Perempuan Lebih Sering Ditanya Kapan Nikah saat Kumpul Lebaran, Apa Penyebabnya?

"Apa pertanyaan yang sering ditanyakan kepadamu saat kumpul Lebaran?" adalah pertanyaan yang kumparanWOMAN tanyakan lewat polling Instagram. Dari total 64 responden yang menjawab, 59,3 persen di antaranya atau sekitar 38 orang mengaku bahwa mereka sering ditanya pertanyaan 'kapan nikah?'.
"Mana calonnya? Kapan nikah?" ujar salah satu pengikut Instagram kumparanWOMAN
"Kapan nikah? Nikah jangan tua-tua, kamu perempuan. Aku senyum, doain saja ya, terima kasih," kata followers lainnya.
"Awalnya sih tanya kabar, lagi sibuk apa. Terus langsung tanya kapan nikah?" imbuh salah satu followers lainnya.
Sementara itu, sekitar 9,3 persen sisanya menjawab bahwa mereka sering ditanyakan pertanyaan seputar anak. Beberapa pertanyaan tersebut meliputi kapan hamil atau kapan tambah anak.
"Kali ini aku kena pertanyaan kok belum isi? Kok belum hamil? Ya Allah, memang aku Tuhan? Mana aku tahu kenapa aku belum hamil juga," curhat salah satu followers bernama Mentari.
"Belum nambah anak lagi mba? Anak pertama udah gede loh, udah bisa jadi kakak," kata followers kumparanWOMAN lainnya, menirukan ucapan dari keluarga.
Momen kumpul keluarga yang menjadi momok bagi banyak perempuan
Ladies, sadarkah kamu bahwa pertanyaan tentang 'kapan' ini hampir sering kita dengar ditanyakan oleh para keluarga. Momen berkumpul keluarga besar yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi sebuah momok bagi mereka yang sudah ‘cukup umur’ namun masih single. Biasanya, pertanyaan semacam ‘Kapan menikah, kok masih sendiri terus?’ menjadi template yang tak pernah berubah.
Menurut peneliti sosial vokasi Universitas Indonesia, Devie Rachmawati, fenomena pertanyaan ‘kapan nikah’ di Indonesia bisa dijelaskan secara ilmiah. Menurutnya, berdasarkan tipologi, masyarakat Indonesia termasuk ke dalam masyarakat komunal.
Hal inilah, kata Devie, yang mengakibatkan tidak adanya batasan antara kehidupan pribadi dan sosial. Akibatnya, tingkat ketergantungan individu terhadap masyarakat sosial sangat tinggi dan menimbulkan ekspresi dalam bentuk pertanyaan seputar kehidupan personal.
“Bagi masyarakat komunal, pertanyaan tersebut bukan sesuatu yang sifatnya menyinggung karena itu justru menunjukkan kepedulian mereka terhadap individu yang ada di lingkungan mereka,” jelas Devie.
Sementara itu, menurut psikolog Alvieni Angelica, pertanyaan spontan ini disebut juga sebagai autopilot. Berdasarkan penelitian ‘Autopilot Britain Study’ yang dilakukan lembaga Action For Happiness tahun 2017 silam, sekitar 96 persen orang hidup dengan autopilot. Artinya, banyak aktivitas dan perkataan yang diucapkan tanpa disadari.
“Sesuatu yang diulang-ulang, masuk jadi program bawah sadar seseorang, sehingga ketika orang berada di situasi sosial, maka kebanyakan orang akan berfungsi secara autopilot, termasuk menanyakan hal terkait pernikahan,” tutur Alvieni.
Memang, jika dipikir-pikir, pertanyaan soal pernikahan lebih banyak dilayangkan ke perempuan. Alvieni menuturkan, hal ini berkaitan dengan fungsi reproduksi perempuan. Secara biologis, perempuan punya kemampuan istimewa untuk melahirkan, sehingga muncul anggapan bahwa semakin tua, semakin sulit dan tinggi risiko melahirkannya.
Perasaan terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan ini membuat orang selalu mencari cara, bagaimana cara menjawab pertanyaan ini dengan tepat. Lalu apa yang harus kita lakukan ketika dihadapkan pada pertanyaan tersebut?
Alvieni menyarankan untuk meluangkan waktu dalam memikirkan diri sendiri. Apakah kita merasa nyaman dengan diri sendiri? Apakah kita tidak suka dengan diri sendiri? Atau hal-hal lain yang mungkin mengganjal di pikiran.
"Bila kita sendiri tidak suka dengan situasi kita saat ini, maka komentar society akan terasa seperti tekanan. Dalam hal ini, menemui psikolog bisa membantu untuk menguraikan rasa dan pemikiran yang kita rasakan sehingga kita bisa menjadi lebih objektif melihat situasi kita," tutup Alvie.
