Kumparan Logo
Ilustrasi Menstruasi
Ilustrasi Menstruasi

Termasuk Bentuk Diskriminasi, Apa Itu Istilah Period Stigma?

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Period Stigma. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Period Stigma. Foto: Shutterstock

Ladies, pernah mendengar istilah period stigma sebelumnya? Jika belum, istilah ini adalah istilah yang berhubungan dengan hal-hal yang mendiskriminasi perempuan ketika sedang dalam masa menstruasi.

Bentuk-bentuk diskriminasi tersebut tidak jauh dari hal-hal yang belum bisa menormalisasikan perempuan yang tengah menstruasi. Misalnya saja sebutan 'kotor' bagi perempuan yang sedang berada dalam masa haidnya.

Ilustrasi Perempuan Menstruasi Foto: Shutterstock/Dean Drobot

Akibatnya, kebanyakan perempuan tanpa sengaja memandang menstruasi sebagai sesuatu yang aib dan perlu untuk ditutupi. Untuk mengganti pembalut saja, sebagian perempuan akan melakukannya secara diam-diam agar tidak ketahuan.

Nah, Ladies, meski istilah period stigma masih terdengar sangat asing, namun mengetahui istilah tersebut akan membantu kamu semakin memahami bahwa bahwa menstruasi adalah kondisi yang wajar terjadi dan sebagai perempuan patut kita ‘embrace’ tanpa adanya perasaan malu.

Dengan begitu, kamu tidak perlu takut dengan stigma yang beredar di masyarakat tentang menstruasi. Mengutip dari beberapa sumber, berikut kumparanWOMAN telah merangkum informasinya untuk kamu.

Awal mula munculnya istilah Period Stigma

Mengutip Very Well Mind, kemunculan istilah Period Stigma berhubungan erat dengan tradisi Yahudi Niddah yang menganggap perempuan yang tengah menstruasi harus dikucilkan. Akibatnya, banyak perempuan yang mendapatkan perlakuan yang cukup berbeda di tahun 1980-an.

Hal ini lah yang menjadikan perempuan di masa sekarang beranggapan bahwa menstruasi adalah aib. Sehingga membahas topik yang mengarah ke istilah menstruasi di depan umum masih sangat tabu.

Perempuan menstruasi di Nepal harus tinggal di gubuk. Foto: Prakash Mathema/AFP

Padahal saling bertukar pikiran tentang menstruasi adalah hal yang diperlukan oleh perempuan. Misalnya saja dalam pemakaian tampon atau menstrual cup yang masih membingungkan perempuan untuk cara pemakaiannya.

Karena menganggap menstruasi adalah hal yang masih tabu, kaum perempuan cenderung enggan membicarakan hal ini dan akhirnya edukasi terkait sanitasi menstruasi pun sedikit.

Stigma yang melekat di masyarakat

Salah satu kejadian yang sering memunculkan stigma tentang menstruasi adalah sikap diskriminasi. Kenyataan bahwa kebanyakan perempuan memang tidak pernah lepas dari stigma ini membuat perempuan menjadi lebih ciut.

embed from external kumparan

Misalnya saja pernyataan yang mengatakan bahwa perempuan akan mengalami perubahan mood ketika menstruasi. Meski itu memang bia terjadi, kondisi tersebut seringkali membentuk pandangan umum bahwa perempuan merupakan makhluk yang memiliki kondisi mood yang aneh dan sukar ditebak.

Dampak period stigma

Tanpa disadari fenomena period stigma juga mempengaruhi pelanggaran hak perempuan dalam beraktivitas ketika menstruasi. Mengutip website resmi UN Women, disebutkan ada berbagai dampak yang dirasakan perempuan terkait stigma tersebut.

Salah satunya ada tradisi mengucilkan terhadap perempuan yang sedang haid karena ada pandangan bahwa perempuan termasuk makhluk yang kotor. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh Manju Baluni asal India ketika diwawancarai oleh BBC pada 2014 silam.

Saya tidak akan pernah membiarkan putri saya menderita seperti yang saya alami ketika menstruasi. Keluarga saya memperlakukan saya seperti orang yang tidak tersentuh. Saya tidak boleh ke dapur, saya tidak bisa masuk ke kuil, saya tidak bisa duduk dengan orang lain,” ungkap Manju.

embed from external kumparan

Tidak hanya Manju, seorang perempuan bernama Margdarshi asal Uttarakhasi, India, juga ikut menceritakan pengalamannya yang kurang menyenangkan ketika di sekolah. Menurut Margdarshi, banyak teman laki-lakinya yang tertawa ketika membahas menstruasi di kelas Biologi. Hal tersebut yang memicunya ingin bolos sekolah ketika menstruasi pertama kali.

com-Ilustrasi perempuan sedang menstruasi Foto: shutterstock

“Masalah terbesar saat menstruasi adalah mengelola (kebersihannya). Sampai saat ini, saya kerap merasa malu, marah, dan sangat kotor. Awalnya saya berhenti sekolah karena hal itu,” tambah Margdarshi.

Bahkan, karena kadang malu dengan kondisi menstruasi, masyarakat menyebut menstruasi dengan istilah yang lain. Di Indonesia sendiri, kebanyakan perempuan akan menyebut menstruasi dengan kata ‘dapet’, ‘datang bulan’, atau ‘tamu bulanan’. Tidak hanya menstruasi, pembalut pun sering diubah istilahnya oleh perempuan karena masih dianggap tabu. Biasanya pembalut akan disebut dengan ‘roti jepang’.

Keluar dari period stigma

Keluar dari stigma yang sudah sangat melekat di masyarakat tampaknya hal yang sulit untuk dilakukan. Terlebih apabila yang ingin keluar dari stigma-stigma tersebut hanyalah beberapa orang saja. Namun, bukan berarti hal tersebut tidak mungkin.

Skotlandia misalnya, baru saja mengesahkan RUU yang bertujuan untuk menghilangkan stereotip ‘tabu’ menstruasi. Langkah pertama yang dilakukan Skotlandia yakni dengan menjamin adanya produk menstruasi di seluruh sekolah dan universitas.

embed from external kumparan

Tidak tanggung-tanggung, Skotlandia menjadi negara pertama yang menyediakan produk menstruasi secara gratis di seluruh sekolah dan universitas.

Keberanian Skotlandia dalam menghilangkan period stigma sebaiknya perlu dicontoh oleh beberapa negara yang memang masih memandang menstruasi sebagai hal yang tabu. Karena dengan begitu, perempuan bisa lebih nyaman ketika menjalani menstruasi.

Penulis: Johanna Aprillia