Kumparan Logo

Marak Terjadi, Ini 4 Fakta Seputar Ancaman Online pada Anak dan Remaja Perempuan

kumparanWOMANverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Marak Terjadi, Ini 4 Fakta Seputar Ancaman Online pada Anak dan Remaja Perempuan Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Marak Terjadi, Ini 4 Fakta Seputar Ancaman Online pada Anak dan Remaja Perempuan Foto: Shutterstock

Ladies, ancaman online pada perempuan cukup marak terjadi secara global. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan dewasa, tetapi juga rentan terjadi pada anak yang usianya masih sangat muda.

Untuk itu, dalam rangka merayakan Hari Anak Perempuan pada 11 Oktober, Plan International merilis laporan bernama State of the World Girls dengan tema freedom online. Dilihat dari hasil riset yang dilakukan, mereka menemukan bahwa kebebasan bermedia sosial bagi perempuan nyatanya belum terjamin. Masih cukup banyak perempuan yang mengalami pelecehan dan kekerasan secara online, termasuk juga mengalami diskriminasi.

Dalam pembuatan laporan ini, dilibatkan lebih dari 14 ribu anak dan remaja perempuan dari 31 negara, terhitung 500 di antaranya berasal dari Indonesia. Dari laporan tersebut, ditemukan beberapa fakta menarik yang perlu menjadi perhatian banyak orang, termasuk perusahaan platform online dan pemerintah.

Lalu, apa saja fakta yang ditemukan terkait ancaman online pada anak dan remaja perempuan? Simak penjelasannya berikut ini.

Ilustrasi Kekerasan Online pada Remaja Foto: Shutterstock

1. Lebih dari 50 persen anak dan remaja perempuan pernah diancam

Ladies, ternyata ancaman dan pelecehan tidak selalu terjadi di jalanan atau tempat umum. Bahkan platform online pun bisa menjadi sasaran empuk para pelaku yang ingin melakukan perbuatan jahat.

Berdasarkan laporan The State of The World's Girls yang dikeluarkan Plan International tahun ini, terdapat 58 persen responden yang rupanya pernah mengalami ancaman di platform online. Sekitar 50 persen juga mengaku kalau mereka justru lebih sering menerima ancaman secara daring dibandingkan kehidupan di luar media sosial.

2. Facebook jadi platform yang sering terjadi ancaman

Kebebasan di era digital membuat orang dengan sembarangan mengganggu privasi pengguna media sosial, bahkan menjadikannya tempat untuk mengancam. Berdasarkan pengakuan responden, Facebook menjadi platform yang rentan terjadi kekerasan online, diikuti oleh Instagram.

Sekitar 39 persen anak dan remaja perempuan melaporkan kalau mereka mengalami ancaman online di Facebook dan 23 persen mengalaminya di Instagram. Hal tersebut ternyata berpengaruh pada intensitas korban mengakses media sosial. Disebutkan bahwa 19 persen anak dan remaja perempuan memilih untuk mengurangi penggunaan media sosial sedangkan 12 persen lainnya memutuskan berhenti menggunakan platform tersebut.

Dari hasil ini bisa dilihat bahwa perempuan belum sepenuhnya merasa bebas berekspresi di media sosial, bahkan sudah tidak lagi merasa aman menggunakan platform tersebut.

Ilustrasi Remaja Perempuan Depresi Foto: Shutterstock

3. Pelecehan online tidak memandang usia

Pelaku tidak memandang usia perempuan saat melakukan ancaman online. Kasus ini tidak hanya dirasakan perempuan usia produktif saja, nyatanya anak perempuan yang usianya masih sangat muda pun bisa mengalami pelecehan secara online.

Fakta ini tentunya mengejutkan karena ditemukan bahwa anak dan remaja berusia 8-14 tahun sudah pernah diancam melalui media sosial. Dari laporan ini juga dijelaskan kalau mayoritas responden yang mengalami pelecehan berada pada rentang usia 15-20 tahun.

Dikutip dari Healthline, orang yang berusia di bawah 25 tahun biasanya belum memiliki kematangan emosi sehingga belum stabil mengelola sisi emosionalnya ketika menghadapi masalah. Hal ini bisa membuat korban yang mengalami ancaman di usia muda menjadi mudah merasa trauma ataupun diliputi rasa takut.

Ilustrasi Remaja Perempuan Foto: Shutterstock

4. Korban punya risiko alami masalah mental

Meski terjadi secara online, nyatanya ancaman tersebut cukup berdampak pada mental seseorang. Ditemukan bahwa beberapa korban menjadi khawatir, tidak percaya diri, bahkan mengalami masalah di lingkungannya.

Dari laporan State of the World Girls disebutkan 1 dari 4 anak dan remaja perempuan yang mengalami kekerasan online merasa dirinya tidak lagi aman secara fisik. Selain itu, sekitar 42 persen kehilangan rasa percaya diri dan mudah merasa stres sedangkan 18 persen anak dan remaja perempuan mengalami masalah di sekolahnya.

Ada pula beberapa korban yang menjadi enggan untuk bersekolah dan menangis setelah mengalami kejadian tersebut, serta merasa tidak memiliki harapan. Lebih parah lagi, korban kerap kali tidak mendapatkan respon yang baik ketika berusaha untuk menceritakan masalahnya. Tak jarang mereka disalahkan karena dianggap tidak bijak bermedia sosial.

Penulis: Adinda Cindy Lapod