Kumparan Logo

Mengenal Circular Fashion yang Berkaitan dengan Gaya Hidup Berkelanjutan

kumparanWOMANverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pakaian. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pakaian. Foto: Shutterstock

Dalam dunia fesyen, dikenal istilah circular fashion yang erat kaitannya dengan gaya hidup berkelanjutan (sustainable living). Gaya hidup ini dijalankan untuk mengurangi dampak negatif dari kerusakan lingkungan di bumi.

Sebagai informasi, selama ini industri mode menjadi salah satu penyumbang limbah terbanyak di dunia. Menurut data Green Peace, sebanyak 1,92 juta ton limbah tekstil diproduksi setiap tahunnya.

Tidak hanya itu, serat poliester yang sering digunakan sebagai bahan baku pakaian juga ternyata terbuat dari material plastik. Pada tahun 2021, sekitar 75% mikroplastik dari poliester ditemukan di Samudra Arktik.

Tentu, penumpukan sampah tekstil ini dapat memperburuk krisis iklim yang sedang terjadi. Itu mengapa, kampanye circular fashion semakin digencarkan oleh banyak pihak. Namun, tahukah kamu apa itu circular fashion?

Apa Itu Circular Fashion?

Ilustrasi Fashion. Foto: Shutterstock

Sebelum mengetahui arti circular fashion, sebaiknya pahami terlebih dahulu sistem operasi industri mode saat ini. Industri fesyen beroperasi secara linier, di mana produksi dilakukan secara masif dan besar-besaran. Lalu, bahan yang digunakan juga tidak dirancang untuk didaur ulang.

Produksi besar-besaran ini dipengaruhi oleh tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi. Terlebih, kini banyak toko atau brand pakaian yang menawarkan produk dengan harga murah namun berkualitas rendah.

Pengaruh influencer juga turut meningkatkan daya beli impulsif di kalangan masyarakat. Banyak selebgram yang mempromosikan gaya hidup hedonisme dengan mengoleksi pakaian yang berbeda setiap saat.

Lalu, pakaian yang telanjur dibeli dalam jumlah banyak pada akhirnya akan berujung di tempat sampah. Ironisnya, sampah tersebut sulit terurai dengan sempurna karena materialnya tak bisa didaur ulang.

Berbeda dengan sistem linier yang mengedepankan produksi besar-besaran tanpa peduli kualitas, circular fashion sangat memerhatikan kualitas. Pakaian dirancang agar tahan lama dan timeless. Dengan begitu, konsumen tak harus sering-sering belanja pakaian baru.

Aspek Utama Circular Fashion

Ilustrasi pakaian. Foto: Pixel-Shot/Shutterstock

Mengutip laman The Sustainable Fashion Forum, ada lima aspek utama yang digunakan dalam circular fashion, yakni:

  • Dirancang agar tahan lama awet: Material yang digunakan memiliki kualitas terbaik, sehingga usia pakainya jauh lebih panjang.

  • Bahan dan metode produksi: Pakaian yang diproduksi harus bisa didaur ulang atau terbuat dari bahan ramah lingkungan. Metode produksinya harus minim limbah agar tidak merusak lingkungan.

  • Penggunaannya diperluas: Sistem sirkular ini mendorong orang-orang untuk menyewakan atau menjual kembali pakaiannya kepada orang lain daripada langsung dibuang.

  • Perbaikan dan daur ulang: Circular fashion sangat mendorong konsumen untuk memperbaiki pakaian rusak alih-alih diganti dengan yang baru. Pakaian yang sudah tidak layak pun sebaiknya didaur ulang, jangan langsung dibuang.

  • Menutup siklus mode: Ketika pakaian tidak bisa didaur ulang lagi, siklus pemakaiannya dapat ditutup dengan cara menguraikan pakaian secara biologis di tempat pembuangan sampah.

Baca Juga: Thrifting dan Solusi Limbah Fashion yang Mengkhawatirkan