Kisah Inspiratif Pilot Athira Farina, Gigih Capai Impian Meski Banyak Tantangan

21 April 2022 4:25 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
 Athira Farina. Foto: Dok.  Athira Farina
zoom-in-whitePerbesar
Athira Farina. Foto: Dok. Athira Farina
ADVERTISEMENT
Masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini setiap tanggal 21 April. Raden Adjeng Kartini atau RA Kartini menjadi pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi perempuan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pemikirannya menjadi pionir gerakan pemberdayaan perempuan di Tanah Air, dan tetap relevan dengan kondisi perempuan modern di Indonesia. Perjuangan Kartini masih menjadi semangat para perempuan masa kini untuk terus menggapai mimpinya. Hal ini juga yang memotivasi pilot Athira Farina atau yang akrab disapa Athira.
Meski bekerja dalam bidang yang didominasi laki-laki, Athira mengaku sangat senang bisa mencapai cita-citanya. Ia pun mengaku menghadapi banyak tantangan, mulai dari masa sekolah hingga ia menjadi pilot.
Melalui program Sister of Soul yang diselenggarakan oleh kumparanWOMAN, Athira Farina mengungkapkan suka dukanya dalam berkarier menjadi seorang pilot perempuan.

Ingin menjadi pilot terinspirasi kakak sepupu

Athira bercerita bahwa dirinya ingin menjadi pilot sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, ia terinspirasi dari kakak sepupunya yang juga bersekolah pilot. Athira juga sering bepergian naik pesawat ke luar kota. Dari situ, rasa penasarannya mulai muncul dan ia sering mencari tahu soal profesi pilot.
ADVERTISEMENT
"Berjalannya waktu, aku tahu apa yang aku mau. Aku sering diajakin jalan-jalan saka keluargaku naik pesawat, akhirnya aku pengen tau pesawat tuh siapa sih yang bawa, terus belajarnya kayak apasih, terus karena penasaran jadi cari tahu terus yang mengemudikan pesawat itu pilot dan gimanasi jadi pilot," ujar dalam acara bertajuk Kartini di Tempat Kerja, Berani Raih Mimpi & Menginspirasi lewat IG Live @kumparanWOMAN, Selasa (19/4).
Tidak hanya itu, Athira juga merasa ingin menjadi pilot karena hobi jalan-jalan. Ia pun berpikir bahwa pilot merupakan salah satu profesi yang bisa membawanya keliling dunia tanpa harus mengeluarkan uang.
"Aku tuh punya pikiran yang bikin aku kepingin banget itu pengen jalan-jalan, aku kepingin sering travelling. Apalagi sebagai seorang pilot kita punya privilege untuk pergi ke suatu tempat ke tempat lain dengan gratis kan. Alhamdulillah sampai saat ini sudah tercapai tapi dengan berbagai proses, ya," katanya.
ADVERTISEMENT

Diremehkan orang lain jadi salah satu tantangan

Athira menceritakan bahwa perjalanannya menjadi pilot juga terdapat banyak tantangan, terlebih ia merupakan seorang perempuan. Tidak jarang, Athira diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, hal ini tidak mematahkan semangatnya. Ia justru semakin termotivasi untuk membuktikan diri.
"Awalnya ada teman yang menganggap remeh. Jadi semakin aku digituin, malah aku mau buktiin. Aku harus bisa, aku harus lawan gitu. Ada yang remehin, ada juga yang nanya apa aku yakin karena aku cewek, terus nanti kalau nikah gimana, jadi lebih membatasi karena aku perempuan dan sampai sekarang pun tetap akan ada hal kayak gitu," ucapnya.
Athira menyadari memang masih ada stigma yang membatasi dirinya. Meski demikian, ia berusaha fokus terhadap dukungan dan hal-hal positif. Hal yang paling penting baginya adalah dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat.
ADVERTISEMENT
"Yang mendukung banyak banget, apalagi keluarga. Keluarga utamanya karena aku nggak peduli orang mau ngomong apa karena keluarga dukung, doa orang tua itu nomor satu. Jadi yang lain, ya, udah terserahlah mau ngomong apa yang penting keluargaku, mama papaku mendukung aku secara penuh dan mereka mendoakan aku," ungkap Athira.
Di luar itu, tantangan lain yang dialami olehnya selama menjadi pilot adalah menghadapi cuaca yang tidak menentu. Lewat pengalaman ini, Athira pun berusaha untuk menaklukan rasa takutnya dengan berkonsentrasi agar tidak mengganggu fokusnya saat ingin lepas landas.
Tantangan lainnya, yaitu ia juga merasa kurang memiliki waktu untuk keluarga, karena harus bekerja. Athira menceritakan sudah tiga tahun tidak pulang ke kampung halamannya di Medan.
ADVERTISEMENT
Meski banyaknya tantangan yang dihadapi, Athira merasa sangat bersyukur karena bisa mencapai cita-citanya menjadi seorang pilot. Selain itu, ia juga bangga karena bisa menginspirasi banyak orang.
"Aku bangga karena sampai detik ini di usia segini aku udah bisa menggapai sesuatu yang selama ini aku mimpiin itu pasti dan, ya, sedikit banyak aku bisa menginspirasi banyak orang. Itu memberikan hal positif yaitu suatu kebanggaan buat aku," ujar Athira.