Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Ayah Momong Anak: Perubahan yang Dulu Mustahil
2 April 2025 16:46 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Laili Zailani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Lebaran tahun ini, saya pulang kampung. Seperti biasa, pulang ke kampung halaman selalu membawa berbagai perasaan: kebersamaan, nostalgia, dan tentu saja, rasa damai yang sulit ditemukan di tempat lain. Rumah-rumah penduduk berjajar dan pagar hijau dari ‘teh-tehan’ tumbuh rapi di sepanjang pinggir jalan, pohon-pohon pisang dan kelapa yang tinggi menjulang—semuanya tampak seperti biasa. Seperti yang saya ingat dari masa kecil.
ADVERTISEMENT
Namun, saat saya berjalan melintasi jalan yang sama, di antara suara tawa anak-anak bermain dan suara ayam berkokok di pagi hari, ada satu pemandangan yang mencuri perhatian saya: ponakan saya, seorang lelaki muda yang lahir di tahun 90-an, sedang menggendong anaknya. Ia bukan hanya menggendong, tetapi juga memandikan, menidurkan, bahkan membawa anaknya ke rapat desa menjelang malam takbiran.
Dulu, siapa yang membayangkan ini bisa terjadi? Perubahan besar yang datang begitu diam-diam, tanpa pengumuman atau perayaan, tapi merasuk perlahan ke dalam kehidupan sehari-hari—perubahan yang dulu mustahil, kini menjadi kenyataan yang tak terelakkan.
Dulu Tak Terpikirkan, Sekarang Jadi Kebiasaan
Sebagai perempuan yang sejak lama memperjuangkan kesetaraan gender, saya terbiasa melihat peran perempuan di rumah tangga sebagai sesuatu yang perlu diubah. Namun, saya tidak pernah benar-benar menyadari betapa besar dampak dari perubahan peran ayah dalam pengasuhan. Hingga akhirnya, saya melihatnya sendiri di depan mata.
ADVERTISEMENT
Pemandangan ponakan saya mengasuh anaknya mengingatkan saya pada abang saya sendiri. Dulu, ia marah ketika istrinya mengikuti pelatihan kesadaran gender yang saya fasilitasi. Ia merasa rumah tangganya jadi semakin rumit, karena istrinya mulai menuntut pembagian peran yang lebih adil di rumah. "Wah, ribet. Biniku malah minta bantu-bantu di rumah," katanya waktu itu. Ia, seperti banyak laki-laki lain pada masanya, tumbuh dalam konstruksi sosial yang menganggap pekerjaan rumah dan pengasuhan anak sebagai tanggung jawab perempuan.
Tetapi waktu berjalan. Setelah kedua anak laki-lakinya tumbuh besar dan beban kerja istrinya makin berat, abang saya mulai berubah. Ia melihat sendiri bagaimana keadilan dalam rumah tangga bukan sekadar tuntutan istri, tetapi kebutuhan yang tak bisa dihindari. Kini, bukan hanya dia yang berubah, tetapi banyak ayah muda lain di kampung saya juga mulai mengambil peran yang dulu dianggap "tidak kodrati" bagi laki-laki.
ADVERTISEMENT
Perubahan yang Bukan Kebetulan
Dulu, ayah yang mengasuh anak bisa jadi bahan tertawaan—dianggap di bawah bendera istri dan melawan kodrat. Tapi hari ini, saya melihat sendiri: ponakan saya menggendong, memandikan, bahkan membawa anaknya ke rapat desa. Perubahan ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari perjuangan panjang, dari diskusi di ruang-ruang kecil hingga dorongan kesadaran gender yang dulu ditolak mentah-mentah.
Kini, ayah bukan lagi sekadar penonton dalam pengasuhan, tapi bagian utuh yang dihormati. Ayah yang menggendong anak tidak lagi dianggap lemah, melainkan ayah yang penuh kasih. Ponakan saya dan banyak ayah muda lainnya telah menunjukkan bahwa peran pengasuhan bukan hanya kewajiban ibu, tetapi hak yang juga membawa kebahagiaan bagi mereka.
Dari Perjuangan, Untuk Perubahan
ADVERTISEMENT
Saya ingat betul, dulu ketika saya mengajak istri abang saya ikut pelatihan kesadaran gender, dia pulang dengan tuntutan baru: pembagian peran yang lebih adil. Abang saya menganggapnya merepotkan. Tapi lihat sekarang. Ia yang dulu skeptis, kini ikut serta dalam pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah tidak lagi dianggap semata-mata urusan istri.
Banyak ayah muda lainnya juga telah merasakan manfaatnya. Kini, mereka paham bahwa menggendong anak bukan sekadar "membantu istri", tapi bagian dari bonding yang memberi kebahagiaan tersendiri. Tak perlu ikut kursus parenting untuk memahami bahwa anak juga membutuhkan ayah, dan ayah juga butuh kedekatan dengan anak.
Lantas, apa yang membuat perubahan ini terjadi? Ada banyak faktor yang mendorongnya. Media sosial tentu berperan besar, memperlihatkan representasi ayah yang terlibat dalam pengasuhan. Namun, lebih dari itu, perubahan ini adalah hasil dari gerakan yang tak kenal lelah. Dari para aktivis yang memperkenalkan kesadaran gender ke dalam kehidupan sehari-hari, hingga para suami yang mulai menyadari bahwa berbagi peran pengasuhan tidak hanya meringankan istri, tetapi juga memperkaya pengalaman mereka sebagai ayah.
ADVERTISEMENT
Seperti yang dijelaskan dalam The Second Shift oleh Arlie Hochschild, pembagian peran dalam rumah tangga semakin diterima, meski masih ada hambatan. Kesetaraan ini bukan hanya tentang keadilan bagi perempuan, tetapi juga tentang keseimbangan dalam kehidupan keluarga yang lebih sehat dan bahagia.
Fenomena Sosial: Ayah Terlibat, Di Mana-mana!
Perubahan besar ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di desa-desa, di akar rumput. Di kampung saya, rapat desa yang dulu hanya berisi diskusi soal hasil kebun, kini diwarnai dengan kehadiran ayah-ayah muda yang membawa anak mereka. Sambil menggendong, sesekali menenangkan anaknya yang berlarian, mereka tetap ikut serta dalam diskusi komunitas. Sesuatu yang dulu sulit dibayangkan.
Di media sosial, kita juga melihat semakin banyak ayah muda membagikan momen pengasuhan mereka. Bukan untuk konten viral, bukan demi pencitraan, tetapi karena mereka menemukan kebahagiaan dalam peran itu. Ini bukan sekadar tren sementara, melainkan pergeseran nilai yang nyata.
ADVERTISEMENT
Melihat ponakan saya menggendong anaknya, saya tersenyum. Perubahan yang dulu terasa mustahil kini nyata. Anak-anak kita tidak lagi tumbuh dengan melihat pengasuhan sebagai beban ibu semata, tetapi sebagai tanggung jawab bersama. Dan itu, bagi saya, adalah kemenangan yang sesungguhnya.***