Ladies, Pernah Alami Vagina Bengkak? Ini 8 Alasannya

Vagina merupakan bagian tubuh utama perempuan yang bisa memberikan sensasi kenikmatan saat berhubungan seks. Jika diberikan stimulasi yang tepat, vagina bisa membuat kita merasakan orgasme yang menyenangkan.
Namun apa yang terjadi jika vagina Anda mengalami pembengkakan setelah berhubungan seks? Apakah kondisi ini berbahaya? Apakah vagina memang akan berwarna merah, bengkak, atau iritasi setelah berhubungan seks?
Tetapi ternyata vagina bengkak tidak selalu berhubungan dengan aktivitas seks, melainkan juga dikarenakan oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah infeksi, alergi, hingga kehamilan.
Agar tidak terus bertanya-tanya dan merasa khawatir, berikut kumparanWOMAN telah merangkum delapan penyebab vagina bengkak seperti dilansir dari Women’s Health.
Aktivitas seks yang terlalu kasar
Menurut Cleveland Clinic, sebuah akademi pusat kesehatan non-profit di Amerika Serikat, saat sedang terangsang, vulva dan vagina kita memang akan membengkak sebab semua darah mengalir ke arah organ intim tersebut.
Namun jika vagina membengkak dan Ladies menemukan adanya tanda-tanda luka di sekitar vagina dan vulva setelah berhubungan seks, berarti pembengkakan tersebut bisa jadi disebabkan oleh aktivitas seksual yang kasar.
Bisa jadi saat itu Anda dan pasangan terlalu bersemangat sehingga tidak terlalu memperhatikan kondisi vagina yang ternyata sedikit terluka. Pembengkakan ini biasanya akan dirasakan beberapa saat setelah aktivitas seksual berakhir.
Menurut penjelasan dari Dr. Alyssa Dweck, MD, seorang ob-gyn asal Westchester, New York, aktivitas seksual yang berlebihan tidak hanya akan menyebabkan vagina membengkak, tetapi juga membuat area vagina berubah warna menjadi kehitaman dan kebiruan, serta akan ada sedikit pendarahan akibat luka.
Dr. Alyssa Dweck menyarankan Anda untuk berendam air hangat selama kurang lebih 15 sampai 20 menit untuk mengatasi pembengkakannya.
Reaksi dari alergi
Ladies, jika Anda menemukan ruam pada vagina yang memerah dan membengkak, bisa jadi vagina terlalu sensitif terhadap beberapa produk atau bahkan tidak cocok sehingga menimbulkan reaksi alergi seperti pembengkakan.
Dr. Alyssa Dweck mengatakan, produk-produk tersebut bisa berupa kondom berbahan latex atau bahkan sperma juga bisa membuat vagina kita alergi.
Semen allergy atau alergi terhadap sperma ini memang sangat jarang terjadi. Menurut International Society for Sexual Medicine, alergi sperma atau hipersensitivitas plasma seminalis, merupakan reaksi alergi langka terhadap protein yang ditemukan dalam sperma yang dapat menyebabkan kemerahan, pembengkakan, nyeri, gatal, dan rasa panas pada vagina.
Jika kondisi-kondisi tersebut terjadi setelah Anda berhubungan seks, berarti itu memang reaksi sensitivitas tubuh terhadap berbagai hal yang bisa memicu alergi, seperti spermisida (nonoxynol 9), wewangian, latex, dan obat-obatan untuk vagina.
Dr. Alyssa Dweck menyarankan agar Anda mengidentifikasi terlebih dahulu produk-produk apa saja yang digunakan saat bercinta, lalu mengurangi pembengkakannya. Hal ini perlu dilakukan agar kita tahu apa penyebab utama pembengkakan pada vagina kita dan supaya kita tahu reaksi seperti apa yang diberikan oleh tubuh.
Infeksi jamur
Selain alergi dan aktivitas seksual yang terlalu bersemangat, jamur juga bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya pembengkakan pada vagina.
Sebagian dari Ladies mungkin sudah tahu bahwa tubuh kita memiliki jamur alami yang tumbuh dalam vagina yang berfungsi melindungi vagina dari bakteri-bakteri jahat, yaitu jamur candida.
Namun jamur tersebut bisa menyebabkan infeksi dan pembengkakan pada vagina jika tumbuh secara berlebihan. Melansir Healthline, infeksi jamur ini ditandai dengan rasa gatal yang terasa di sekitar dan di dalam vagina. Jika baru pertama kali merasakan gejala gatal dan bengkak tersebut, Anda bisa melakukan pemeriksaan ke dokter agar diberikan resep.
Bakteri vaginosis
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, bakteri yang masuk ke dalam vagina dengan jumlah yang banyak juga bisa memberikan efek kebengkakan.
Menurut penuturan Dr. Alyssa Dweck kepada Women's Health, bakteri vaginosis tidak hanya menyebabkan vagina membengkaK, Tetapi juga membuat vagina mengalami keputihan yang berwarna agak abu-abu, teksturnya kental, dan aromanya menyerupai bau ikan busuk.
Vagina kering atau atrophy
Saat berhubungan seks, meski sudah sangat terangsang, sebagian vagina perempuan bisa saja tidak mengeluarkan cairan yang berfungsi sebagai pelumas. Alhasil, kondisi ini tentu bisa menyebabkan proses bercinta menjadi lebih sulit dan sakit, sehingga vagina memerah, perih, dan bengkak.
Kurangnya cairan pelumas pada vagina kadang juga disebabkan karena kita kurang melakukan foreplay, rendahnya hormon estrogen karena menopause, perimenopause, laktasi, atau pil KB.
Untuk menghindari peradangan dan pembengkakan karena sedikitnya cairan pelumas saat bercinta, coba mulai memanfaatkan produk pelumas untuk melembapkan dan mengurangi pembengkakan terhadap vagina.
Infeksi Menular Seksual (IMS)
Infeksi Menular Seksual merupakan salah satu penyakit yang terjadi pada organ intim. Penyakit tersebut bisa menyebabkan peradangan pada jaringan di vagina yang dapat berujung pembengkakan. Peradangan tersebut biasa disebut dengan klamidia dan trikomoniasis.
Jika klamidia biasanya tidak menunjukkan gejala apapun, trikomoniasis bisa membuat vagina menjadi berwarna kemerahan dan membuat vulva bengkak. Kedua kondisi tersebut bisa mengakibatkan pendarahan, iritasi, mengeluarkan bau tak sedap pada vagina setelah berhubungan seks.
Infeksi ini bisa diatasi dengan antibiotik yang bisa Anda dapatkan setelah melakukan pemeriksaan secara lebih lanjut dari dokter.
Selulitis
Ladies, selulitis sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan selulit. Menurut U.S. National Library of Medicine, selulitis merupakan sebuah infeksi bakteri yang menyerang kulit dan jaringan kulit yang menghasilkan efek bengkak, merah, dan sensitif.
Kondisi ini juga bisa menyerang kulit dan jaringan kulit pada area vagina. Jika Anda sudah tahu bahwa seks tidak menyebabkan pembengkakan pada vagina, bisa jadi Anda tengah mengalami selulitis, apalagi bengkaknya kian lama kian menyebar ke berbagai area.
Jika sudah parah, selulitis bisa mengakibatkan demam, pusing, hingga muntah. Anda bisa mengatasi selulitis ini dengan antibiotik dan Dr. Alyssa Dweck menyarankan agar Anda mengompres area vagina dengan kain hangat.
Kehamilan
Pembengkakan yang terjadi pada vagina perempuan hamil umumnya disebabkan oleh faktor hormonal. Sebab, seperti yang sudah kita ketahui, kehamilan memang membuat area-area tubuh tertentu menjadi bengkak, termasuk vagina.
Selain hormon, kehamilan juga menyebabkan aliran darah dan tekanan meningkat di area uterus. Kondisi ini tentu saja bisa membuat vagina mengalami pembengkakan.
Untuk mengatasinya, Anda bisa menghindari terlalu banyak berdiri dan coba kenakan compression socks dan stocking khusus untuk mengurangi pembengkakan yang biasa dipakai perempuan hamil.
