kumparan
13 Mei 2019 13:00

Role Model: The Unstoppable Dian Pelangi

Dian Pelangi, Modest Fashion Designer
Dian Pelangi untuk program Role Model kumparanWOMAN. Stylist: Anantama Putra, Makeup: Philipe Karunia, Busana: Dian Pelangi. Foto: Hakim Satriyo
Mewujudkan wawancara eksklusif dengan sosok Dian Pelangi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Pasalnya, desainer modest fashion kenamaan Indonesia ini bisa dikatakan sangat-sangat sibuk. Sehingga tim kumparanWOMAN harus beberapa kali mengganti jadwal wawancara dan pemotretan.
Dian seringkali melakukan perjalanan, baik untuk fashion show, menjadi pembicara dan lain-lain, mulai dari New York, London atau Malaysia. Traveling sudah menjadi bagian kesibukan yang penting bagi Dian.
Setelah sempat beberapa kali berganti jadwal, akhirnya kami mendapatkan tanggal yang bisa disepakati. Di tanggal yang sudah ditentukan tersebut, Dian Pelangi datang dengan pakaian serba hitam dan menyapa tim kumparan dengan hangat dan meminta maaf karena sedikit terlambat. Dian memang sosok yang terkenal ramah, baik di kalangan awak media, klien, atau di kalangan teman dan keluarganya.
Tetapi meski terlihat lemah lembut, perempuan 28 tahun ini menyimpan ambisi dan passion yang sangat kuat. Unstoppable, begitu katanya kepada kami saat sesi wawancara dan pemotretan.
Karakter perempuan yang passionate, berani bermimpi, dan dinamis yang selalu digambarkan Dian Pelangi dalam koleksi-koleksinya ternyata tercermin langsung pada sosok perempuan bernama asli Dian Wahyu Utami ini.
Sebagai desainer modest fashion, nama Dian Pelangi telah dikenal hingga ke tingkat dunia. Karyanya berhasil tampil di peragaan mode dunia seperti New York Fashion Week dan London Fashion Week.
Tak hanya berkiprah di dunia fashion, Dian juga dikenal luas di industri kecantikan dalam kiprahnya sebagai Brand Ambassador kosmetik lokal Wardah sejak lama. Dengan jumlah followers di media sosial hingga lebih dari 4 juta, Dian telah menjadi panutan bagi banyak perempuan Indonesia.
Kepada kumparan, Dian Pelangi cerita banyak soal pengalamannya tampil di panggung fashion dunia, kehidupan pribadi, dan impian-impiannya ke depan. Simak obrolan hangat kami bersama Dian Pelangi berikut ini.
Pada Januari 2019 lalu, Dian berkesempatan untuk memamerkan koleksi di New York Fashion Week. Bisa diceritakan pengalaman tampil di ajang fashion bergengsi ini?
Alhamdulillah ini merupakan yang ketiga kalinya saya ke New York. Rasanya tetap excited tapi sudah tahu apa saja yang harus dikerjakan, sudah tahu tantangannya seperti apa kalau di New York.
Saat itu saya ditawari oleh Wardah untuk berangkat ke New York Fashion Week (NYFW) sekitar bulan Desember untuk tampil di bulan Februari. Saya sempat tidak percaya karena kali ini tampilnya di The Show, level panggung tertinggi di NYFW. Tahun 2018 lalu saya di First Stage, panggung untuk desainer yang masih newbie.
Saya benar-benar tidak percaya karena New York itu adalah kota yang luar biasa, ketika kesana kita harus punya banyak impian yang diwujudkan. Karena bermimpi di New York itu tidak akan ada habisnya. Saya merasa senang sekali dan langsung menyiapkan koleksi.
Dian Pelangi
Dian Pelangi saat tampil di panggung The Show, New York Fashion Week 2019. Foto: dok. @dianpelangi/ Instagram
Saat di NYFW, Dian mengusung tema #Socialove yang sebelumnya sudah tampil di Jakarta Fashion Week. Bisa ceritakan mengenai koleksi tersebut dan kenapa Dian kembali mengusung tema itu?
Selain karena waktunya mepet, tema #Socialove juga dipilih karena saya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk promosi di pasar internasional. Akhirnya dibikin lagi koleksi tersebut tapi dengan look yang sedikit berbeda. Ada tambahan beberapa look dan main styling juga, total ada 12 koleksi.
Alasan lainnya juga karena saya dibawa oleh Wardah ke New York dan juga saat di Jakarta Fashion Week, saya mendapat tema dari Wardah itu kota New York. Jadi saya rasa #Socialove memang sangat tepat untuk dibawa ke New York.
#Socialove ini sangat menonjolkan gaya street style. Inspirasinya datang dari cara padu padan fashionista di New York, grafiti-grafiti di sana, tulisan, dan juga pergerakan dari media sosialnya. Sedangkan untuk pilihan warna didominasi oleh warna hitam dan merah muda. Warna merah muda ini terinspirasi dari Wardah Instaperfect.
Selama proses pembuatan koleksi ini saya didampingi oleh Wardah. Saya merasa terbantu dan sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari mereka. Wardah tidak hanya menjadikan saya sebagai brand ambassador, tapi juga merangkul mimpi-mimpi saya.
Dian Pelangi
Tampilan koleksi #Socialove yang diusung Dian Pelangi ke New York Fashion Week 2019. Foto: dok. @dianpelangi/ Instagram
Pada beberapa koleksi terakhir, baik yang dibawa ke NYFW atau di JFW, Dian mendesain dan membuat koleksi yang sangat berbeda dari koleksi Dian Pelangi sebelumnya. Lebih modern dan milenial. Apa yang mendasari perubahan tersebut?
Dian Pelangi sendiri memiliki empat label, ada Prive, Krama, Nom, dan Dian Pelangi Men. Nah untuk #Socialove ini lebih masuk ke Prive karena mengikuti tren yang ada di fashion dunia. Tapi ini gayanya saja yang sporty, sebenarnya koleksinya bisa juga dipakai oleh ibu-ibu. Setiap membuat koleksi, saya selalu melihat kebutuhan pasar. Karena yang sedang tren temanya sporty dan casual, jadi saya buat yang seperti itu.
Saya tidak rebranding, karena yang saya kuatkan di setiap koleksi adalah karakter, bukan motif atau warnanya. Menurut saya ciri khas sebuah brand itu bukan dari warna atau motifnya tapi dari karakter.
Saya lebih menonjolkan karakter perempuan seperti apa yang ingin digambarkan oleh Dian Pelangi. Perempuan yang sesuai juga dengan campaign Wardah yang juga menjadi salah satu inspirasi saya dalam membuat koleksi ini. Saya ingin yang memakai koleksi ini adalah perempuan yang unstoppable, punya ambisi, mimpi, achievement, passionate, maka dari itu tampilannya lebih berani bermain warna, motifnya lebih festive, potongannya kuat, sangat merepresentasikan lady boss.
Dian Pelangi
Dian Pelangi mendandani model saat di backstage New York Fashion Week 2019. Foto: dok. @dianpelangi/ Instagram
Dian bisa dibilang turut menjadi trendsetter modest fashion di Indonesia, membuat hijab memiliki identitas lebih modern dan cantik. Bagaimana pendapat Dian tentang ini?
Sebenarnya I just do what I like and I do it passionately. Dan saya juga orang yang sangat ambisius (in a good way). Karena itu saya jadi bisa lebih passionate dan merasa yang saya lakukan ini bisa juga menginspirasi orang lain.
Oleh karena itu, sejak saya lulus kuliah desain dan menjadi desainer, saya mulai membuat baju muslim. Ternyata banyak yang suka dan orang meminta saya untuk aktif di media sosial dan mempromosikan desain saya di sana. Sejak saat itu jadi banyak yang tanya soal tutorial hijab dan segala macam, saya jadi merasa bermanfaat bagi orang.
Dian meneruskan bisnis keluarga yang sudah berusia hampir seusia Dian sendiri ya, apakah dari dulu memang ingin terjun dalam bisnis yang didirikan keluarga atau ada keinginan lain?
Sebenarnya saya punya keinginan lain dan dulu desainer itu bukan cita-cita saya. Sejak kecil saya hobi menyanyi dan gambar rumah karena Bapak dulu kerja di bidang sipil. Tapi karena Dian Pelangi memang sudah dibuat dari saya kecil, jadi saya sudah diajarkan untuk bikin baju, main sama pembatik, penjahit, hingga melayani tamu di butik. Saya memang tumbuh dengan Dian Pelangi ini.
Akhirnya sampai pada titik di mana Ibu tidak memperbolehkan saya beli baju baru, kalau ingin baju baru saya harus gambar sendiri dan minta dibuatkan sama tukang jahit butik yang ada di belakang. Jadi dari dulu saya memang sudah ditantang untuk bikin baju sendiri. Itu cara Ibu mendidik saya untuk tertarik dengan dunia fashion design.
Inilah saya yang sekarang. Kenapa bisa jadi fashion designer? Karena memang dari kecil sudah nyemplung di dunia ini. Nowhere to go, tapi untungnya saya senang dengan apa yang saya lakukan sekarang.
Apakah saat ini Dian menjalankan perusahaan dan brand Dian Pelangi sendiri atau bersama keluarga?
Saat mulai menjalankan bisnis ini saya didampingi keluarga. Di usia 18 tahun saya lulus dari sekolah desain ESMOD Jakarta dan pada saat itu saya mulai sepenuhnya menjalankan perusahaan ini.
Tapi dengan didikan Bapak, awalnya saya tidak dikasih langsung untuk terjun menjadi desainer Dian Pelangi. Saya sempat kerja jaga kios di Tanah Abang. Bapak saya tidak ingin setelah lulus kuliah saya enak-enakan jadi desainer. Ketika teman-teman saya mulai berkarier, saya tidak. Bapak bilang saya harus latihan jualan, saya disewakan kios di Tanah Abang selama enam bulan. Saya jualan baju yang saya buat sendiri agar saya juga tahu bagaimana cara menjualnya. Segitunya Bapak ingin mendidik saya. Saya menikmati proses itu tetapi juga mengalami pergolakan batin, sambil berjualan sambil berandai-andai kapan saya bisa menyelesaikan ini dan terjun jadi desainer.
Dian Pelangi, Modest Fashion Designer
Dian Pelangi untuk program Role Model kumparanWOMAN. Stylist: Anantama Putra, Makeup: Philipe Karunia, Busana: Dian Pelangi. Foto: Hakim Satriyo
Bisa ceritakan sedikit tentang keluarga? Seperti apa didikan dari orang tua?
Bapak dan ibu saya itu keras. Dari kecil saya sudah terbiasa dengan didikan mereka yang tegas. Salah satu contohnya adalah ketika lulus SMP saya ingin masuk SMA, tapi Bapak mau saya masuk SMK. Saya ingat sebulan dua bulan pertama saya menangis karena tidak betah sekolah di SMK. Tapi karena Bapak keras jadi saya harus nurut. Akhirnya saya jalankan apa yang Bapak minta. Namun pada akhirnya, perjuangan itu membuat saya berterimakasih karena di SMK saya banyak belajar.
Bapak tidak hanya mengajarkan dunia fashion dan berbisnis itu seperti apa, tapi juga banyak mengajarkan nilai-nilai kehidupan terutama tentang bagaimana kita harus bersikap baik dengan orang-orang yang posisinya ada di bawah kita. Bapak memiliki pendapat bahwa hidup di atas itu gampang, siapa yang tidak bisa hidup di atas? Tapi untuk hidup di bawah itu tidak semua orang bisa melakukannya. Dan itu yang harus saya pelajari. Saya harus bisa seimbang dalam menjalani hidup. Hingga sekarang pelajaran itu saya terapkan ketika menghadapi para karyawan dan tim di Dian Pelangi.

Secara personal saya ingin bisa membawa hijab bisa sampai ke ranah internasional. Itu juga salah satu tantangan bagi saya untuk mengubah persepsi orang soal hijab.

Sebagai seorang desainer mode, bagaimana Dian memaknai pencapaian tertinggi? Apakah dengan kesempatan untuk tampil pada ajang fashion bergengsi NYFW atau ada hal lain?
Kemarin, impian tertinggi saya dalam berkarier adalah ingin tampil di Amerika Serikat. Dan dengan berangkatnya saya ke New York sampai tiga kali dan akhirnya bisa tampil di panggung The Show, berarti impian terbesar saya sudah tercapai.
Tentu saya merasa puas dengan hasil tersebut. Tapi ternyata ketika berada di atas, saya merasa itu justru menjadi titik balik saya. Saat sudah tahu keadaan ‘di atas’ (Amerika Serikat), saatnya saya balik lagi ke Indonesia dan berbuat lebih baik lagi. Saya menyadari, saat sudah berada di atas, kita harus tahu bagaimana caranya agar pencapaian ini tidak membuat orang lain kecewa.
Pulang dari New York saya justru ingin balik ke Pekalongan. Sekarang saya sering ke Pekalongan untuk kumpul dengan keluarga dan ketemu karyawan. Saya banyak berbagi pengalaman dan ide-ide baru, memberitahu mereka bahwa sekarang kita sudah sampai di titik ini, menanamkan nilai-nilai yang selama ini saya dapat di sepanjang perjalanan karier saya. Karena ketika impian yang tinggi itu sudah dicapai kita akan menyadari bahwa itu bukan segalanya. Apa yang akan kita lakukan setelah goals kita itulah yang penting.
Lalu apa rencana Dian setelah ini? What’s next?
Kegiatan ini sebenarnya sudah saya lakukan dari tahun lalu begitu pulang dari fashion show di New York. Saya ingin membentuk generasi selanjutnya. Ingin mendorong anak-anak muda untuk melakukan apa yang saya lakukan juga. Tahun 2018 lalu saya sempat mengunjungi 5 SMK di Indonesia, yaitu di Yogyakarta, Medan, Pekalongan, Bandung, dan Surabaya. Selain itu juga ke universitas yang ada jurusan tata busananya. Saya merasa ini tugas saya untuk mempersiapkan generasi selanjutnya, membuat mereka percaya diri dan meyakinkan bahwa apa yang dilakukan itu adalah hal baik dan benar. Di sana saya bisa merasakan adanya mimpi dan harapan. Jadi kedepannya saya akan memperbanyak kegiatan itu.

Saya merasa ini tugas saya untuk mempersiapkan generasi selanjutnya, membuat mereka percaya diri dan meyakinkan bahwa apa yang dilakukan itu adalah hal baik dan benar.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi selama kurang lebih 10 tahun membangun bisnis dan membangun nama di dunia fashion?
Kalau tantangan mungkin lebih kepada saat membuat koleksi. Karena kebanyakan semua masih buatan tangan, jadi proses pembuatannya bergantung pada cuaca. Itu pekerjaan rumah bagi saya dan tim untuk memperbaiki proses produksi. Karena kadang permintaan pasar tinggi tapi produksi justru terhambat.
Selain itu, secara personal saya ingin bisa membawa hijab bisa sampai ke ranah internasional. Itu juga salah satu tantangan bagi saya untuk mengubah persepsi orang soal hijab.
Apakah Dian pernah mengalami masa-masa sulit? Seperti apa dan bagaimana cara Dian mengatasinya?
Pasti, pasti setiap orang memiliki titik terendah termasuk saya. Dan untuk saya masalah pribadi pasti mempengaruhi pekerjaan. Tapi saya beruntung punya keluarga, tim, dan teman-teman yang selalu mendukung dan memberi semangat. Jadi saya juga tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Karena kalau sedih atau down sendiri, itu sangat sulit sekali mengatasinya. Apalagi kalau sedang sendiri saya suka overthinking. Tapi dengan adanya orang-orang terdekat, mereka bisa membantu saya untuk lupa akan masalah-masalah yang ada. Jadi lebih cepat move on.
Dian Pelangi, Modest Fashion Designer
Dian Pelangi untuk program Role Model kumparanWOMAN. Stylist: Anantama Putra, Makeup: Philipe Karunia, Busana: Dian Pelangi. Foto: Hakim Satriyo
Dian sempat mengalami masalah dalam kehidupan pribadi, dalam hubungan pernikahan. Bagaimana cara Dian melaluinya? Apa pelajaran penting yang dipetik dari pengalaman tersebut?
Ya, that’s life. Tidak ada manusia yang sempurna. Dengan adanya masalah itu saya jadi tahu kenapa karier saya dibuat lancar oleh Allah, rezeki selalu datang, semua mudah sekali dijalani, karena itu semua untuk menutupi kekurangan ini.
Masalah ini juga untuk mengingatkan bahwa sesukses apapun seseorang pasti tetap ada kekurangannya. Ambillah itu sebagai kekurangan saya, bukan kesalahan karena hidup memang seperti itu. Mungkin itu kekurangan saya, ujian saya di situ, ujian itulah yang membuat kita menjadi manusia. It take flaws to be a human.
Waktu baru bercerai, banyak sekali komentar yang masuk di media sosial. Dan karena saya dikenal orang, mereka jadi menyalahkan saya. Menganggap saya kebanyakan kerja dan terlalu ambisius. Saya tidak pernah menganggap itu serius dan semua saya terima saja, tidak saya tolak. Apapun tanggapan mereka silahkan saja. Sebenarnya itu sempat bikin saya down tapi karena ada support dari teman-teman dan keluarga, saya jadi lebih kuat.
Selain sebagai desainer, Dian juga dikenal sebagai influencer dan social media darling. Seberapa penting peran media sosial dalam perjalanan karier Anda?
Media sosial itu penting sekali. Media sosial itu aset saya, saya investasi banyak sekali untuk media sosial. Mulai dari handphone yang bagus, kamera yang bagus. Saya mengatur semuanya sedemikian rupa. Mulai dari foto, caption semua saya pilih yang terbaik. Saya tidak pernah sembarangan karena saya merasa apa yang kita posting itu adalah tanggung jawab kita.
Sebagai perempuan dengan segudang kesibukan, bagaimana cara Dian menjaga kesehatan?
Saya selalu istirahat yang cukup. Setelah melakukan perjalanan panjang dan ada pekerjaan lain, saya akan kasih jeda waktu kurang lebih dua hari, baru mulai aktivitas lagi. Manajemen waktu itu penting juga untuk kesehatan, kapan waktunya kerja, istirahat, olahraga. Untuk menjaga stamina saya mengkonsumsi lemon dan madu.
Dian Pelangi
Biografi Dian Pelangi. Foto: Sabryna Putri Muviola/ kumparan
Kalau untuk me time, apa saja yang biasa Dian lakukan?
Saya me time-nya kumpul dengan keponakan-keponakan. Keponakan saya ada dua, yang satu umur satu tahun dua bulan namanya Niza, yang kedua Didan. Saya lumayan lega dengan adanya mereka karena dulu saya yang diharapkan orang tua (untuk punya anak). Jadi waktu kakak saya menikah saya bahagia sekali. Waktu dapat kabar kakak hamil, saya juga senang sekali sampai menangis. Ya, paling tidak adalah di keluarga yang bisa membahagiakan orang tua dengan memberi cucu.
Terakhir, kalau punya kesempatan untuk bicara dengan Dian waktu masih muda, apa yang akan Dian katakan?
I forgive you, It’s ok to make mistakes. Tidak apa-apa berbuat kesalahan, karena dulu saya sangat perfectionist, semua harus sempurna. Saya ingin bilang sama diri saya dulu bahwa salah itu hal yang normal, jadi tidak apa-apa. Tapi yang terpenting harus bangkit lagi.
Ikuti cerita inspiratif lainnya dari Dian Pelangi eksklusif untuk kumparan pada topik Role Model
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan