kumparan
14 November 2019 8:56

Sejarah di Balik Tradisi Bertekuk Lutut saat Melamar Kekasih

Ilustrasi melamar saat traveling
Ilustrasi melamar kekasih Foto: Shutter Stock
Ada banyak cara yang dilakukan para pria saat melamar kekasihnya. Mulai dari memberikan kejutan dengan makan malam romantis, melamar saat pergi berlibur seperti yang dilakukan Pangeran William, hingga menggelar surprise yang melibatkan keluarga dan teman dekat.
ADVERTISEMENT
Dan cara tersebut biasanya juga diikuti dengan tradisi bertekuk lutut di depan pasangan sambil menyodorkan cincin.
Pernahkah Anda berpikir dan bertanya-tanya di dalam hati, mengapa banyak pria yang menekuk satu lutut di depan pasangannya saat akan melamar?
Sebenarnya, tidak ada sumber pasti yang menyebutkan dengan jelas di mana dan sejak kapan tradisi bertekuk lutut untuk melamar kekasih ini dimulai. Melansir Elite Daily, para ahli sejarah mengatakan tradisi bertekuk lutut ini mulai sejak abad ke-5 hingga ke-15 dan banyak dilakukan oleh para ksatria.
Ksatria pada zaman dulu yang berlutut di hadapan raja atau tuannya sebagai bentuk pengabdian mereka. Ksatria juga akan berlutut dengan satu kaki saat menerima penghargaan dan penghormatan.
ADVERTISEMENT
Pose berlutut ini pun diikuti oleh para pria sebagai bentuk penghormatan kepada pasangannya sekaligus menggambarkan rasa cinta yang tulus. Pada zaman dulu, banyak pria dari kalangan bangsawan yang melakukan berbagai gestur romantis kepada pasangannya, salah satunya adalah menulis puisi sebagai lambang kasih sayang.
Menurut para ahli sejarah, definisi pacaran atau menjalin hubungan pada zaman dahulu adalah melayani pasangan sebagai pembuktian cinta. Dalam hal ini, berlutut satu kaki termasuk sebagai simbol 'menyerahkan diri' untuk mengasihi dan melayani pasangan.
Ilustrasi melamar pasangan
Ilustrasi melamar pasangan Foto: Shutter Stock
Pada zaman modern ini, berlutut saat akan melamar kekasih adalah hal yang umum dilakukan sebagai bentuk ekspresi diri. Selain itu, gestur berlutut ini pun banyak dilakukan dalam situasi tertentu. Misalnya pada saat ibadah atau melakukan upacara keagamaan, termasuk pula janji pernikahan di gereja atau kuil. Dari segi spiritual, berlutut memiliki konotasi yang dapat dilihat sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan.
ADVERTISEMENT
Sehingga dapat disimpulkan, tradisi menekuk satu lutut yang dilakukan pria saat akan melamar kekasihnya memiliki arti sebagai bentuk penghormatan bagi perempuan yang akan dinikahinya. Pria berlutut untuk meminta perempuan menjalani hidup bersama sekaligus mengarungi kehidupan yang bahagia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan