kerajaan. Kini ia sudah tidak menyandang gelar putri kerajaan dan namanya menjadi Noriko Senge.

3. Putri Mako

Putri Jepang selanjutnya yang rela kehilangan gelar kerajaan demi cinta adalah Putri Mako. Perempuan 29 tahun ini merupakan anak pertama dari Pangeran Akishino, anak dari mantan Kaisar Jepang Akihito.
Putri Mako dan Kei Komuro Foto: REUTERS/Shizuo Kambayashi/Pool
Putri Mako menjalin hubungan asmara dengan Kei Komuro sejak 2012. Pada pengumuman pertunangan pada September 2017 lalu, Mako bercerita bahwa hubungan mereka dimulai saat dia duduk di belakang Kei di sebuah pertemuan di Universitas Kristen Internasional Tokyo, tempat mereka menyelesaikan studi. Mako mengaku terpesona dengan senyuman Komuro.
"Pertama, saya tertarik dengan senyumnya yang cerah seperti matahari," kata Mako sambil tersenyum malu-malu, seperti dikutip dari Associated Press.
ADVERTISEMENT
Dalam kegiatan tersebut, keduanya banyak berbincang untuk pertama kalinya. Tak lama setelah itu, Mako dan Komuro menjalin hubungan resmi. Seiring berjalannya waktu, Mako menyadari bahwa ia jatuh cinta dengan Komuro bukan karena fisiknya saja.
Jumpa pers Putri Mako dan Kei Komuro Foto: REUTERS/Shizuo Kambayashi/Pool
"Dia (Komuro) adalah pekerja keras yang tulus, berpikiran kuat, dan dia memiliki hati yang besar," pungkas Putri Mako.
Pasangan yang kini sudah menjalin hubungan selama 8 tahun itu sempat menjalin hubungan jarak jauh selama satu tahun saat Mako harus kuliah di Inggris dan Komuro di Amerika Serikat.
Merasa tak terpisahkan oleh jarak dan waktu, Komuro pun kemudian memutuskan melamar Putri Mako saat sedang makan malam bersama pada Desember 2013. Setelah lamaran itu, Putri Mako mengenalkan Komuro pada orang tuanya, Pangeran Akishino, yang berada di urutan kedua dalam tahta Krisan, dan ibunya, Putri Kiko.
Putri Mako dan Kei Komura Foto: REUTERS/Shizuo Kambayashi/Pool
Komuro sendiri yang tidak berasal dari keluarga kerajaan atau bangsawan merasa beruntung telah diterima baik oleh keluarga kekaisaran Jepang. Ia pun mengaku ingin memiliki rumah tangga yang hangat dan penuh kebahagiaan dengan Putri Mako.
ADVERTISEMENT
Meski hingga kini pernikahan keduanya masih ditunda, namun Putri Mako sudah menyadari konsekuensinya bahwa sesudah menikahi Komuro yang bekerja di sebuah firma hukum, perempuan 29 tahun itu akan kehilangan hak istimewanya sebagai keluarga kerajaan, termasuk pemasukan dari negara.