Mengurai Perselisihan antara Gus Miftah dan Pedagang Es Teh

Mahasiswa Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Lasyohana Situmorang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan


Kasus yang melibatkan Gus Miftah dan seorang pedagang es teh baru-baru ini menjadi sorotan publik. Dalam sebuah video yang viral, Gus Miftah terlihat melontarkan kata-kata kasar kepada pedagang es teh tersebut. Ucapan seperti "Es tehmu masih banyak atau tidak? Masih? Ya sana dijual, goblok!" menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat.
Gus Miftah, seorang tokoh agama yang dikenal luas, sering kali menggunakan media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan dan sosial. Namun, dalam insiden ini, penggunaan bahasa yang kasar dan merendahkan terhadap pedagang es teh memicu perdebatan mengenai etika dan tanggung jawab publik figur.
Dalam kasus ini perlu nya memperhatikan etika dengan siapapun itu salah satunya adalah :
1. Penghormatan terhadap Sesama: Salah satu prinsip dasar etika adalah menghormati orang lain, terlepas dari status sosial atau pekerjaan mereka. Ucapan kasar yang dilontarkan oleh Gus Miftah dianggap tidak menghormati pedagang es teh sebagai sesama manusia yang berusaha mencari nafkah.
2. Tanggung Jawab Publik Figur: Sebagai seorang tokoh publik, Gus Miftah memiliki pengaruh besar terhadap pengikutnya. Tindakan dan ucapannya dapat menjadi contoh bagi banyak orang. Oleh karena itu, penting bagi publik figur untuk menjaga sikap dan ucapan mereka agar tidak memberikan contoh yang buruk.
3. Empati dan Kepedulian: Dalam interaksi sosial, empati dan kepedulian sangat penting. Memahami situasi dan perasaan orang lain dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih baik dan harmonis. Ucapan kasar menunjukkan kurangnya empati dan kepedulian terhadap pedagang es teh yang mungkin sedang berjuang dalam pekerjaannya.
Kasus ini menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan etika dalam setiap tindakan, terutama yang melibatkan interaksi dengan orang lain. Influencer dan individu dengan pengaruh besar memiliki tanggung jawab untuk memperlakukan semua orang dengan adil dan hormat, serta menyadari dampak dari tindakan mereka pada kehidupan orang lain.
Di era digital ini, di mana semua tindakan dapat dengan cepat menjadi sorotan publik, menjaga etika dan empati adalah kunci untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan lebih adil. Kasus Miftah dan penjual es teh adalah pengingat penting bahwa di balik setiap layar ada manusia dengan kehidupan dan cerita yang layak dihormati.
Penulis : Lasyohana Situmorang
Universitas Pamulang
Ilmu Hukum S1
