Kumparan Logo

Memahami Dinamika Hubungan antara Menantu Perempuan dan Ibu Mertua

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi hubungan ibu mertua dengan menantu perempuan. Foto: PRPicturesProduction/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hubungan ibu mertua dengan menantu perempuan. Foto: PRPicturesProduction/Shutterstock

Ladies, kamu pernah dengar perkataan ini? “Kalau kamu menikah, kamu bukan cuma menikahi pasanganmu, tapi juga keluarganya”. Pihak-pihak yang dipertemukan oleh ikatan pernikahan berasal dari latar belakang yang berbeda dengan gaya komunikasi yang berbeda pula sehingga memungkinkan terjadinya pergesekan. Fenomena ini umum terjadi di negara yang menjunjung tinggi kekeluargaan, seperti Indonesia.

Salah satu dinamika yang paling sering menjadi bahan obrolan adalah hubungan antara ibu mertua dan menantu perempuan. Hubungan ini bisa penuh kehangatan, tapi tak jarang juga disertai gesekan yang kalau tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan ketegangan. Yuk, kita kupas bersama faktor-faktor yang memengaruhi dinamika ini.

Beban ekspektasi dari keluarga laki-laki terhadap menantu perempuan

Ilustrasi ibu mertua makan bersama anak laki-lakinya dan menantu perempuan Foto: PRPicturesProduction/Shutterstock

Ladies, dalam budaya kolektif dan patriarki, seperti yang berlaku di banyak negara Asia termasuk Indonesia, menantu perempuan sering kali dibebani dengan berbagai ekspektasi. Menurut riset dari University Putra Malaysia, salah satu ekspektasi yang paling menonjol adalah kewajiban merawat keluarga dan mertua.

Misalnya, menantu perempuan memiliki karier yang membuatnya tidak bisa lebih sering berada di rumah dan ibu mertua memiliki ekspektasi menantunya akan sering berada di rumah untuk merawat keluarga. Ketika ekspektasi ini tidak terpenuhi, kepuasan pernikahan keluarga suami dapat berdampak negatif.

Selain itu, budaya “memboyong” istri ke daerah tempat tinggal suami membuat intensitas perempuan bertemu keluarga suami lebih tinggi dibandingkan bertemu keluarganya sendiri, sehingga potensi gesekan dengan pihak mertua lebih besar.

Dalam situasi ini, menantu perempuan sering kali merasa berada di bawah “sorotan” keluarga suami. Mulai dari cara ia mengurus rumah tangga, mendidik anak, hingga bagaimana ia memperlakukan suami, semua bisa menjadi bahan penilaian. Sementara itu, karena jarang bertemu dengan keluarga kandungnya sendiri, sang istri bisa merasa kehilangan sistem dukungan utama yang biasanya memberi kenyamanan emosional.

Kedekatan hubungan antara ibu mertua dengan anak laki-lakinya

Ilustrasi Ibu Mertua. Foto: Shutterstock

Faktor lain yang memengaruhi kualitas hubungan adalah kedekatan emosional ibu mertua dengan anak laki-lakinya. Menurut riset dari Woolley & Grief, ketika seorang ibu memiliki hubungan yang dekat dengan anak laki-lakinya, hal ini bisa berdampak positif pada hubungannya dengan sang menantu perempuan.

Sebaliknya, jika kedekatan tersebut menimbulkan rasa posesif, potensi gesekan bisa lebih besar. Ibu mertua mungkin merasa “tersaingi” oleh kehadiran menantu yang kini menjadi pasangan hidup anaknya. Namun, bila kedekatan itu dikelola dengan keterbukaan dan penerimaan, ibu mertua justru bisa membangun ikatan yang hangat dengan sang menantu.

Faktor budaya dan pola komunikasi

Ilustrasi Ibu Mertua. Foto: Shutterstock

Setiap keluarga punya kebiasaan masing-masing, entah itu dalam berbicara, mengambil keputusan, atau menunjukkan kasih sayang. Ketika menantu perempuan dan ibu mertua berasal dari latar belakang berbeda, kesalahpahaman bisa muncul hanya karena cara berkomunikasi yang tidak sama.

Misalnya, ada keluarga yang terbiasa berbicara blak-blakan, sementara menantu perempuan mungkin lebih nyaman dengan komunikasi yang halus dan tersirat. Perbedaan yang terletak pada cara menyampaikan sesuatu ini bisa memunculkan salah tafsir, meskipun niatnya baik.

Hubungan mertua dan menantu sebenarnya bisa berjalan harmonis jika kedua belah pihak mau saling memahami, membuka komunikasi dengan empati, menghargai perbedaan, dan menetapkan batasan yang sehat di dalam hubungan. Hubungan ini pun memerlukan dukungan suami. Dukungan suami sangat krusial karena suami berperan menjadi jembatan antara ibu dengan istrinya.

Penulis: Zulfa Salman