Kumparan Logo

Energi Sinema dan Seni dalam Koleksi Dior Cruise 2027

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Energi Sinema dan Seni dalam Koleksi Dior Cruise 2027. Foto: Dior/Maddy Rotman
zoom-in-whitePerbesar
Energi Sinema dan Seni dalam Koleksi Dior Cruise 2027. Foto: Dior/Maddy Rotman

“No Dior, no Dietrich”. Kalimat terkenal dari aktris legendaris Marlene Dietrich, yang berawal dari tuntutannya kepada sutradara Alfred Hitchcock agar seluruh kostumnya untuk film 'Stage Fright' didesain oleh Christian Dior. Ia beralasan, karakternya yang glamor akan tervalidasi dalam balutan karya monsieur Dior. Kabarnya, seusai syuting, seluruh kostum karya Christian Dior masuk ke dalam lemari pribadi Dietrich.

Relasi Dior dan Hollywood itu kini dirayakan ulang oleh direktur kreatif Jonathan Anderson untuk koleksi Cruise 2027. Ia menetapkan Los Angeles sebagai lokasi presentasi, tepatnya di LACMA (Los Angeles County Museum of Art). ‘Alfred Hitchcock Core’ hadir lewat dekorasi dan tata cahaya ruang acara.

Lokasi presentasi Dior Cruise 2027 di LACMA (Los Angeles County Museum of Art). Foto: Dior

Mobil-mobil antik dengan para perempuan di belakang kemudi ditempatkan di antara para tamu, pencahayaan diatur kelam, serta bayangan hitam para peraga yang dibesarkan dan dipantulkan di atas tembok gigantik ruang.

Busana yang pertama kali keluar adalah sehelai gaun maksi berwarna kuning. Bergaya drop waist, di mana garis pinggang dijatuhkan ke pinggul bawah. Lipit-lipit menjadi bintang utama, baik di bagian atas maupun bagian bawah, dibatasi oleh si garis pinggul yang diberi aplikasi bunga besar-besar di sekelilingnya. Bersama langkah si model, siluet longgar, barisan lipit dan aksen bunga besar bergerak bersama, dramatis.

Pleated drop-waist dress Dior. Foto: Dior

Gaun maksi kuning si pembuka peragaan, kemudian ditampilkan dalam warna ungu serta hitam putih. Dramatisnya gerak tiga gaun ini, sejajar diimbangi oleh drama-drama yang dibawa oleh barisan busana dan tata gaya yang datang berikutnya.

Tekstur bahan tiga dimensi serupa bunga-bunga kuncup, rumbai-rumbai, cabikan dan bentuk spiral bergantian menjajah perhatian. Juntaian syal berupa paduan rajut, serta roncean bahan melilit dan tersampir dari leher.

Koleksi Dior Cruise 2027. Foto: Dior

Karya legendaris monsieur Dior, The Bar Jacket, direka ulang ke dalam beberapa koleksi. Konsep konstruksi masih serupa. Tegas ramping di pinggang, mekar di pinggul. Namun kali ini, bahan ringan melayang bermotif kotak-kotak berlaku semacam pelapis si jaket.

Bahan tersebut dibiarkan panjang hingga mata kaki, melampaui panjang jaket yang berhenti di ujung pinggul. Ada pula yang dijadikan lebih panjang, diberi aksen cabikan pada tepi jaket dan ujung lengan. Klasik dan modern, mewah tapi subtil.

The Bar Jacket, karya ikonis dari Christian Dior kembali ditampilkan dalam Dior Cruise 2027 dengan modifikasi terbaru. Foto: Dior

Karya klasik lain, tas Lady Dior, dicipta kecil dalam balutan materi kotak-kotak. Bila modernitas yang dituju oleh Anderson untuk si Lady Dior, ia berhasil sampai. Bersama Lady Dior, hadir tas-tas yang menarik untuk ditilik berkat ukurannya yang lumayan besar dan berstruktur lunak. Baik untuk perempuan yang bekerja di luar atau di dalam rumah, tas-tas lunak besar itu bisa jadi teman tangguh untuk hari-hari yang selalu sibuk.

Sentuhan seni tak hanya datang dari industri film di koleksi ini. Dua seniman ternama Edward Ruscha dan Philip Treacy, berbagi kreasi pula. Ruscha, seorang pelukis dan fotografer beraliran pop art yang mayoritas lukisannya memuat kata-kata berlatar lanskap alam atau lanskap kultur, mendesain kata-kata di beberapa kemeja. Sementara desainer topi Philip Treacy, mendesain aksesori kepala. Kata-kata ‘Dior’, ‘Buzz’ dan ’Star’ berbahan metal mengacung dari permukaan rambut, menyampaikan wacana akan status Dior di tataran mode global.

Aksesori kepala karya Philip Treacy di Dior Cruise 2027. Foto: Dior

Mode, film, dan seni rupa. Jonathan Anderson paham betul bahwa para penggemar mode dan hedonis selalu butuh pelarian dari sebagian besar kenyataan dunia yang buram dan busuk. Pelarian berbahan mimpi akan dunia yang serba bergaya.

Oscar Wilde pernah berkata bahwa kehidupan mengimitasi seni jauh lebih daripada seni mengimitasi kehidupan. Ia berargumen bahwa banyak manusia mendambakan apa-apa yang terjadi di dalam sebuah karya seni, karena seiring berjalannya waktu, nilai sebuah karya seni akan semakin berharga dan mencerahkan hidup pemiliknya. Ini berarti satu hal: harapan akan para penguasa industri gaya hidup dan seni untuk membuka lebar pintu empati mereka.

Penulis: Rifina Marie