Kumparan Logo

Kenapa Seseorang Suka Mengomentari Penampilan Orang Lain? Ini Kata Psikolog

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mengomentari penampilan orang lain. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengomentari penampilan orang lain. Foto: Shutter Stock

Banyak orang secara tidak sadar suka mengomentari penampilan orang lain. Kata-kata yang diucapkan bisa berupa pujian, atau hal buruk yang dapat menyakiti perasaan.

Memberikan komentar buruk terhadap penampilan seseorang juga bisa menurunkan rasa percaya diri orang tersebut. Komentar tersebut mungkin dimaksudkan sebagai kritik yang membangun. Namun, hal itu juga bisa menjadi alasan seseorang, bahkan perempuan merasa kurang cantik.

Faktanya, ada alasan tersendiri yang melatarbelakangi seseorang suka mengomentari penampilan orang lain. Psikolog klinis, Indah Sundari J, M.Psi, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang senang mengomentari penampilan orang lain.

Salah satu penyebabnya, yaitu faktor budaya yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Parahnya lagi, komentar buruk tersebut biasanya datang dari orang-orang sekitar.

"Banyak, aku ketemu sama klien aku yang datang secara langsung dan mengatakan bahwa dia tidak merasa cantik karena kurang ini, kurang itu, dan sebagainya. Aku ketemu dengan banyak perempuan yang datang dengan insecurity-nya, termasuk kaitannya dengan rambut yang kurang diterima oleh orang-orang sekitar," ujar Indah dalam Dove #RambutkuMahkotaKu Virtual Press Conference, Rabu (20/4).

Ilustrasi gosip Foto: Shutterstock

Indah juga menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat budaya yang melekat soal standar kecantikan tertentu. Karena itu, ketika melihat orang lain dengan penampilan yang berbeda, seseorang ingin langsung melontarkan komentar buruk.

"Gampang banget, ya, berkomentar buruk tentang penampilan sesama perempuan, bahkan dilakukan oleh orang-orang terdekat. Kita enggak boleh lupa bahwa ini karena faktor budaya yang paling pertama, khususnya di Indonesia. Budaya kolektif yang memang sudah terbiasa untuk memberikan komentar, sudah terbiasa untuk menilai baik secara langsung ataupun tidak langsung," papar Indah.

"Jangankan penampilan, ya, sesuatu yang sifatnya tidak kelihatan pun terkadang suka dikomentari. Apalagi sesuatu yang sifatnya kelihatan," sambungnya.

Budaya yang telah mengakar pada akhirnya membentuk standar kecantikan perempuan, baik dalam segi fisik maupun jenis rambut. Dampak dari komentar buruk itu bisa membuat seseorang merasa tidak percaya diri, bahkan mungkin merasa tidak berharga. Kondisi ini kemudian akan mengganggu kesehatan mental, menghambat potensi diri, dan membatasi pergaulan.

"Nah karena faktor budaya inilah yang akhirnya membuat standar tentang kecantikan itu tercipta, termasuk gaya rambut. Makanya kayaknya ketika seorang perempuan tampil agak berbeda dari standar, itu kemudian seolah-olah berasal dari luar masyarakat," tutupnya.