kumparan
29 Jun 2019 15:39 WIB

Pawang Pukul Kepala Gajah Pakai Tongkat, BKSDA Bukittinggi: Wajar

Ilustrasi Gajah (Foto: Pixabay)
Langkan.id, Padang- Sebuah video seorang petugas perawat atau pawang (keeper) memukul keras kepala gajah yang ada di objek wisata Taman Marga Satwa Budaya Kinantan Bukittinggi (TMSBK), Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, viral di media sosial. Karenanya, sang keeper yang terekam dalam video itu pun menuai kecaman dari warganet.
ADVERTISEMENT
Dalam video yang berdurasi satu menit itu, terlihat gajah mengelus kepalamya dengan belalai usai dipukul oleh sang keeper. Video itu pertama kali diunggah oleh akun Instagram @gardasatwafaundation pada Jumat (28/6) siang.
Dalam unggahannya Garda Satwa Foundation, selaku komunitas pecinta binatang, sangat menyayangkan tindakan keeper tersebut. Hingga kini, video itu sudah ditonton oleh puluhan ribu warganet.
Loading Instagram...
"Ada yang mengirim video ini, sedih seketika melihat gajah mengelus kepalanya yang sakit sehabis dipukul keeper-nya. Mungkin begini cara melatih mereka supaya mau mengikuti perintah. Enggak banyak yang tahu memang. Pengunjung tahunya ada gajah yang bisa dilihat. Ada orang utan yang bisa ditengok. Ada harimau yang bisa kamu kunjungi. Tapi kamu tidak tahu kan bagaimana caranya sampai mereka bisa sampai di kebun binatang?," tulis akun @gardasatwafoundation.
ADVERTISEMENT
"Yang tadinya mereka hidup liar di habitatnya bisa tertangkap dan masuk ke habitat palsunya, apa kamu tak berpikir bagaimana caranya? Coba pikirkan, apakah rasa keingintahuan kamu sepadan dengan kebebasan hidup mereka? Apakah mereka selamanya akan hidup seperti ini? Dipentung bila tidak menurut. Di mana di dunia aslinya mereka berkerumun menjelajahi hutan, sabana," tulis akun tersebut.
Garda Satwa Foundation juga mengajak para warganet untuk bisa membantu menghentikan tindakan kejadian serupa terulang lagi dengan cara berhenti mengunjungi kebun binatang.
"Kami tidak bisa menghentikan hal ini terjadi, mungkin kalian bisa, dengan stop mengunjungi mereka. Apa yang bisa kita pelajari dari kebun binatang? Sedangkan sifat asli para hewan di sana berbeda dengan di habitat asli mereka," tulisnya.
ADVERTISEMENT
Namun Garda Satwa Foundation meminta agar netizen tidak komplen karena mungkin memang begitu cara kebun binatang memperlakukan hewan agar tertib. Sehingga dapat dinikmati para pengunjung.
"Jadi jika kamu melihat hal seperti ini, jangan komplen. Mungkin memang begini cara kebun binatang memperlakukan hewannya supaya tertib dan supaya kamu bisa lihat mereka. Jika kamu tidak suka, stop pergi ke sana. Admin bisa tahu berapa luas gajah berkelana bukan dari kebun binatang. Tapi dari Chanel Animal Planet," sebutnya.
Dianggap Masih Wajar
Berbeda pendapat dengan pihak Garda Satwa Foundation, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Bukittinggi menganggap tindakan keeper masih dalam kategori wajar. Karena menurutnya tindakan itu tidak menyakiti gajah.
"Itu tidak akan menyakiti oleh gajah, apalagi gajah tunggang. Itu tongkat yang digunakan untuk mengendalikan si gajah untuk mengarahkan belok kiri atau kanan, memang kayak gitu perlakuan terhadap gajah," ujar Polisi Hutan BKSDA Bukittinggi, Vera Ciko, kepada Langkan pada Jumat (28/6).
ADVERTISEMENT
Menurut Vera Ciko sifat gajah terkadang ada masa tidak patuh kepada keeper. Sehingga tindakan tersebut dilakukan agar gajah dapat patuh dan mengikuti perintah. Namun ia membantah bahwa aksi keeper memukul, akan tetapi hanya mengetok kepala.
"Kadang gajah itu ada masa bandelnya, memang semua gajah diketok kepalanya tapi bukan menyakiti dan tidak akan terasa bagi gajah. Itu hanya tindakan perintah, bukan memukul dan hanya mengetok dengan tongkat," kata dia.
Vera Ciko mengatakan gajah yang terekam di video merupakan gajah hasil penukaran satwa dengan Taman Satwa atau Kebun Binatang Kandi di Sawahlunto. Gajah tersebut berjenis kelamin betina dengan nama Lia.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Bidang TMSBK, Iqbal, belum merespons terkait pemberitaan tersebut.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan