Ladies, Ini 4 Hal yang Mesti Dilakukan untuk Tinggalkan Pasangan yang Kasar
·waktu baca 3 menit

Kalian pernah mendengar istilah abusive relationship, Ladies? Ya, ini merupakan istilah untuk menggambarkan kekerasan dalam sebuah hubungan asmara. Mendeteksi perilaku kasar di awal suatu hubungan juga tidak mudah dilakukan.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Theresa Black, MA, MFT, ATR, clinical director di Laura’s House, sebuah wadah bagi keluarga untuk konseling yang berbasis di California, Amerika Serikat (AS).
Theresa mengatakan kepada PsychCentral, “Tidak selalu mudah untuk mengetahui di awal suatu hubungan jika pasangan akan menjadi kasar, karena perilaku posesif dan mengendalikan dapat muncul dan meningkat seiring waktu.”
Meski demikian, ada beberapa tanda untuk mengenali perilaku kasar pada pasangan. Mengutip PsychCentral, pasangan mungkin bersikap abusive jika dia menjauhkan kamu dari teman dan keluarga. Pasangan yang abusive juga selalu ingin tahu keberadaan dan aktivitas kamu.
Dia juga mengambil kendali atas keuangan, rencana, dan lainnya tanpa berdiskusi terlebih dahulu dan jarang bertanggung jawab atau mengakui kesalahannya. Ia juga memanipulasi kamu serta melakukan kekerasan fisik, emosional, ataupun seksual.
Bila pasangan menunjukkan tanda-tanda tersebut, kamu harus segera keluar dari hubungan yang tidak menyehatkan ini. Berikut beberapa kiat untuk kamu yang ingin meninggalkan abusive relationship seperti yang kumparanWOMAN rangkum dari PsychCentral.
1. Membuat rencana penyelamatan diri dengan aman
Menciptakan rencana penyelamatan diri dengan aman sangat penting bagi kamu yang terlibat dalam abusive relationship. Dengan menguraikan langkah-langkah penyelamatan diri, kamu bisa mengurangi risiko bahaya selama proses keluar dari abusive relationship.
Katie Hood, Chief Executive Officer di One Love Foundation, yayasan di New York yang mengedukasi kaum muda tentang hubungan yang sehat, mengatakan kepada PsychCentral, “Setiap hubungan dan situasi adalah unik, seperti juga setiap perpisahan, jadi penting untuk membuat rencana untuk mengakhiri hubungan dengan aman."
Salah satu hal yang perlu kamu lakukan bila ingin keluar dari abusive relationship adalah mengontak seseorang untuk meminta bantuan atau tempat berlindung.
2. Berada di sekitar orang yang mendukung kamu
Setelah berhasil keluar, kamu perlu menjalin komunikasi dengan orang-orang yang mendukung kamu. Katie pun mengatakan, “Agar terhindar dari keinginan untuk kembali ke abusive relationship, kelilingi diri kamu dengan orang-orang yang mendukung kamu dan yang mengetahui alasan kamu meninggalkan pasangan.”
3. Ingat kembali alasan kamu keluar dari abusive relationship
Sangat normal bagi kamu bila merindukan pasangan meski dia berperilaku kasar. Namun bukan berarti terus-menerus menjalin hubungan dengannya adalah hal tepat.
Katie pun menegaskan, “Memang ada beberapa hal baik dalam sebuah abusive relationship, tapi hal buruknya lebih besar daripada hal baiknya. Setiap orang berhak mendapatkan hubungan yang sehat, aman, dan menyenangkan."
Karena itu, ia merekomendasikan untuk menulis catatan tentang alasan kamu memilih untuk meninggalkan dan tidak kembali ke pasangan yang abusive. Kapan pun kamu mulai merindukannya, baca kembali catatan kamu sebagai pengingat.
4. Utamakan diri sendiri
Adalah wajar bila kamu memikirkan perasaan pasangan setelah meninggalkannya. Namun, perasaan kamu juga penting. Kamu juga perlu memprioritaskan kebahagiaan diri sendiri.
Katie menekankan, “Meninggalkan hubungan yang tidak sehat adalah keputusan positif. Kamu memilih hidup yang lebih sehat. Bagus sekali karena telah membuat pilihan yang sulit, tetapi benar, untuk diri sendiri.”
Di titik ini, kamu juga perlu mempraktikkan self care dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk sembuh.
