Mengapa Kita Masih Enggan Naik Transportasi Umum Meski Tahu Polusi Semakin Parah

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang. Aktif mengikuti volunteer menjadi tenaga pengajar dan tertarik di bidang komunikasi serta isu-isu mengenai komunikasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Laily Rakhmawati Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemacetan, asap kendaraan, dan udara yang terasa semakin panas sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Anehnya, kita menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.
Pernahkah kamu melihat jalanan saat jam pulang kerja?
Motor dan mobil mengular panjang, klakson bersahut-sahutan, lalu di atasnya ada langit yang terlihat kusam dan penuh kabut. Ironisnya, kita semua tahu bahwa salah satu penyebab terbesar polusi udara di perkotaan adalah emisi kendaraan bermotor. Namun, di tengah berbagai kampanye tentang pentingnya menggunakan transportasi umum, banyak orang masih setia pada kendaraan pribadinya.
Lalu, sebenarnya apa yang membuat kita sulit beralih?
Transportasi Umum Belum Menjadi Pilihan yang Nyaman
Banyak orang memilih kendaraan pribadi bukan karena tidak peduli lingkungan, melainkan karena transportasi umum belum sepenuhnya menjawab kebutuhan mereka. Ada yang harus berjalan jauh untuk mencapai halte, menunggu kendaraan yang datangnya tidak pasti, atau bahkan harus berganti kendaraan beberapa kali hanya untuk sampai ke tujuan.
Bagi masyarakat yang memiliki aktivitas padat, waktu menjadi hal yang sangat berharga. Jika menggunakan kendaraan pribadi dapat menghemat 30 menit perjalanan, tentu banyak orang akan memilih opsi tersebut. Pada akhirnya, kenyamanan dan efisiensi masih menjadi alasan utama mengapa kendaraan pribadi terasa lebih menarik.
Masalah Keamanan yang Masih Menjadi PR Besar
Selain kenyamanan, faktor keamanan juga tidak bisa diabaikan. Tidak sedikit orang, terutama perempuan, yang masih merasa khawatir ketika menggunakan transportasi umum. Mulai dari risiko pencopetan, pelecehan verbal, hingga tindakan tidak menyenangkan lainnya masih menjadi cerita yang sering terdengar.
Ketika seseorang merasa tidak aman saat menggunakan transportasi umum, ajakan untuk "beralih demi lingkungan" menjadi sulit diterapkan. Sebab, kebutuhan dasar manusia bukan hanya ingin sampai di tujuan, tetapi juga ingin merasa aman selama perjalanan.
Transportasi umum yang baik bukan hanya soal jumlah armada atau harga tiket yang murah, tetapi juga tentang bagaimana penumpang merasa nyaman dan terlindungi.
Polusi Udara: Ancaman yang Kita Hirup Setiap Hari
Di sisi lain, penggunaan kendaraan pribadi yang terus meningkat membawa dampak yang tidak kecil. Asap kendaraan menghasilkan berbagai zat berbahaya yang menurunkan kualitas udara. Tanpa disadari, setiap hari kita menghirup udara yang sama, yaitu udara yang dipenuhi emisi dan partikel polutan.
Dampaknya tidak hanya berupa langit yang terlihat abu-abu. Polusi udara juga meningkatkan risiko gangguan pernapasan, penyakit paru-paru, hingga berbagai masalah kesehatan lainnya. Ironisnya, ancaman ini sering disebut sebagai "pembunuh diam-diam" karena dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi perlahan memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Bukan Hanya Tanggung Jawab Masyarakat
Sering kali masyarakat dianggap sebagai penyebab utama polusi karena enggan menggunakan transportasi umum. Padahal, masalah ini jauh lebih kompleks.
Tidak adil jika masyarakat diminta meninggalkan kendaraan pribadi tanpa disediakan transportasi umum yang nyaman, aman, tepat waktu, dan mudah diakses. Kesadaran lingkungan memang penting, tetapi fasilitas yang mendukung juga sama pentingnya. Ketika transportasi umum mampu memberikan rasa aman dan kenyamanan, perlahan masyarakat akan mulai mempertimbangkan untuk beralih.
Saatnya Memilih Masa Depan yang Lebih Bersih
Mengurangi polusi udara bukan berarti kita harus langsung meninggalkan kendaraan pribadi sepenuhnya. Perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil, seperti menggunakan transportasi umum beberapa kali dalam seminggu atau memilih berjalan kaki untuk jarak yang dekat.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi, "Mengapa orang masih memilih kendaraan pribadi?" melainkan, "Sudahkah kita menciptakan sistem transportasi yang membuat masyarakat mau beralih?"
Sebab, udara bersih bukanlah kemewahan yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Udara bersih adalah hak setiap orang, dan masa depan kota yang sehat bergantung pada pilihan yang kita buat hari ini.
