Kumparan Logo

Menjemput Si Cantik Thumbelina di Pasar Rawa Belong

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hasil berburu bunga di Pasar Rawa Belong, ciptakan buket thumbelina yang penuh puspa warna. Foto: kumparan/Selfy Momongan
zoom-in-whitePerbesar
Hasil berburu bunga di Pasar Rawa Belong, ciptakan buket thumbelina yang penuh puspa warna. Foto: kumparan/Selfy Momongan

Aroma daun dan kelopak bunga segar langsung menyeruak sopan ke hidung begitu saya memasuki kawasan Pasar Rawa Belong, Jakarta Barat. Deretan kios berjajar rapat, dipenuhi warna-warni bunga yang seolah tak ada habisnya.

Siang itu, pasar tersebut tak terlalu riuh. Namun sejak melangkah masuk, ada saja orang yang berlalu-lalang di depan saya sambil membawa bunga di genggaman. Ada yang menenteng buket kecil, ada pula yang membeli bunga dalam bundle besar hingga penuh di pelukan.

Pasar Rawa Belong sudah lama dikenal sebagai salah satu pusat bunga potong segar terbesar di Jakarta. Banyak florist hingga dekorator acara berburu bunga potong segar di sini karena–katanya–pilihannya lengkap dan harganya relatif lebih terjangkau dibanding toko bunga di pusat kota. Alasan itu jugalah yang membawa saya ke sini.

Hari itu, tujuan saya sudah jelas: ingin merakit buket thumbelina berwarna-warni dengan tangan sendiri. Saya sebenarnya bisa saja membeli ‘buket jadi’ di florist, tetapi kali ini saya ingin merasakan pengalaman memilih setiap tangkai bunga satu per satu. Kayaknya, akan ada rasa puas ketika menentukan sendiri warna, jenis, hingga komposisi bunga yang diinginkan.

Langkah saya berhenti di kios bunga matahari. Kelopak kuningnya terlihat segar dan mencolok di antara bunga lain. Penjual menawarkan satu bundle berisi 10 tangkai seharga Rp75 ribu. Dari transaksi itu saya baru paham bahwa bunga di Pasar Rawa Belong dijual per bundle, bukan per tangkai.

Bunga matahari lokal di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Selfy Momongan

“Di sini semua dijual per bundle, Kak,” jelas sang pemilik kios. “Kalau bunga matahari lokal Rp 75 ribu isi 10 tangkai. Kalau kayak mawar gitu ada yang isi 20 tangkai per bundle,” jelasnya panjang lebar.

Saya manggut-manggut setuju. Ini toh alasannya kembang di sini lebih murah, pikir saya.

Tak jauh dari sana, saya menemukan bunga peacock berwarna ungu dan putih yang dijual Rp 15 ribu per bundle. Hati kecil saya menjerit senang. Sebab peacock ungu sedang tak mudah ditemukan. Apalagi, bunga kecil ini menjadi salah satu elemen penting untuk menciptakan kesan penuh dan manis pada buket thumbelina.

Bunga peacock warna ungu dan putih. Foto: kumparan/Naela Marcelina

Geser ke kios lain, perhatian saya tertuju pada tangkai-tangkai hijau dengan aksen bunga kuning kecil. Sekilas bentuknya menyerupai rumput liar. Tetapi di imaji saya, bunga ini pasti akan terlihat cantik sebagai pelengkap thumbelina.

Bunga unik bernama solidago yang ada di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Naela Marcelina

“Ini solidago, Mbak,” ujar si pemilik kios memecah lamunan saya. Sepertinya abang itu paham betul saya tak tahu jenis tanaman apa ini.

“Oh namanya Solidago. Berapaan, Bang?” tanya saya antusias. Si abang menjawab cepat, Rp 20 ribu katanya. “Bungkus satu, Bang,” jawab saya tanpa pikir panjang.

Perburuan saya berlanjut. Kini saya fokus untuk mencari puspa warna biru. Pilihannya cukup banyak, mulai dari aster, gompi, hingga mawar biru. Saya sempat ragu karena mawar biru terlihat cukup mencolok, tetapi akhirnya tetap memilihnya.

Ada pesona yang sulit ditolak dari warna biru lembutnya. Satu bundle mawar biru dibanderol Rp 50 ribu untuk 40 tangkai, sementara mawar merah dijual lebih tinggi, sekitar Rp 70 ribu untuk jumlah yang sama.

Bunga mawar biru di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Selfy Momongan.

Di tengah perjalanan berkeliling pasar, saya baru menyadari satu warna yang belum ada: pink. Padahal, buket thumbelina identik dengan nuansa cerah dan manis. Pilihan saya jatuh pada bunga gerbera pink yang dijual Rp 25 ribu untuk 10 tangkai.

Bunga gerbera di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Selfy Momongan.

Setelah semua bunga terkumpul, tantangan berikutnya dimulai: merangkai buket. Untungnya, banyak kios di Pasar Rawa Belong yang menyediakan jasa perakitan bunga. Harganya pun beragam, tergantung ukuran buket dan jenis bunga yang digunakan.

Saya sempat berkeliling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di Adara Florist yang berada di bagian tengah pasar. Pemiliknya menawarkan harga Rp 100 ribu untuk dua buket sekaligus. Tanpa banyak berpikir, saya langsung menyetujuinya karena sejak awal memang ingin membagi bunga-bunga ini menjadi dua rangkaian.

Proses merangkai buket memakan waktu sekitar 30 menit. Namun waktu terasa cepat karena saya mengobrol dengan perakit bunga sambil melihat satu per satu tangkai mulai disusun.

Dia juga menawarkan pada saya untuk memilih warna wrapping paper. Pilihannya cukup banyak, mulai dari warna pastel hingga warna-warna bold. Setelah cukup lama menimbang, saya memilih warna cokelat muda agar keseluruhan buket terlihat lebih hangat dan netral.

Satu per satu bunga dirangkai, kelihatannya mudah tapi akan sulit bagi tangan saya yang tidak lihai ini. Detik demi detik berlalu, buket thumbelina yang saya idamkan mulai terbentuk dan menampakkan pesonanya. Hasilnya benar-benar di luar ekspektasi saya. Buket itu terlihat besar dan terasa berat, tapi begitu indah yang membangkitkan suasana hati saya. Ini hasilnya:

Kombinasi bunga matahari, gerbera pink, peacock ungu, mawar biru, hingga solidago kuning menciptakan tampilan yang ramai tetapi tetap harmonis. Rasanya sulit berhenti memandangnya.

Buket thumbelina hasil rancangan tim kumparanWOMAN saat hunting di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Selfy Momongan.

Perjalanan dari Depok menuju Jakarta Barat, ditambah cuaca panas dan langkah kaki yang tak berhenti berkeliling pasar, mendadak terasa terbayarkan begitu buket itu selesai dirangkai.

Total, saya menghabiskan sekitar Rp 250 ribu untuk seluruh bunga dan biaya perakitan. Dari jumlah tersebut, saya mendapatkan dua buket: satu buket thumbelina ukuran besar dan satu buket ukuran sedang.

Bagi saya, pengalaman berburu bunga di Pasar Rawa Belong ternyata bukan hanya tentang membeli bunga dengan harga murah. Ada kesenangan tersendiri ketika memilih bunga langsung dari pasar, berbincang dengan penjual, hingga melihat buket impian dirangkai perlahan di depan mata.

Pasar ini buka 24 jam setiap hari. Namun jika ingin suasana yang lebih nyaman dan tidak terlalu ramai, datanglah pada siang hari di hari kerja.

Dan satu hal yang saya pelajari setelah pulang dari sini: membeli bunga untuk diri sendiri ternyata bisa menjadi bentuk kecil dari merayakan diri. Jadi, tak perlu menunggu diberi bunga oleh orang lain. Kadang, kita juga bisa menghadiahkan kebahagiaan itu untuk diri sendiri.

Jadi, kapan kamu akan berkunjung ke Pasar Rawa Belong, Ladies?