Ini Skrining yang Perlu Dilakukan Perempuan untuk Deteksi Kanker Serviks

2 Februari 2023 15:33
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi kanker serviks. Foto: Orawan Pattarawimonchai/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kanker serviks. Foto: Orawan Pattarawimonchai/Shutterstock
Ladies, apakah kamu tahu bahwa setiap Januari diperingati sebagai bulan kesadaran kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi virus Human Papillomavirus (HPV)? Ini menjadi salah satu momen yang harus diperhatikan perempuan. Sebab, kanker serviks berada di posisi kedua penyebab kematian pada perempuan di Indonesia setelah kanker payudara.
Data dari Global Cancer Observatory mengungkapkan, di tahun 2020, setidaknya ada 36.633 kasus kanker serviks baru di Indonesia. Di tahun yang sama, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat 21.003 kasus kematian perempuan di Indonesia karena kanker serviks.
Untuk menekan tingginya angka kanker serviks, kita perlu melakukan deteksi dini. Kanker serviks yang ditemukan dalam stadium awal lebih mudah untuk ditangani. Selain itu, kualitas hidup pasien juga akan lebih baik.
Nah, untuk itu, kumparanWOMAN telah merangkum beberapa skrining yang direkomendasikan untuk deteksi dini kanker serviks. Simak selengkapnya di sini, ya.

1. Pap smear

Ilustrasi tes pap smear. Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tes pap smear. Foto: Thinkstock
Pap smear atau disebut juga tes pap adalah prosedur untuk tes kanker serviks pada perempuan. Ini merupakan prosedur pemeriksaan yang dapat mendeteksi sel abnormal di serviks.
Mengutip Mayo Clinic, pap smear biasanya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan panggul. Perempuan disarankan mulai melakukan pap smear pada usia 21 tahun hingga 65 tahun. Pap smear sebaiknya dilakukan setiap tiga tahun sekali.
Namun, jika kamu memiliki faktor risiko tertentu, sebaiknya lebih sering melakukan pap smear, misalnya memiliki sel prakanker; paparan dietilstilbestrol (DES) sebelum lahir; infeksi HIV; atau merokok.

2. Inspeksi visual dengan asam asetat (IVA)

Ilustrasi tes IVA untuk Kanker Serviks. Foto: Komsan Loonprom/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tes IVA untuk Kanker Serviks. Foto: Komsan Loonprom/Shutterstock
Selain pap smear, pemeriksaan lain yang direkomendasikan adalah inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Ini merupakan metode skrining yang digunakan untuk mendeteksi lesi sebagai indikator risiko kanker pada perempuan.
Mungkin banyak yang menganggap tes IVA bisa digantikan dengan pap smear, namun ternyata keduanya adalah prosedur yang berbeda. Dalam pemeriksaan IVA, dokter atau ahli kesehatan akan mengoleskan kapas yang sudah dibasahi asam asetat ke jaringan serviks.
Setelah itu, area serviks akan memunculkan reaksi. Jika berubah warna atau muncul bercak putih, itu pertanda bahaya. Tapi, jika tidak ada perubahan warna, serviks dalam kondisi sehat.
Perlu diperhatikan, sebelum melakukan tes IVA, kamu harus dalam kondisi sedang tidak menstruasi dan tidak berhubungan intim selama 24 jam sebelum pemeriksaan.

3. HPV DNA

Ilustrasi HPV DNA. Foto: Innovative Creation/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi HPV DNA. Foto: Innovative Creation/Shutterstock
Pemeriksaan selanjutnya yang direkomendasikan adalah HPV DNA. Ini merupakan tes untuk mendeteksi DNA dari HPV yang jadi penyebab kanker serviks.
Mengutip Medlineplus, prosedur tes HPV DNA dilakukan dengan memasukkan alat yang disebut spekulum ke dalam vagina. Kemudian sel di daerah serviks dikumpulkan dan nantinya akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.
Pemeriksaan HPV DNA mungkin akan menyebabkan rasa kurang nyaman. Beberapa perempuan mengatakan rasanya seperti kram menstruasi
Tidak diperlukan persiapan khusus untuk tes HPV DNA. Selama 24 jam sebelum pemeriksaan, disarankan tidak melakukan douche (membersihkan vagina dengan bahan kimia), melakukan hubungan intim, menggunakan tampon, dan usahakan buang air kecil.

4. Kolposkopi

Ilustrasi Kolposkopi. Foto: Satyrenko/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kolposkopi. Foto: Satyrenko/Shutterstock
Dikutip dari National Health Service, kolposkopi juga bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker serviks. Pemeriksaan ini seringnya dilakukan ketika ada perubahan pada sel yang disebabkan oleh jenis human papillomavirus (HPV) tertentu. Sel-sel yang berubah ini dapat berkembang menjadi sel kanker serviks.
Prosedur kolposkopi dilakukan dengan menggunakan alat spekulum yang dimasukkan dengan lembut ke dalam vagina. Kemudian mikroskop dimasukkan ke dalam vagina untuk melihat kondisi serviks secara lebih detail.

5. PET Scan

Ilustrasi PET Scan. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi PET Scan. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
Pemindaian PET-CT menggabungkan pemindaian CT (Computerized Tomography) dan pemindaian PET (Positron Emission Tomography) menjadi satu. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi sel kanker, termasuk kanker serviks secara menyeluruh.
Biasanya tes ini membutuhkan waktu antara 30 dan 60 menit di radiologi. Pemindaian PET-CT memeriksa apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di dekat leher rahim atau di tempat lain di tubuh.
Kamu disarankan untuk berhenti makan sekitar 4 hingga 6 jam sebelum melakukan pemindaian PET-CT, tapi kamu tetap boleh minum air putih. Sebaiknya juga menghindari olahraga berat selama 24 jam sebelum pemindaian.
Nah, itu tadi beberapa pemeriksaan yang direkomendasikan untuk skrining kanker serviks. Jangan lupa rajin skrining kanker serviks, ya, Ladies!