kumparan
29 Agustus 2019 13:13

Obat Kanker Payudara, Trastuzumab Emtansine Kini Hadir di Indonesia

Logo Kanker Payudara Foto: Pixabay
Sampai saat ini, belum ada obat yang bisa sepenuhnya menyembuhkan kanker. Namun, para ilmuwan terus melakukan penelitian dan berinovasi untuk menghadirkan pengobatan yang bisa memperpanjang harapan dan kualitas hidup para pengidap kanker, termasuk kanker payudara.
ADVERTISEMENT
Salah satu obat kanker payudara yang kini dapat diakses di Indonesia adalah Trastuzumab emtansine. Obat ini diklaim dapat digunakan untuk pasien kanker payudara metastatik (sudah menyebar ke bagian tubuh lain) atau stadium empat.
Meski penggunaannya telah disetujui oleh FDA (U.S. Food and Drug Administration) sejak 2013, obat dengan kode (T-DM1) itu baru mendapat persetujuan oleh BPOM pada Desember 2018, dan kembali diperkenalkan kepada awak media pada Rabu (28/8), dalam acara konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta yang diadakan oleh PT Roche Indonesia.
Pada dasarnya, Trastuzumab emtansine adalah sebuah obat berbentuk antibody-drug conjugate yang digunakan untuk menyasar sel kanker dalam tubuh, tanpa melukai sel-sel lainnya. Obat ini disebut menggabungkan khasiat kemoterapi dan terapi target Trastuzumab dalam satu produk saja. Cara kerjanya adalah mengikat reseptor HER2 (Human epidermal growth factor receptor 2) --protein yang dapat mempercepat pertumbuhan sel kanker--di permukaan sel kanker dan memblokir sinyal HER2 yang menyebabkan pertumbuhan sel kanker dengan cepat.
ADVERTISEMENT
Penggunaan obat ini dipercaya dapat membantu meningkatkan rata-rata harapan hidup pada pasien hingga 30,9 bulan dan menunda pemburukan penyakit hingga 9,6 bulan. Adapun cara penggunaannya adalah melalui infus yang diberikan selama tiga minggu sekali.
Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM dalam konferensi pers mengenai kanker payudara di Jakarta, Rabu (28/8). Foto: Masajeng Rahmiasri/kumparan
Menurut Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM yang turut hadir dalam konferensi pers tersebut, Trastuzumab emtansine bisa menjadi alternatif bagi pengidap kanker payudara metastatik yang gagal pada pengobatan lini pertama. Namun, syaratnya, pasien ini harus memang sudah pernah menggunakan obat Trastuzumab pada lini pertama.
"(Pasien) harus pada stadium empat. Kalau dia bukan stadium empat, protokolnya (adalah penggunaan) Trastuzumab dengan kemoterapi," ujarnya saat ditemui usai acara konferensi pers.
Secara khusus, dr. Cosphiadi mengatakan bahwa penggunaan obat ini memiliki risiko tidak nyaman yang lebih rendah, bila dibandingkan dengan obat-obat pada lini dua yang lain. Dengan kata lain, obat ini akan lebih sedikit menyebabkan rasa mual, lelah, juga terjadinya diare pada pasien, bila dibandingkan dengan obat berbentuk lapatinib dan capecitabine.
Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM (kiri), tim PT Roche Indonesia, dan Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM dalam konferensi pers mengenai kanker payudara di Jakarta, Rabu (28/8). Foto: Masajeng Rahmiasri/kumparan
"Saya sendiri berpengalaman memberikan obat ini--tidak banyak pasiennya karena selektif, adil, dan yang sudah kambuh--itu rambutnya tidak rontok, mualnya sedikit. Jadi memang relatif bisa lebih diberikan di rawat jalan," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Namun, Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM menyatakan bahwa pada dasarnya, obat sama seperti pisau. Dalam artian, substansi itu bisa mencederai penggunanya, namun juga bisa menolong.
"Dia bisa mengganggu jantung. Oleh karena itu, pada pasien yang menggunakan Trastuzumab, harus selalu dilakukan pemeriksaan echocardiography (rekam jantung) terlebih dahulu," ujarnya.
Selain itu, dr. Andhika juga mengatakan bahwa penggunaan obat ini harus dibarengi dengan peninjauan berkala terhadap kondisi pasien. Dokter harus mewaspadai efek keluhan yang mungkin timbul karena penggunaan obat tersebut.
Saat ini, Trastuzumab emtansine bisa diakses dari rumah sakit tipe A, dengan layanan pembayaran reguler atau non-BPJS.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan