Penulis dan Feminis Mesir Nawal El Saadawi Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun

Penulis sekaligus aktivis HAM dan feminis, Nawal El Saadawi meninggal dunia pada Minggu (21/3) di usia 89 tahun. Menurut laporan The Guardian, perempuan asal Mesir ini meninggal dunia di Rumah Sakit Kairo setelah lama berjuang melawan sakit. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh kantor berita pemerintah Mesir, Al-Ahram.
Semasa hidupnya, Nawal El Saadawi sendiri dijuluki sebagai feminis yang radikal. Hal ini juga diakui sendiri oleh Nawal el Saadawi. “Semakin bertambah usia, saya menjadi lebih radikal. Saya perhatikan bahwa para penulis, ketika mereka sudah tua, menjadi lebih mild. Tetapi bagi saya justru sebaliknya. Usia membuat saya lebih marah,” ungkap Nawal el Saadawi pada The Guardian.
Sebagai penulis, ia telah menulis dan menerbitkan lebih dari 55 buku dan ia menjadikan tulisannya sebagai cara untuk melawan ketidaksetaraan yang terjadi pada perempuan di Mesir. Karyanya berhasil membantu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi perempuan di Mesir dan di seluruh dunia. Ia banyak membahas masalah kontroversial seperti prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga dan fundamentalisme agama dalam tulisannya.
Selain itu, Saadawi juga telah melakukan berbagai kampanye untuk mengakhiri tradisi sunat perempuan yang sudah dialami oleh 140 juta perempuan di seluruh dunia. Saadawi menyuarakan isu tersebut karena dulunya pernah mengalami sendiri proses sunat perempuan.
Bisa dibilang, Saadawi adalah perempuan paling lantang di Mesir. Dunia mengenalnya sebagai feminis yang tak pernah takut menyuarakan apa yang diyakini. Ia juga disebut-sebut sebagai Simone de Beauvoir dari Mesir karena tulisan-tulisannya yang menentang penindasan terhadap perempuan Arab akibat tradisi kuno.
Perjalanan hidup dan karier Saadawi tidak pernah mudah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Pada 1972, buku non-fiksi karyanya yang bertajuk Women and Sex yang berisi kritikan atas sunat perempuan menyebabkan dia kehilangan pekerjaan sebagai direktur jenderal kesehatan masyarakat untuk Kementerian Kesehatan Mesir.
Kemudian pada 1981, pandangan politiknya yang sangat blak-blakan menyebabkan Saadawi didakwa melakukan kejahatan terhadap negara dan dipenjara selama tiga bulan. Penjara tidak menghentikan keinginannya untuk menulis. Selama tiga bulan di penjara, Saadawi menulis buku Memoirs From The Women's Prison menggunakan pensil alis di atas gulungan kertas toilet. Di tahun 1993, ia melarikan diri ke Amerika setelah ancaman pembunuhan terhadapnya dikeluarkan oleh kelompok agama.
Selamat jalan, Nawal El Saadawi!
