Kumparan Logo

Usia Bukan Batasan, Model Lanjut Usia Kini Semakin Populer

kumparanWOMANverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Model lanjut usia. Foto: dok. ist
zoom-in-whitePerbesar
Model lanjut usia. Foto: dok. ist

Fashion is for everyone.

Ungkapan ini dimaknai dengan semakin banyaknya model-model inklusif dalam industri fashion. Sebut saja model plus size, model disabilitas, model down syndrome hingga model lanjut usia yang semakin menunjukkan eksistensinya.

Model lanjut usia atau sering juga disebut sebagai silver model alias model berambut putih saat ini semakin memperkuat eksistensi mereka. Kehadiran mereka sudah ada sejak dua hingga dekade silam, namun masih belum begitu diakui keberadannya. Kini, tren industri fashion mulai mengalami perkembangan, para silver model pul mulai menghiasi halaman majalah, situs, dan berjalan di catwalk.

Baru-baru ini yang menjadi perbincangan adalah model lanjut usia bernama JoAni Johnson. Model 67 tahun asal Amerika ini baru melakukan debutnya di dunia modeling pada usia 65 tahun atas dukungan dari suaminya. JoAni memukau pecinta mode saat tampil menjadi salah satu model kampanye dari lini label busana terbaru Rihanna, Fenty.

JoAni Johsnon. Foto: Instagram @joanijohsnon6000 dan @westindianamericans
kumparan post embed

Ada pula Lyn Slater, nenek 65 tahun yang ternyata adalah seorang profesor di salah satu universitas di Amerika. Berkat kegemarannya memadankan busana dan rajin menulis tentang fashion di blognya, Slater didapuk menjadi wajah dari kampanye Mango berjudul 'A Story of Uniqueness' pada 2017 lalu.

Hal serupa juga terjadi di Korea Selatan. Adalah nenek Choi Soon-hwa, perempuan berusia 77 tahun yang baru menggeluti dunia modeling selama lima tahun terakhir. Ia menjadi model lansia yang berkesempatan untuk berjalan di catwalk Seoul Fashion Week Fall/Winter 2018 lalu.

Choi Soon-hwa, model lanjut usia asal Korea Selatan. Foto: dok. Instagram/@soonhwa01

Selain nenek Choi Soon-hwa, ada pula model lansia seorang kakek berusia 65 tahun bernama Kim Chil Doo yan baru menjalani karier sebagai model sejak 2018 lalu. Kakek Chil Doo dulunya seorang penjual buah dan membuka restoran namun gagal dan akhirnya bekerja sebagai kuli bangunan. Atas dorongan anaknya, Chil Doo mengikuti sekolah model dan sukses berjalan di Seoul Fashion Week.

instagram embed

Tetapi jauh sebelum mereka, ada model lanjut usia yang telah lebih dulu bergelut di dunia modeling. Beberapa di antaranya adalah Daphne Selfe, model 91 tahun yang aktif menjadi model sejak 1949. Ia bahkan memecahkan rekor di Guinness Book of World Records sebagai model profesional tertua di dunia dan telah bekerja sama dengan beberapa brand ternama seperti Dolce & Gabbana, GAP, and Olay.

Selain Daphne, ada pula model lansia bernama Carmen Dell'Orefice yang kini berusia 88 tahun. Ia membintangi sampul majalah Vogue pada 1947 silam pada usia 15 tahun dan terus aktif berkarier sebagai model hingga sekarang. Bahkan pada 2015 lalu, Carmen masih aktif berjalan di atas catwalk membawakan rancangan label MAX.TAN di Singapura.

Lantas yang membuat para model lansia ini semakin eksis dan menjadi populer?

Rupanya kehadiran para model lansia ini dilihat sebagai tren baru yang erat kaitannya dengan peluang bisnis besar. Melansir Daily Mail, di Inggris, seorang retail analyst Neil Saunders, mengatakan bahwa 40 persen konsumen terbesar di Inggris adalah orang-orang yang berusia di atas 50 tahun.

instagram embed

Rupanya, banyak perusahaan yang baru menyadari besarnya peluang untuk menggaet konsumen perempuan yang berusia di atas 50 tahun, termasuk pula para pebisnis fashion. Untuk itulah, perusahaan memerlukan model yang juga memiliki tampilan serupa dengan para konsumen lanjut usia tersebut.

Melansir The Guardian, Ben Barry, pendiri sekaligus direktur di Fashion Diversity Lab di Ryerson University, Kanada, melakukan survei kepada perempuan yang berusia di atas 35 tahun pada 2012 silam. Berdasarkan hasil survey tersebut, diketahui bahwa perempuan lebih suka membeli suatu barang setelah melihat produk tersebut diiklankan oleh seseorang yang tampak seusia dengannya. Minat membeli barang itu akan berkurang 65 persen jika bintang iklan atau model yang menggunakan produk tersebut tidak terlihat seusia dengannya.

instagram embed

Sedangkan fotografer Nick Knight mempercayai bahwa kesuksesan model senior ini adalah bagian dari perubahan budaya yang lebih besar. "Kita tidak lagi hidup seperti 50 tahun lalu. Orang-orang bisa mendapatkan informasi tentang fashion dari internet, mereka mulai bisa menghargai kultur dan nilai suatu fashion," tuturnya.

Menurut Nick, popularitas para model senior ini sudah muncul sejak tahun '80an. Hal itu ditandai dengan banyaknya majalah seperti Face, Dazed & Confused dan i-D yang memberikan 'panggung' kepada para model senior untuk tampil. Tetapi memang, kehadiran mereka belum terlalu banyak dan tidak begitu diakui.

"Saat itu, desainer seperti Marc Jacobs dan Jean Paul Gaultier tengah naik daun lewat pemikiran mereka yang berbeda tentang definisi cantik. Ada banyak 'kecantikan' yang bisa dilihat dari berbagai orang-orang, termasuk etnis, usia dan bentuk tubuh," lanjut Knight lagi.

instagram embed

Akibat jumlah model senior yang semakin bertambah, banyak pula agensi model yang khusus menaungi para model senior bermunculan. Salah satunya adalah Close Models, sebuah agensi model terletak di London yang didirikan oleh mantan model Harriet Close.

"Kami adalah populasi yang semakin menua. Penting sekali bagi para orang-orang lanjut usia untuk melihat diri mereka sendiri di dalam industri fashion," kata Harriet.

instagram embed

Di Rusia, ada Oldushkan, agensi model yang hanya menerima model berusia 45 tahun ke atas. Didirikan oleh mantan fotografer street style asal Rusia, Igor Gavar, agensi ini menaungi 18 model lanjut usia dari seluruh kota di Rusia.

Tak hanya itu saja, kini mulai banyak sekolah model yang menerima model lanjut usia. Mereka diberikan pelatihan khusus seperti calon model pada umumnya, mulai dari cara berdiri, cara berjalan hingga berpose di depan kamera.

kumparan post embed