Kumparan Logo

Survei: 50 Persen Anak Muda Pilih Tunda Keputusan Hidup Besar Seperti Menikah

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Buket pernikahan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Buket pernikahan. Foto: Shutterstock

Bagi banyak orang, pernikahan dan membangun keluarga menjadi salah satu pilihan hidup yang ingin dicapai. Kendati demikian, institusi pernikahan merupakan keputusan besar yang perlu dipertimbangkan matang secara matang dari berbagai aspek, termasuk finansial.

Meskipun menjadi impian banyak orang, termasuk anak muda, nyatanya keputusan untuk menikah dan berkeluarga kini justru ditunda. Hal ini terungkap dalam laporan yang dirilis oleh Deloitte pada Mei 2026.

Bertajuk 2026 Global Gen Z and Millennial Survey, laporan ini menjabarkan hasil survei terkait kehidupan Gen Z dan Milenial terkait kondisi finansial, kepemimpinan, karier, serta proyeksi masa depan. Salah satu poin yang disorot dalam laporan ini adalah betapa kondisi keuangan Gen Z dan Milenial menentukan arah dan pilihan hidup mereka.

Ilustrasi perempuan pusing memikirkan keuangan. Foto: BongkarnGraphic/Shutterstock

Menurut Deloitte, selama lima tahun berturut-turut, biaya hidup yang tinggi di seluruh dunia menjadi perkara besar bagi para Gen Z dan Milenial. Ini akhirnya menciptakan tren baru bagi generasi muda, yaitu tren “maybe later” alias “mungkin nanti”.

Survei mengungkap, Gen Z dan Milenial saat ini cenderung menunda keputusan besar dalam hidup, seperti menikah dan berkeluarga.

“Lebih dari setengah responden Gen Z (55 persen) dan Milenial (52 persen) mengatakan, mereka memilih menunda keputusan besar dalam hidup mereka, seperti pernikahan, memulai membangun keluarga, melanjutkan pendidikan, atau meluncurkan usaha, akibat situasi keuangan mereka,” demikian isi laporan tersebut, dikutip kumparanWOMAN pada Kamis (20/8).

Menurut para Gen Z dan Milenial, biaya hidup justru jadi hal paling krusial dibandingkan dengan tingkat kriminalitas, kesehatan mental, angka pengangguran, dan stabilitas politik. Sebanyak 51 persen Gen Z dan 40 persen Milenial bahkan mengaku tidak mampu untuk membeli rumah.

Ilustrasi pasangan. Foto: Chay_Tee/Shutterstock

Permasalahan biaya hidup tinggi dan kondisi keuangan yang tidak stabil juga tercatat dalam laporan tahunan oleh UNFPA. Menurut laporan bertajuk Survei Masa Depan Geografi yang dirilis pada Juli 2026, masih banyak anak muda yang ingin menikah dan memiliki anak.

Laporan tersebut mencatat, anak muda tidak menolak untuk berkeluarga. Namun, pilihan mereka dibatasi oleh kendala sistemik. 81 persen anak muda menyebut ketidakamanan ekonomi jadi penghambat, sementara 57 persen mengatakan kepemilikan rumah jadi kendala.

"Orang muda ingin memiliki masa depan yang stabil. Ketika mereka menunda untuk berkeluarga, itu adalah respons rasional terhadap kondisi yang belum mendukung, seperti ketidakstabilan ekonomi dan kurangnya dukungan sosial,” ucap Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia, Hassan Mohtashami, dalam keterangan resminya.

Ilustrasi Pernikahan. Foto: Shutterstock

Kendati demikian, Gen Z dan Milenial tetap menyimpan harapan soal masa depan mereka. Laporan Deloitte mengungkap, 53 persen Gen Z dan 45 persen Milenial optimistis kondisi keuangan mereka akan membaik dalam satu tahun ke depan.