Kembali Ke Asal, Sudirman Said Si “Anak Bawang”

Sederhana itu pilihan!
Tulisan dari Lalita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ia tak lahir dari rahim kemapanan, jadi ia paham betul arti kegelisahan. Sebab ia lahir dari rahim seorang buruh, ia lalu mampu memaknai hidup yang bergemuruh. Takdirnya, disematkan pada rahim seorang petani bawang, tepatnya buruh tani sebab tak punya sawah dan ladang.
Jadilah ia seorang anak bawang: anak yang lahir dan hidup dari hasil bertani bawang.
Maka, seperti apapun takdir membawa seseorang pada perjalanan dan cerita hidup yang gemilang, ia tak boleh melupakan asal. Sudah naluri dan fitrah, bahwa manusia akan selalu merindukan asal, sebab dari sanalah ia berasal.
Senada, meski tak persis sama, Soekarno dulu berpesan agar tidak melupakan sejarah melalui jargon fenomenalnya, jasmerah, sebab sejarah adalah asal; tempat permulaan yang (selalu) dirindukan.
___

Itulah yang terbaca ketika Sudirman Said pulang kampung, mengunjungi sawah dan ladang, lalu ikut bersama memanen bawang. Di sebuah desa yang menjadi contoh nyata kemiskinan masih merajalela. Desa Slatri namanya, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Hanya dua hal yang mungkin diketahui oleh banyak orang tentang kota di ujung barat Jawa Tengah ini, yaitu julukannya sebagia Kota Bawang dan “Brexit alias Brebes Exit” (lepas tol Palimanan) yang selalu menjadi trending topic ketika mudik.
Sudirman Said kembali ke asal, menjadi anak bawang. Ya, anak bawang, sebab dulu, ia besar dan tumbuh dari hasil bertani bawang, sebelum akhirnya Negara, mengambilnya untuk ikut berpetualang.
Bersama para buruh tani, Sudirman Said ikut memanen bawang merah di sawah yang disewanya. Sengaja tidak dibeli, agar petani tetap mempunyai lahan untuk bertahan dan hidup berpenghasilan. Berpeluh keringat, di bawah mentari yang bersinar hangat.
Lalu sejenak, tampil slide-slide kehidupan yang terpatri dalam hidupnya, ketika dulu, ibu yang telah mengajarinya banyak hal juga melakukan hal yang sama; bertani bawang, berpeluh keringat di tengah sawah yang terhampar, merawat semangat untuk membiayai hidup yang malang sebab di akhir panen, harga bawang sering kali mengecewakan.
Barangkali itulah kenapa manusia harus kembali ke asal, jangan sampai lupa jalan menuju pulang: sejauh apapun ia berpetualang, sehebat apapun posisinya yang cemerlang. Dengan pulang, kembali menikmati yang asal, ada banyak pelajaran yang mampu kembali dipungut, setelah samar dan hampir terlupakan.
Melalui kenangan masa lalunya, Sudirman Said akan tetap belajar tentang perjuangan dan kesederhanaan.
___

Bawang, tidak mesti ada dalam setiap masakan. Sekalinya ia ada, masakan tersebut akan terasa beda. Bawang akan selalu terasa ketika ia menjadi campuran dalam bumbu-bumbu masakan. Khas. Begitu pula Sudirman Said yang kehadirannya mampu menciptakan suasana berbeda. Pada tiap jabatan yang pernah diembannya, ia selalu menciptakan terobosan, gebrakan, dan kerja yang mempesona. Khas.
Sudirman Said mampu “membawangi” setiap posisi sehingga terasa lebih sedap dan mantap.
Akhirnya, sejauh apapun berpetualang, siapa pun akan pulang, pada akhirnya. Menyadari darimana berasal membuat seseorang tidak seperti kacang yang lupa kulitnya. Ia tak mungkin bisa melupakan tempat “tumpah darah” sebab ia terikat kuat oleh sejarah. Ya, menolak lupa, itulah prinsip yang dipegang kuat oleh Sudirman Said.
___

Sebab bagaimana pun gemilannya perjalanan karir Sudirman Said, ia tetaplah anak yang lahir dari rahim seorang buruh petani bawang. Tetaplah anak bawang. Keterikanan itulah yang kemudian membuatnya selalu rindu jalan pulang untuk melakukan pengabdian sebagai wujud kecintaan.
Maka pada sisi yang lainnya, kita melihat Sudirman Said sebagai sosok pengabdi. Ia sadar sesadar-sadarnya, bahwa perubahan hidup yang demikian berbeda diperoleh setelah Negara mengambilnya untuk dicerdaskan melalui jalan pendidikan. Maka, untuk membalas semua itu, ia selalu berterima kasih kepada Negara yang telah banyak memberinya kesempatan dan jalan melalui jalan pengabdian.
Artinya, setiap posisi dan jabatan yang diembannya adalah bentuk pengabdian dan cintanya kepada Negara.
___
Sudirman Said adalah contoh bagaimana seharusnya memperlakukan asal. Ia tetaplah anak bawang sebab ia (selalu) rindu untuk pulang. Memungut kembali kenangan. Pulang untuk melakukan pengabdian: kepada Indonesia ketika menjadi pejabat dan bahkan menteri; kepada masyarakat desa (khususnya Slatri) ketika menjadi rakyat biasa; dan tentu saja pengabdian kepada provinsi pada suatu saat nanti.
