Semarak Interpretasi Cinta 5 Desainer di Fashion Show LAKON Store di JF3
·waktu baca 4 menit

Ketika bicara cinta, setiap desainer fashion punya jalannya sendiri untuk menginterpretasi. Inilah yang menjadi jantung fashion show LAKON Store bertajuk P.S. I Love You yang digelar di JF3 Fashion Festival, Summarecon Mall Serpong, Sabtu (2/8) lalu.
LAKON Store mengajak lima brand desainer muda lokal untuk mempresentasikan rancangan modenya di atas runway. Mereka adalah byDree, Saroengan, Kyrra, Oxford Society, dan Senja Sore. Terhimpun dalam satu tema utama, yakni cinta, mereka menerjemahkan makna kasih sayang ke atas lembaran kain lewat pemilihan warna, siluet, hingga motif.
Begini cara para desainer menginterpretasikan cinta lewat karya mereka—diawali dengan rasa cinta terhadap diri sendiri dan kekuatan perempuan, diakhiri dengan kasih yang sunyi, tenang, dan temaram.
1. byDree
byDree membuka peragaan busana ini dengan lagu upbeat, menggaungkan esensi cinta yang sesungguhnya: Cinta pada diri sendiri. Lewat koleksi bertajuk 'Saudade', 18 looks yang dihadirkan merepresentasikan kekuatan perempuan, rasa cinta pada diri sendiri, serta rasa rindu akan kesetaraan gender.
“Kami merindukan sebuah gebrakan. Sebuah terobosan yang mampu mendobrak batas, di mana perempuan Indonesia bisa berkarya, melangkah, dan berdiri sejajar dengan siapa pun, tanpa ragu dan tanpa harus memilih antara kuat atau anggun,” ungkap byDree dalam keterangan resminya.
Koleksi ini didominasi oleh kain denim yang kuat, tetapi tetap mengikuti lekuk tubuh perempuan. Siluetnya pun beragam, mulai dari oversized vest, celana jeans longgar, blus denim, jaket denim, hingga kemeja dan dress. Aksesori dari denim pun turut ditampilkan, seperti leg warmers yang chic.
2. Saroengan
Kata siapa sarung ketinggalan zaman? Brand lokal Saroengan membuktikan bahwa sarung juga bisa dirancang menjadi pakaian yang trendi dan stylish. Terdiri dari 18 looks, koleksi bertajuk “Bayang” ini hadir dalam palet warna monokromatik yang menyulap sarung menjadi rok, kain bawahan, blus, tanktop, bahkan aksesori seperti dasi dan bros.
Menurut Co-Founder Saroengan Yaafi Yosandi, koleksi Bayang memiliki kaitan dengan konsep kelahiran kembali atau rebirth; berkaca pada cinta yang tidak abadi, tetapi bisa terlahir kembali. Ia ingin mengembalikan kembali sarung ke kejayaannya, di mana sarung tak hanya disimpan saja di lemari, tetapi dipakai.
“Kami mau melahirkan kembali sarung. Dulu dipakai, sekarang banyaknya disimpan. Padahal, kita mau mengembalikan sarung agar bisa dipakai, supaya tidak hanya ada di bayang-bayang saja. Sekarang, sudah semakin banyak yang berani berkain dan brand lokal pun merancang kain Indonesia dengan gaya baru; ini membuat tradisi sarungan ke dalam gaya yang relevan dan timeless,” kata Yaafi di konferensi pers.
3. KYRRA
KYRRA hadir sebagai ledakan warna dan motif di tengah lakon peragaan busana. Bertemakan ‘Oasea’ yang terinspirasi dari oasis, koleksi ini menghadirkan deretan busana bernuansa musim panas yang menyenangkan.
KYRRA memadukan keramaian motif alam dengan warna pastel lembut, dikemas dalam siluet busana yang feminin dan flowy. Rok asimetris, rok mini bertumpuk, hingga dress menjadi highlight dalam koleksi ini.
“Berasal dari kata Oasis, koleksi ini menginterpretasikan ketenangan di tengah kekacauan. Koleksi ini menawarkan feminitas modern yang merayakan seluruh perempuan. Kali ini, kami mengombinasikan warna lembut seperti biru muda, kuning, cokelat, dengan siluet yang lebih bold seperti mantel atau rompi,” jelas Co-Founder KYRRA, Imelda.
4. Oxford Society
Menuju akhir, Oxford Society menawarkan busana bernuansa preppy dan dewasa lewat koleksi bertajuk ‘Undeserved Love’. Sebanyak 18 tampilan dalam koleksi ini didominasi oleh nuansa monokromatik hitam, putih, dan abu, dengan sedikit sentuhan warna merah yang terinspirasi dari lambang cinta, yakni bunga mawar.
Deretan busana menswear ini hadir dengan siluet yang cukup tegas, menggambarkan situasi cinta yang dewasa atau mature. Menurut owner Oxford Society, Brian Sutedja, koleksi office wear ini merepresentasikan cinta yang intim dan penuh koneksi mendalam.
“Koleksi ini membawa tema PS. I Love You: Undeserved Love. Ini bicara tentang cinta; setiap orang merasakan cinta. Ada cinta yang apa adanya (given), tapi ada juga cinta yang membutuhkan koneksi mendalam dan intim. Koleksi ini mengutarakan anugerah cinta yang rasanya tak pantas buat diterima,” jelas Brian.
5. Senja Sore
Yang menutup fashion show LAKON Store adalah koleksi tenang dan temaram oleh Senja Sore. Bertajuk ‘Bara’, koleksi ini didominasi oleh warna hitam dan merah dalam siluet busana yang feminin, lembut, dan berani. Mulai dari kebaya hitam berdetail cutout di punggung, loose dress panjang yang anggun, hingga rok dan blus yang terbuat dari kain tradisional dari Lasem, Pekalongan, dan Tuban.
Menurut Co-Founder Senja Sore, Philan, Bara merepresentasikan cinta yang sunyi, berkontras dengan ide bahwa cinta harus selalu menggelora.
“Kami membawa spektrum cinta yang tidak berapi-api, tetapi lewat kesunyian dalam warna hitam. Merah melambangkan cinta bergelora, tapi warna hitam itu tenang. Kita mau membawa ide bahwa cinta juga bisa tenang,” jelas Philan.
