Gaya Coping Lazarus: Seni Bertahan dari Stres dan Konflik Organisasi

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Maulidya Aura Lathifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hidup manusia tidak akan pernah bisa jauh dari masalah dan tekanan, termasuk dalam kehidupan berorganisasi. Ketika kita berada di sebuah organisasi seperti lingkungan pekerjaan, tentunya kita akan dihadapkan oleh berbagai masalah/konflik. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kita berhadapan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang beragam yang mempengaruhi sifat dan peilaku mereka. Lalu, perbedaan kepentingan, nilai, atau cara pandang antara individu, juga ikut mempengaruhi. Selain itu, di dalam organisasi kita akan memungkinkan mendapat tekanan dari hal-hal yang menjadi tanggung jawab kita, bisa karena beban kerja yang berlebihan, atau tuntutan organisasi yang tinggi. Hal-hal seperti ini tentu bisa menimbulkan stres. Jika tidak dikelola dengan baik. maka akan sangat mempengaruhi efektivitas dan produktivitas karyawan, serta keberlangsungan organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara mengelola stres dalam komunikasi organisasi.
Dalam teori stres transaksional dari Lazarus dan Folkman (1984), penyebab stres itu ternyata tidak hanya dari faktor eksternal seperti atasan yang terlalu banyak memberi tekanan, rekan kerja yang kurang suportif, atau beban kerja yang bertambah. Tapi, stres juga bisa muncul dari internal individu itu sendiri tentang bagaimana mereka menilai dan merespons situasi yang sedang hadapi. Faktor internal ini terdiri dari 2 proses, yang pertama yaitu appraisal primer (penilaian terhadap ancaman atau tantangan dalam situasi tertentu) dan appraisal sekunder (penilaian terhadap sumber daya atau strategi yang dapat digunakan untuk mengatasinya).
Dalam appraisal primer, ketika individu dihadapi oleh suatu masalah, maka ia akan mencoba menafsirkan apakah ini sebuah ancaman, kerugian, atau malah sebuah tantangan untuk berkembang? Setelah itu, di appraisal sekunder, individu akan lanjut berpikir apakah ia memiliki kemampuan/sumber daya yang cukup untuk menghadapi masalahnya, atau justru sebaliknya. Sumber daya ini bisa meliputi tenaga, waktu, dukungan sosial dari rekan kerja atau orang terdekat. Stres akan meledak ketika individu merasa dirinya tidak memiliki sumber daya yang cukup, sehingga merasa kesulitan untuk menghadapi masalah tersebut.
Seni Bertahan dengan Gaya Coping ala Lazarus
Teori yang diungkapkan Lazarus, tentunya juga memberikan Solusi untuk mengelola permasalahan stress ini dengan mekanisme coping. Coping sendiri artinya strategi yang dilakukan seseorang ketika menyadari dirinya perlu menanggulangi dan mentolerir situasi yang sulit dan penuh tekanan. Lazarus, memberikan dua cara coping untuk mengelola stress dalam komunikasi organisasi, yakni sebagai berikut:
1. Problem-Focused Coping
Strategi ini berfokus pada penyelesaian masalah, dimana seorang individu merasa yakin untuk mengatasi situasi yang menjadi akar penyebab stres. Strategi ini sangat efektif digunakan jika situasi atau masalah di dalam organisasi masih bisa dikendalikan atau diubah. Problem-focused coping yang dilakukan ketika ada masalah dalam organisasi yaitu bisa dengan cara sebagai berikt:
a. melakukan pendekatan analisis untuk memecahkan masalah dengan hati-hati
b. Mengambil keputusan untuk mengubah situasi secara agresif dan pengambilan resiko yang mungkin cukup berbahaya
c. Mencari support system dari sesama rekan kerja untuk bekerja sama dan meminta bantuan.
2. Emotion-Focused Coping
Strategi yang berfokus pada pengelolaan emosi pribadi individu tersebut seperti kemarahan, kecemasan, atau kesedihan tanpa perlu mengubah situasi yang menjadi akar penyebab stress. Strategi ini biasa dilakukan ketika masalah yang terjadi benar-benar ada di luar kendali, atau ketika individu tidak merasa yakin dan mampu untuk mengatasi situasi tersebut. Emotion-focused coping dalam konteks permasalahan di dalam organisasi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Mengontrol emosi dan pikiran dengan afirmasi positif, meditasi, serta istirahat yang cukup.
b. Menghindari diri dari permasalahan untuk sementara waktu.
c. Mencoba melihat makna positif dari setiap kejadian yang dilalui dan focus pada pengembangan diri.
d. Menjaga keseimbangan hidup, dengan cara melakukan aktivitas yang disukai seperti hobi untuk merilekskan diri dari kerumitan situasi yang terjadi dalam organisasi
Pada akhirnya, bertahan dan tetap sehat mental maupun fisik di lingkungan organisasi dengan berbagai tekanan, bukan berarti menjadi robot yang kaku dimana harus menahan beban tanpa bersuara. Ketika stres muncul, kita harus belajar membaca situasi dan segera mengambil langkah strategis agar stres tidak berlarut semakin parah yang dapat mempengaruhi produktivitas. Ketika masalah di lingkup organisasi yang membuat kita stres adalah sesuatu yang masih bisa dikendalikan, lakukan pengelolaan stres melalui mekanisme Problem-Focused Coping. Namun, ketika kita menyadari bahwa masalah tersebut sudah diluar jangkauan kita, lakukanlah mekanisme Emotion-Focused Coping agar kita tetap merasa waras di tengah kehidupan berorganisasi. Dengan memahami kapasitas diri serta paham menerapkan kedua gaya coping ini, kita tidak hanya menjaga produktivitas pribadi tetap stabil, tetapi juga ikut merawat keseimbangan organisasi agar tetap berjalan dengan sehat dan harmonis secara keseluruhan.
