Kisah Perempuan Menikah Pertama Kali di Usia 70, Jadi Inspirasi Bagi Para Lajang
·waktu baca 2 menit

Ada sebuah ungkapan yang berbunyi: cinta tak mengenal usia. Meski terdengar klise, ungkapan tersebut benar adanya dan terjadi pada seorang perempuan bernama Deb Thea di California, Amerika Serikat (AS).
Deb, yang bekerja sebagai penjual barang antik, selalu yakin bahwa dia akan menikah suatu hari nanti. Sambil menunggu kehadiran laki-laki yang tepat baginya, dia menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan lajang yang bahagia. Tanpa diduga, cinta itu pun hadir di usianya yang ke-70.
Meski membutuhkan waktu lama untuk menemukan pasangan hidup yang tepat, Deb tidak pernah merasa terbebani saat melajang. Kini, Deb sudah menginjak usia 73. Dia sendiri bisa menyaksikan bagaimana teman-temannya bisa menerima kehadiran suaminya.
Tom sendiri merupakan suami dari mendiang teman Deb, Alice. Deb pertama kali bertemu Tom di pernikahan Tom dan Alice. Namun, mereka tidak berinteraksi apa pun saat itu. Sementara Deb dan Alice sering berkumpul dan berbelanja di pasar loak bersama pedagang barang antik lainnya.
"Kemudian Alice terkena kanker. Dia meninggal dengan sangat cepat," ujar Deb.
Interaksi antara Tom dan Deb bermula dari sebuah momen piknik. Ketika itu, Deb memasak 50 potong ayam dan mengundang semua orang yang ingin datang. Tom pun ingin membantu dan membawakan semua minuman. Menurut Deb, itu adalah momen yang menakjubkan. Sejak saat itu, Deb terus memperhatikan Tom. Mereka pun bersahabat dan akhirnya benih-benih cinta pun muncul.
Mengutip Guardian, Deb tidak menginginkan pernikahan yang konvensional. Alih-alih memakai gaun putih, Deb mengenakan terusan polkadot di momen pernikahannya dengan Tom Ford, laki-laki berusia 65 tahun. Tamu undangan yang hadir dalam pesta pernikahan itu juga memakai dasi, kain, dan gaun yang serba polkadot.
Belajar menyesuaikan diri dengan pasangan
Selama melajang, Deb telah menjadi perempuan yang mandiri dan memiliki jiwa petualang. Setelah menikah dengan Tom yang baru saja pensiun, Deb harus menyesuaikan kesehariannya dengan berinteraksi bersama seseorang selama 24 jam sehari.
Dia tidur pada pukul setengah sepuluh malam, waktu favorit Tom untuk tidur. Tom juga harus menoleransi acara televisi yang menurutnya tidak lucu. Kehidupan pernikahan mereka tampak hangat, lucu, dan tampak lebih mudah dengan sedikit kekhawatiran dan lebih banyak pelukan.
Deb pun tidak lagi merasa terbebani oleh tekanan hidup sehari-hari. "Saya merasa ringan," ujarnya. Para pelanggan di toko barang antik Deb mengatakan bahwa pernikahannya telah memberikan harapan bagi mereka yang masih mencari.
