Kumparan Logo

Perempuan Tangguh & KemenPPPA Bahu Membahu dalam Tingkatkan Kualitas Keluarga

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perempuan saling mendukung. Foto: Dok. Freepik @pressfoto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan saling mendukung. Foto: Dok. Freepik @pressfoto

Meski sudah mengalami banyak kemajuan, namun saat ini masih banyak isu yang menyelimuti perempuan dan anak-anak di Indonesia. Potensi perempuan untuk berkontribusi dalam pembangunan saat ini dinilai masih belum maksimal. Tak hanya itu, upaya perlindungan anak juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Kondisi ini diperlukan, mengingat anak dan perempuan masuk dalam kelompok rentan.

Dalam acara webinar ‘Women as Change Maker: Komitmen Bersama Pemberdayaan Perempuan untuk Mewujudkan Kualitas Indonesia yang Lebih Baik’ yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama kumparan, Indra Gunawan, PLT Deputi Bidang partisipasi Masyarakat KemenPPPA, menyebutkan bahwa isu perempuan dan anak-anak harus diperhatikan, terutama di masa pandemi seperti sekarang ini.

Indra Gunawan, PLT Deputi Bidang partisipasi Masyarakat Kemen PPPA. Foto: kumparan

"Di masa pandemi ini, kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat. Banyak perempuan yang terpaksa kehilangan usaha atau mengalami pemutusan hubungan kerja secara tiba-tiba. Belum lagi situasi pandemi yang berisiko untuk anak kehilangan orang tuanya karena terjangkit COVID-19, hingga sistem bekerja dari rumah yang juga banyak memberikan tekanan. Ini menjadi perhatian penting bagi KemenPPPA, dan dalam hal ini, peran keluarga sangat penting," ungkap Indra Gunawan pada Rabu (11/8)

Untuk mengatasi hal ini, KemenPPPA juga mendapatkan lima arahan dari Presiden RI, Joko Widodo. KemenPPPA diminta untuk melaksanakan peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan; peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/pengasuhan anak; penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak; penurunan pekerja anak dan pencegahan perkawinan anak.

embed from external kumparan

Dalam rangka mewujudkan arahan ini, kami tidak bisa sendiri. Oleh karena itu, kami berkoordinasi dengan banyak pihak seperti lembaga, akademisi, hingga pemangku usaha untuk memajukan perempuan dan anak," tambah Indra.

Dalam webinar yang diikuti oleh kurang lebih 500 peserta ini, KemenPPA juga mengajak berdiskusi beberapa pihak penting. Hadir sebagai pembicara, ASHOKA Regional Leader & Pendiri Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), Nani Zulminarni; pendiri Du Anyam, Yohana Keraf; Manager of CSR Astra, Wioko Yudhantara; dan pendiri Gerakan Anak Petani Cerdas, Heni Sri Sundani.

Peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan

Menurut Nani Zulminarni, kontribusi ekonomi perempuan itu sangat penting bagi negara. Ketika perempuan berpartisipasi secara setara dengan laki-laki dalam ekonomi, GDP global akan meningkat 26 persen di 2025 nanti. Namun saat ini masih banyak perempuan yang bekerja tanpa upah dan tidak bisa memaksimalkan potensi ekonomi karena beban domestik.

ASHOKA Regional Leader & Pendiri Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), Nani Zulminarni. Foto: kumparan

"Perempuan juga pendukung utama dari pekerjaan tanpa upah atau pekerjaan domestik yang secara langsung dan tidak berkontribusi pada ekonomi. Itu menjadi tanggung jawab perempuan walaupun tidak pernah dihitung atau diperhitungkan. Nah, sistem patriarki di negara kita ini membuat mereka tidak terlihat di sistem ekonomi kita, sehingga perempuan banyak mengalami tantangan yang menghambat kemajuannya," jelas Nani.

Masalah itu juga yang kemudian membuat Yohana Keraf, mendirikan Du Anyam, UMKM yang memberdayakan perempuan di NTT. Ia memahami bahwa sejak lama perempuan di NTT bergantung pada kehidupan bertani yang lahannya semua dimiliki oleh laki-laki, sehingga perempuan di sana tidak bisa bebas mengambil keputusan karena tidak merdeka secara ekonomi.

"Setelah melihat bahwa perempuan NTT punya warisan kemampuan menganyam turun-temurun yang tidak dimiliki oleh laki-laki, dan ada banyak bahan baku menganyam yang tersedia, kami mencoba menghadirkan perubahan untuk mereka. Harapannya, perempuan bisa memiliki pendapatan ekonomi sendiri dan bisa mengambil keputusan untuk dirinya dan keluarga," ungkap Yohana.

Usaha Du Anyam ini memang benar dirasakan manfaatnya oleh perempuan di NTT. Salah satunya adalah Ima Wotan, anggota pengurus posyandu yang kini menjadi fasilitator lapang Du Anyam. Sejak mengikuti pelatihan dari Du Anyam lima tahun lalu, perempuan yang akrab disapa Mama Ima ini tak hanya mendapat keuntungan secara ekonomi, tapi juga bisa belajar soal teknologi dan meningkatkan kepercayaan diri.

Ima Wotan, fasilitator lapang Du Anyam. Foto: kumparan

"Awalnya saya sempat ragu dengan kedatangan Du Anyam, tapi karena penasaran saya pun ikut bergabung. Dampak positif yang saya dan ibu-ibu penganyam rasakan itu menambah ekonomi keluarga. Kami juga jadi belajar menggunakan teknologi, melestarikan budaya, dan meningkatkan rasa percaya diri. Sekarang saya jadi lebih berani bicara di depan umum," cerita Mama Ima.

Meningkatkan peran ibu dan keluarga dalam mengatasi masalah pendidikan, pengasuhan, pekerja anak, dan perkawinan anak

Selain membahas mengenai pemberdayaan perempuan, webinar ‘Women as Change Maker’ juga membahas pentingnya peran komunitas dan pemangku usaha dalam upaya perlindungan anak. Hingga saat ini, secara global, data dari UNICEF pada 2019 menyatakan bahwa satu dari lima perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Sedangkan di Indonesia sendiri, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, satu dari sembilan anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun.

Webinar ‘Women as Change Maker: Komitmen Bersama Pemberdayaan Perempuan untuk Mewujudkan Kualitas Indonesia yang Lebih Baik’. Foto: kumparan

Tak hanya itu, pekerja anak juga perlu mendapat sorotan. Angka pekerja anak di Indonesia masih mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari Sakernas pada Agustus 2020, ada 3.36 juta anak usia 10-17 tahun dan 1.17 juta di antaranya merupakan pekerja anak. Dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini, angka pekerja anak semakin meningkat.

Untuk mengatasi hal ini, tentu dibutuhkan peran penting dari perempuan dan adanya kesetaraan yang terbangun di rumah. Adanya pembagian beban kerja tidak berbayar atau pekerjaan domestik yang setara bagi perempuan dan laki-laki bisa membuat keluarga lebih bahagia dan sejahtera.

Orang tua bisa memberikan pengasuhan yang lebih efektif, memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan diri semaksimal mungkin. Ini juga akan bisa mengubah pola pikir anak-anak untuk memiliki imajinasi setinggi mungkin dan berusaha mewujudkannya. Tidak hanya mentok pada pemikiran kawin di usia anak,” ungkap Nani Zulminarni.

Tapi tak hanya dari orang tua, pemangku usaha juga punya peran penting dalam hal ini. Mereka dinilai dapat menjadi salah satu pihak yang bisa membantu mengurangi angka pekerja anak. Salah satu perusahaan yang sudah memperhatikan isu ini adalah Astra Indonesia. Memiliki lebih dari 200 anak perusahaan, pihak Astra Indonesia merasa memiliki peran penting untuk bisa menekan angka pekerja anak di bawah umur.

Manager of CSR Astra, Wioko Yudhantara. Foto: kumparan

"Kami sangat mendukung pencegahan pekerja anak di bawah umur. Kami memastikan bahwa setiap perusahaan di grup Astra tidak lagi mempekerjakan anak di bawah umur. Dari mulai pekerja magang hingga kontrak, semua diseleksi secara khusus. Sayangnya, masalah ini juga dipicu oleh hal lain. Di masyarakat sendiri ada banyak hal yang memaksa anak-anak untuk bekerja, termasuk soal kondisi ekonomi dan pendidikan rendah. Ini menjadi masalah besar yang perlu kita atasi bersama untuk mengurangi pekerja di bawah umur," ungkap Manager of CSR Astra, Wioko Yudhantara.

embed from external kumparan

Usaha ini juga dilakukan oleh pendiri Gerakan Anak Petani Cerdas, Heni Sri Sundani. Ia bersama organisasinya berusaha mengentas kemiskinan melalui pendidikan anak.

Pendiri Gerakan Anak Petani Cerdas, Heni Sri Sundani. Foto: kumparan

"Pendidikan adalah senjata ampuh untuk memutus kemiskinan. Itu sudah saya buktikan sendiri, saya berasal dari keluarga yang sangat miskin. Saya sendiri sampai harus jadi TKI untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun saya punya tekad untuk bisa jadi sarjana. Kemudian setelah pulang ke Indonesia, saya membentuk Gerakan Anak Petani Cerdas untuk membantu anak-anak supaya mereka bisa keluar dari jerat kemiskinan dan meraih impian mereka," jelas Heni.

embed from external kumparan

Pemaparan dari seluruh narasumber dari diskusi KemenPPPA ini memberikan contoh nyata bahwa semua pihak memiliki peran penting untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Semua pihak saling bersinergi, sehingga isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak ini bisa diatasi dan Indonesia dapat menjadi negara yang lebih maju dengan generasi penerus yang berkualitas. Perempuan berdaya, anak terlindungi, Indonesia Maju.