Menteri PPPA: Gerbong Perempuan Kalau Bisa di Tengah, Laki-laki di Ujung
·waktu baca 2 menit

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan agar gerbong perempuan dipindah ke tengah buntut insiden kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL pada Senin (27/4).
Hal ini dikarenakan kecelakaan tersebut banyak memakan korban perempuan. Tim Sar menyebutkan bahwa seluruh korban yang dievakuasi adalah perempuan.
Tadi kita sudah berbicara dengan KAI, kenapa gerbong khusus perempuan di depan dan belakang? (Jawabannya) agar tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini kita mengusulkan kalau bisa (gerbong) perempuan di tengah, laki-laki di ujung depan dan belakang rangkaian,” ujarnya di RSUD Bekasi pada Selasa (28/4).
Arifah juga menyebutkan bahwa ada ada tiga orang meninggal dunia di RSUD Bekasi, serta 55 korban lain mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Kemen PPPA juga berupaya untuk mendampingi korban secara medis maupun psikologis.
Pendampingan yang kami lakukan tidak hanya medis, tetapi juga pemulihannya—dari fisik dan psikologis. Karena kami melihat ada yang mengalami trauma dari kejadian tersebut,” tambahnya.
Ia juga menyarankan agar perusahaan memberikan keringanan kepada pekerja yang mengalami insiden kecelakaan tersebut. Arifah berharap agar pekerja punya waktu yang cukup untuk memulihkan diri.
Hingga pukul 08.45 WIB, ada 14 orang yang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka. Meski didominasi oleh perempuan, ada juga korban laki-laki karena berada di dekat gerbong perempuan.
Kasus kecelakaan ini berawal dari tabrakan KRL dengan taksi listrik di perlintasan kereta api, sehingga menyebabkan perjalanan KRL lain terganggu.
KRL yang tengah berhenti di stasiun Bekasi Timur ditabrak oleh KA Argo Bromo dengan kecepatan yang tinggi, akibatnya gerbong perempuan bagian belakang hancur dan menimbulkan korban jiwa.
Baca juga: Ini Alasan Gerbong Perempuan Ada di Paling Depan dan Belakang Rangkaian Kereta
