Perempuan Pakistan Unggah Video Rayakan Perceraiannya, Ajak Patahkan Stigma
·waktu baca 3 menit

April lalu, seorang perempuan keturunan Pakistan bernama Shehrose Noor Mohammad mengunggah video dirinya merayakan perceraiannya. Meskipun banyak netizen yang mengkritik Shehrose akibat video tersebut, ia tetap bertekad mengajak masyarakat untuk mematahkan stigma soal perceraian.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram @shehrose, Shehrose tampak berdansa di depan tembok berhiaskan balon huruf. Balon-balon tersebut membentuk kalimat bertuliskan “Divorce Mubarak” atau “Selamat Atas Perceraianmu” dalam bahasa Indonesia.
Di kolom keterangan, ia menyebut bahwa tarian itu adalah “tarian kebebasan” usai melewati 18 bulan yang terasa sangat lama. Dilansir Hindustan Times, Shehrose menari dengan lagu latar bertajuk Zor Ka Jhatka. Lagu Bollywood tersebut menggambarkan pernikahan sebagai sebuah hukuman yang berlangsung seumur hidup.
Teman-teman Shehrose pun bersorak dengan semangat sembari menghujani pemenang kontes kecantikan Miss South Asia World 2024 itu dengan uang.
Dihujani kritik
Video Shehrose tersebut kemudian diunggah di Facebook oleh akun bernama My Home Islamabad. Video itu pun viral dan mengundang kritik keras dari netizen. Mereka menegaskan, perceraian bukanlah sesuatu yang seharusnya dirayakan atau dibanggakan.
“Perceraian seharusnya sama sekali tidak dirayakan. Ya, perceraian membebaskanmu dari hubungan toksik. Ya, perceraian membebaskanmu dari seorang yang narsistik. Ya, perceraian itu baik untuk kesehatanmu. Ya, kamu akan bisa pulih dari trauma,” komentar seorang pengguna Facebook.
“Namun, kalau kita mulai merayakan perceraian, semakin banyak orang yang akan takut menikah. Jumlah ibu tunggal yang merasa bangga sudah mengalami peningkatan. Ayah yang absen, bagi anak-anak, adalah trauma,” lanjutnya.
Dilansir Independent, kolom komentar unggahan Facebook tersebut diramaikan oleh orang-orang yang berasal dari Asia Selatan, seperti India dan Pakistan.
Di wilayah tersebut, perceraian masih dilekatkan dengan stigma buruk. Perempuan masih dianggap sebagai pihak yang harus mempertahankan martabat dan nama baik keluarga di hadapan masyarakat. Perempuan yang bercerai kerap kali dikucilkan dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
Selain itu, mengutip data oleh UNFPA Pakistan, 32 persen perempuan Pakistan pernah mengalami kekerasan fisik. 40 persen dari perempuan yang pernah menikah pernah mengalami kekerasan oleh suami selama hidupnya. Namun, angka itu merupakan fenomena gunung es, mengingat satu dari dua perempuan Pakistan yang menjadi korban kekerasan tidak pernah mencari pertolongan.
Shehrose merespons komentar-komentar negatif dengan mengatakan, orang-orang itu tampaknya lebih senang melihat perempuan menjadi korban kekerasan dibandingkan melihat perempuan bebas.
“Lucu sekali melihat kolom komentar ini dipenuhi oleh laki-laki dari negara yang mendukung pembunuhan istri, saudari, dan anak mereka dalam nama Islam. Kalian lebih senang melihat perempuan yang hidupnya menyedihkan, dipukuli, dimanfaatkan, dikasari, disiksa,” tulis Shehrose.
Ajak masyarakat patahkan stigma
Tak sedikit pula netizen yang justru mendukung Shehrose merayakan perceraiannya. Mereka mengatakan, tidak ada yang pernah tahu apa yang terjadi dalam pernikahan Shehrose hingga mendorongnya untuk bercerai.
“Selalu ada pernikahan yang toksik dan tak bisa diperbaiki, menjadikan perpisahan sebuah alasan untuk perayaan. Hidup itu singkat, jalanilah dengan semaksimal mungkin,” tulis seorang pengguna media sosial X (dulu Twitter).
Kepada The Print, Shehrose mengatakan, ia berharap video ini dapat mendorong perempuan untuk berani keluar dari pernikahan yang penuh kekerasan. Ia juga mengajak masyarakat untuk mematahkan stigma soal perceraian.
“Menurut saya, pola pikir seperti itu bisa diubah jika lebih banyak orang mulai merayakan diri sendiri saat keluar dari situasi buruk, seperti hubungan asmara, pekerjaan, atau pernikahan. Ini adalah pertama kalinya dan saya menerima respons buruk, tetapi saya harap, banyak orang yang bisa keluar dan berpartisipasi dalam gerakan ini,” ucapnya.
“Perlu lebih banyak orang yang maju dan mendukung hal-hal yang dianggap ‘di luar norma’, dan menyadari bahwa kamu boleh meninggalkan apa pun yang tidak menghargai nilai dirimu yang tinggi,” tegas Shehrose.
