Konten Media Partner

Tanggapi Pernyataan Megawati, Pengamat Politik Unand: Pemilih di Sumbar Rasional

langkanverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengamat Politik Universitas Andalas, Asrinaldi (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Pengamat Politik Universitas Andalas, Asrinaldi (Foto: Istimewa)

Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri terkait masyarakat di Sumatera Barat sulit menyukai PDIP menjadi sorotan berbagai kalangan.

Salah satunya Pengamat Politik Universitas Andalas (Unand) Padang, Asrinaldi.

Menurut Asrinaldi, banyaknya masyarakat yang tidak menyukai partai berlambang banteng itu karena rekrutmen terhadap kader PDIP di Sumbar tidak bagus.

"Pengurus PDIP, khususnya di Sumbar telah gagal merekrut kader, sehingga mereka kalah bersaing dengan dengan kader dari partai lain," ujarnya, Kamis (3/9).

Harusnya, kata Asrinaldi, sebagai partai penguasa sejak 2014, harus PDIP menjadikan fakta perolehan suara yang rendah di Sumbar sebagai intropeksi.

"Pemilu Legislatif 2019 saja suara PDIP sangat kecil. Mereka (PDIP) tidak mampu meloloskan wakil dari Sumbar ke senayan, hanya 3 kursi yang mereka peroleh, harusnya itu menjadi intropeksi diri," ungkapnya.

Tidak hanya itu, Asrinaldi juga meragukan integritas kader PDIP yang ada di Sumbar selama ini.

"Apakah PDIP sudah melakukan komunikasi politik yang baik kepada warga Sumbar? Apakah PDIP sudah merekrut orang-orang atau tokoh yang mampu mewakili aspirasi dan kepentingan warga Sumbar? Kalau mau dipilih, PDIP harus hadirkan tokoh yang berintegritas yang menggambarkan Sumbar," jelasnya.

Dijelaskan Asrinaldi, terkait perolehan suara yang menurun signifikan di Sumbar, tidak hanya dialami PDIP.

"Partai lain seperti Nasdem, Golkar juga tidak meraih suara signifikan ketika Pileg di Sumbar," ucapnya.

Menurut Asrinaldi, hal itu terjadi karena pemilih di Sumbar banyak pemilih yang rasional. Warga Sumbar itu memilih figur-figur yang dirasa mampu merepresentasikan kepentingan warga pada umumnya.

Meskipun Sumbar mayoritas beragama Islam, tapi secara politik, jelas Asrinaldi, tidak pula menjadi basis suara bagi partai Islam seperti PKS, PKB dan PPP.

"Justru PKS yang sekarang jadi kepala daerah di Sumbar, juga tidak begitu kuat. Malahan, Gerindra, Demokrat dan PAN yang merupakan partai nasionalis yang suaranya bagus di Sumbar," paparnya.

Karena itu juga, kata Asrinaldi, tokoh PDIP, Puan Maharani menyebutkan bahwa Sumbar tidak nasionalis atau pancasilais itu tidak tepat.

"Partai yang meraih suara terbanyak di Sumbar pada Pileg lalu adalah Gerindra yang juga mengusung ideologi pancasila dan nasionalisme," ungkapnya.

Asrinaldi menyarankan, jika PDIP ingin memperbaiki perolehan suara di Sumbar, lebih baik partai itu mengubah pola rekrutment kader.

"Hadirkanlah kader-kader yang melambangkan ciri dan karakter Sumbar," katanya.