Konten Media Partner

Fenomena Puting Beliung Melanda Alahan Panjang Solok, Ini Penjelasan BMKG

langkanverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puting beliung yang terjadi di Danau Diatas, Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Puting beliung yang terjadi di Danau Diatas, Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat. Foto: istimewa

Fenomena puting beliung melanda wilayah Danau Kembar, tepatnya di Danau Diatas, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Minggu (27/6), sekitar pukul 14.30 WIB.

Kendati fenomena itu terbilang sudah biasa terjadi di kawasan Danau Diatas tersebut, namun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan ada sejumlah sebab terjadinya puting beliung itu.

Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau BMKG Padang Pariaman, Sakimin, mengatakan fenomena itu termasuk cuaca ekstrem puting beliung, yakni fenomena alam berupa pusaran angin berbentuk corong yang terjadi di daerah perairan baik laut maupun danau.

Dia menjelaskan penyebab terjadinya waterspout tersebut berasal dari awan Cumulonimbus yang ditandai dengan dasar awan yang gelap, diikuti dengan adanya suhu, tekanan, dan kelembaban udara yang jauh berbeda dibandingkan daerah di sekitar terbentuknya waterspout sehingga memicu pergerakan angin secara berputar.

"Hasil analisis data menunjukkan kondisi atmosfer yang labil di wilayah Solok termasuk di wilayah Danau Kembar, yang mengindikasikan kemudahan timbulnya awan Cumulonimbus dan cuaca buruk," katanya melalui keterangan tertulisnya, Senin (28/6).

Selain itu, data citra radar cuaca juga menunjukkan terdapat pertumbuhan awan yang cukup kuat dengan angin berkecepatan mencapai 15 m/s–20 m/s (54 km/jam–72 km/jam).

Durasi terjadinya puting beliung ataupun waterspout cukup singkat dan cepat, di mana berkisar antara 10-30 menit namun bersifat sangat merusak mengingat kecepatan angin yang cukup tinggi.

Menurutnya puting beliung umumnya terjadi pada saat siang hingga sore hari di musim pancaroba, di mana karakteristik cuaca pada musim tersebut yakni pada saat pagi hari kondisi cuaca cukup cerah, suhu udara dan kelembaban relatif tinggi, namun pada siang atau menjelang sore hari kondisi langit berubah secara drastis menjadi gelap dan dingin.

Sakimin mengimbau kepada masyarakat untuk selalu mewaspadai perubahan kondisi cuaca tersebut, dan menghindari beraktivitas di lokasi terbuka yang cukup luas sebagai upaya mengurangi risiko terjadinya fenomena cuaca ekstrem.

"Seperti puting beliung maupun fenomena cuaca lainnya seperti petir, angin kencang, hingga hujan es," ujarnya.