Yenny Wahid: Ibu adalah Gudang Pengetahuan Saya

Di dunia politik, Yenny Wahid merupakan salah satu tokoh perempuan yang cukup berpengaruh. Ia mulai aktif di politik sejak mendampingi sang ayah, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang menjabat sebagai presiden keempat Indonesia pada 1999. Kala itu Yenny menjabat sebagai staf khusus presiden bidang komunikasi politik.
Sebagai politisi, perempuan dengan nama asli Zannuba Ariffah Chafsoh ini juga dikenal sebagai perempuan yang berani mengemukakan pendapat dan kritikan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di ranah politik.
Tak hanya sampai di situ, ibu tiga anak ini juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ia menyalurkan jiwa sosialnya lewat Wahid Foundation, organisasi kemanusiaan yang fokus mengembangkan toleransi, keberagaman dalam masyarakat Indonesia, meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, membangun demokrasi dan keadilan fundamental, serta memperluas nilai-nilai perdamaian dan non-kekerasan di Indonesia dan di seluruh dunia.
Selain itu, baru-baru ini Yenny Wahid juga melakukan gebrakan baru dengan meluncurkan brand kecantikan, MORA Beyond Beauty. Tak sekadar ingin mempercantik perempuan Indonesia, brand tersebut juga memiliki visi memberdayakan perempuan maupun kelompok masyarakat yang termarjinalisasi.
Menurut Yenny, kepedulian dan jiwa sosialnya yang tinggi ini sudah ditanamkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil. Terutama oleh sang ibu, Sinta Nuriyah.
“Ibu ini kalau mau hidup untuk dirinya sendiri mungkin bisa, sudah tidak perlu susah payah keluar dan membantu orang lain. Tapi Ibu bukan orang yang seperti itu, Ibu selalu tergerak untuk membantu orang lain. Bagi kami (anak-anaknya) ini luar biasa sekali, bahwa yang diajarkan itu betul-betul dipraktikkan oleh Ibu, bukan sekadar teori. Kita diajarkan bahwa hidup kita harus berguna untuk orang banyak. Itu beliau ajarkan dan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Yenny Wahid kepada kumparanWOMAN.
Dalam rangka merayakan Hari Ibu 22 Desember ini, kumparanWOMAN berbincang bersama pasangan ibu-anak ini untuk program khusus My Mom, My Inspiration. Kami berbincang mengenai berbagai hal; mulai dari bagaimana Sinta Nuriyah menginspirasi Yenny Wahid untuk menjadi perempuan yang tangguh, sabar, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi hingga cerita kebersamaan mereka berdua.
Simak percakapan hangat kami berikut ini.
Anda berdua memiliki kesibukan yang berbeda. Tapi apakah masing sering bertemu?
Yenny Wahid (YW): Kami memang tidak bertemu setiap hari, tapi setiap minggu anak-anak pasti main ke rumah Ibu. Jadi jika kami sedang tidak bisa, cucunya yang dikirim ke rumah Ibu untuk mengobati rasa rindu. Tapi kalau saya sendiri merasa beruntung karena masih sering ketemu Ibu karena banyak datang ke acara yang sama.
Sinta Nuriyah (SN): Tapi dalam keluarga kami ada kesepakatan bahwa tiap bulan kita harus berkumpul bersama dengan anak, cucu, dan mantu untuk makan bersama.
Bagaimana sosok Ibu di mata Yenny?
YW: Ibu itu kesabarannya luar biasa sekali. Sebagai orang tua, Ibu pasti punya keinginan untuk anak-anaknya. Tetapi mungkin karena anak-anaknya keras kepala, kadang tidak sependapat dengan Ibu, jadi anaknya suka bikin marah Ibu. Tapi Ibu punya prinsip, dia tidak akan marah pada anak-anaknya.
Karena menurut Ibu, ketika orang tua marah, terutama ibu, maka Tuhan akan marah, dan kalau Tuhan sudah marah nanti kasihan anak-anaknya nanti malah bisa celaka. Jadi daripada Tuhan marah kepada anak-anak, lebih baik Ibu yang menahan rasa marahnya. Nah, ini kan luar biasa. Bagi saya, ini adalah pengorbanan yang luar biasa dari seorang ibu. Memendam rasa demi anak-anaknya bahagia. Dan itu hakikat utama dari seorang ibu ya.
Lalu apa saja nilai kehidupan yang ditanamkan oleh Ibu kepada Anda?
YW: Hal paling mendasar yang ditanamkan oleh Ibu, oleh kedua orang tua saya, adalah soal agama. Jadi kalau ada masalah, larinya ke Tuhan, itu ditanamkan sangat kuat. Sehingga segala masalah apapun jika diserahkan pada Tuhan insyaallah akan ada jalan keluar. Itu dari awal nilai yang diajarkan.
Kemudian yang kedua adalah soal budaya dan tradisi. Jadi kita bisa menghormati tradisi di mana kita dibesarkan. Kemudian kita berupaya untuk melestarikan tradisi itu. Mulai dari nilai-nilai kehidupan, sopan santun, unggah-ungguh, sampai hal seperti makanan, cara berpakaian, kemudian adat istiadat tindak tanduk dalam bersikap dengan orang lain, terutama dengan orang tua.
SN: (Sebenarnya) tidak perlu ditanamkan banget tapi langsung dicontohkan. Misalnya kami (orang tua) menunjukkan bagaimana cara bersikap kepada orang lain yang tidak beragama Islam atau bagaimana kalau kita melihat orang lain yang sedang mengalami kesedihan, itu langsung saja dilakukan, ditunjukkan. Jadi anak-anak nantinya sudah terbiasa melihat orang tuanya melakukan hal seperti itu dan akhirnya mereka akan mengikuti. Jadi bukan teorinya yang didahulukan, tapi praktiknya.
Apa hal yang paling menginspirasi dan diteladani dari Ibu?
YW: Ibu adalah sosok perempuan yang tangguh. Walaupun dari luar Ibu kelihatan fragile, apalagi dengan kursi roda, sosoknya terlihat lemah. Tapi itu hanya luarnya saja, di dalamnya beliau adalah sosok yang luar biasa tangguh. Dan itu benar-benar menjadi inspirasi bagi kami semua.
Apakah Ibu sering memberi masukan terhadap pilihan hidup yang diambil oleh Yenny?
SN: Ya kalau memang diperlukan pasti diberi masukan. Kadang saya memang memberi pandangan agar dia menjadi orang yang sabar dan tabah karena jadi pemimpin itu banyak tantangannya.
Kita harus bisa sabar, menerima, dan menyaring dengan baik segala informasi yang ada. Jangan terbiasa langsung merespon. Saya ingat pemimpin zaman dulu kalau menerima tantangan, emosinya langsung meluap. Nah, kita tidak boleh seperti itu. Emosinya harus diredakan dulu, semua harus dipikirkan dengan baik. Jangan langsung menjawab. Karena terkadang banyak orang secara otomatis bereaksi ketika terjadi sesuatu.
Apa hal yang sering kali diingatkan Ibu Sinta untuk anak-anaknya?
YW: Ibu suka kasih doa-doa untuk dibaca walaupun anaknya malas, kadang dibaca kadang tidak. Waktu lagi hamil misalnya, saya diminta untuk baca doa tertentu, tapi saya cuma, ‘Nanti ya Ma, kalau ingat.’
SN: Padahal itu penting lho. Doa pada waktu hamil itu luar biasa penting, apalagi sebelum empat bulan. Karena pada waktu empat bulan ketika ditiupkan roh, maka di Lauhul Mahfudz akan dituliskan anak itu akan jadi apa dan nasibnya akan seperti apa. Nah, saat itu kita harus berdoa agar anak kita selamat dunia akhirat.
Kemudian kita harus berdoa untuk keselamatan kita sendiri pada waktu melahirkan agar lancar tidak ada halangan apa-apa. Memang sekarang itu jalan pintas untuk melahirkan itu adalah operasi. Tapi itu sebetulnya itu tidak bagus secara psikologis. Itu juga bisa membuat hubungan ibu dan anak tidak bagus.
YW: Setiap operasi itu pasti memiliki efek stres pada tubuh. Jadi Ibu berusaha mendoakan supaya anak-anaknya tidak operasi caesar, tapi ternyata semua anaknya melahirkan dengan caesar.
SN: Karena sebenarnya ada doanya, para kyai juga punya doa khusus melahirkan. Dan dulu kalau hamil kita tidak boleh lupa minum jamu seminggu dua kali. Tapi kalau sekarang itu kesulitannya adalah dokter tidak memperbolehkan ibu hamil minum jamu. Padahal menurut saya jamu itu bagus, yang tidak bagus itu kalau diminum terlalu sering.
Yenny Wahid dikenal sebagai tokoh perempuan yang menginspirasi. Tapi kalau di rumah sebenarnya Yenny itu orangnya seperti apa?
SN: Kalau dulu sebelum kawin sih sama seperti anak-anak yang lain. Kadang-kadang bandel, tidak mau dikasih tahu, semaunya sendiri, ya begitu itu Yenny.
Ada kemiripan sifat enggak antara Ibu dan Yenny?
YW: Ada. Keras kepala dan suka ngeluyur.
SN: Mungkin ada sedikit-sedikit sifat dari diri saya ini yang dibagi ke empat anak saya.
YW: Satu lagi, jiwa sosial dari Ibu. Itu semua menurun ke anak-anaknya.
SN: Iya. Tidak bisa melihat orang menderita, semuanya seperti itu. Tidak tahan menahan ketidakadilan.
Selain hal-hal yang bersifat lebih serius, apalagi hal yang Yenny pelajari dari Ibu?
YW: Saya cukup sering konsultasi sama Ibu soal hal-hal yang mungkin bagi orang lain sepele, misalnya soal padu padan baju. Nah, itu saya pasti konsultasi dengan Ibu. Karena Ibu itu seleranya bagus sekali kalau soal padu padan warna dan kain, pasti hasilnya kelihatannya chic dan pas. Jadi Ibu itu juga menjadi gudang pengetahuan bagi saya.
Biasanya kalau lagi kumpul berdua apa yang diobrolin
YW & SN: Wah, segala macam!
YW: Segala macam hal kita bicarakan. Mulai dari perkembangan terakhir di dunia politik sampai film India.

