Konten dari Pengguna

Mengapa Saya Menulis Mentalitas Ksatria

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lauren David Rangga Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Behind the scenes buku Mentalitas Ksatria

Oleh: Lauren David Rangga Wardhana - Penulis Buku Mentalitas Ksatria dan Mahasiswa Magister Psikologi Pendidikan Universitas Airlangga

Ilustrasi Cover Buku Mentalitas Ksatria (Sumber: Dokumen Editing Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Cover Buku Mentalitas Ksatria (Sumber: Dokumen Editing Pribadi)

"Setiap buku memiliki kisahnya sendiri. Namun sebelum sebuah buku lahir, selalu ada perjalanan panjang yang tidak pernah terlihat oleh pembacanya."

Ketika seseorang melihat sebuah buku terpajang di rak toko buku, yang terlihat hanyalah sampul, judul, nama penulis, dan jumlah halamannya. Sangat sedikit yang mengetahui bahwa sebelum sebuah buku sampai ke tangan pembaca, ada ratusan jam yang dihabiskan untuk berpikir, mengingat, menghapus, menulis ulang, bahkan mempertanyakan kembali setiap kalimat yang akan ditinggalkan kepada orang lain.

Saya baru benar-benar memahami hal itu ketika mulai menulis Mentalitas Ksatria. Sejujurnya, saya tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang penulis buku.

Bahkan ketika berbagai pengalaman hidup mulai saya jalani, saya menganggap semuanya hanyalah bagian dari perjalanan yang biasa. Menjadi mahasiswa penerima beasiswa, aktif berorganisasi, mengikuti berbagai kompetisi, bekerja sambil menempuh pendidikan, hingga akhirnya melanjutkan studi magister, semuanya saya jalani sebagaimana mestinya. Saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari pengalaman-pengalaman itu akan berubah menjadi sebuah buku.

Sampai suatu ketika saya menyadari satu hal yang sebenarnya layak untuk diceritakan bukanlah daftar pencapaian. Melainkan proses yang membentuk manusia di balik pencapaian itu. Kesadaran itulah yang menjadi titik awal lahirnya Mentalitas Ksatria. Pada awalnya saya mengira menulis autobiografi adalah pekerjaan yang sederhana.

Saya hanya perlu mengingat kembali perjalanan hidup, menyusunnya berdasarkan urutan waktu, kemudian menuliskannya menjadi beberapa bab. Namun dugaan itu ternyata keliru. Semakin banyak saya menulis, semakin saya menyadari bahwa buku ini bukan sedang mengisahkan apa yang pernah saya lakukan. Buku ini sedang menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting.

"Mengapa semua perjalanan itu membentuk saya menjadi pribadi seperti hari ini?"

Pertanyaan tersebut mengubah hampir seluruh cara saya menulis.

Saya mulai membuka kembali foto-foto lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah saya lihat. Saya membaca kembali catatan-catatan yang pernah saya tulis. Saya mencoba mengingat percakapan-percakapan sederhana yang dahulu tampak biasa, tetapi ternyata menjadi titik balik kehidupan saya.

Ada kalanya saya berhenti menulis hanya karena satu kenangan membawa saya kembali pada perasaan yang pernah saya alami bertahun-tahun sebelumnya. Di situlah saya menyadari bahwa menulis autobiografi bukan hanya pekerjaan intelektual.

Ia juga merupakan perjalanan emosional.

Semakin jauh proses penulisan berlangsung, semakin saya memahami bahwa Mentalitas Ksatria tidak boleh menjadi buku yang hanya menceritakan keberhasilan. Saya tidak ingin pembaca selesai membaca buku ini hanya dengan mengetahui siapa saya.

Saya ingin mereka selesai membaca buku ini dengan mengenal dirinya sendiri. Karena itu saya mulai mengubah cara penyampaiannya. Setiap kisah tidak berhenti pada cerita. Ia harus berakhir pada makna. Setiap pengalaman harus melahirkan pelajaran. Setiap kegagalan harus memberikan arah. Setiap keberhasilan harus mengajarkan kerendahan hati. Dari sinilah kemudian lahir bagian-bagian seperti Refleksi, Prinsip Mentalitas Ksatria, dan Jeda Sejenak.

Ketiga bagian tersebut bukan saya tambahkan untuk memperbanyak halaman buku. Justru di sanalah inti dari seluruh perjalanan ini berada. Saya ingin setiap pembaca berhenti sejenak, menutup bukunya beberapa menit, lalu bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa makna perjalanan hidupku sendiri?" Ada satu pertanyaan yang cukup sering saya terima.

"Mengapa judulnya Mentalitas Ksatria?"

Jawabannya sederhana. Karena selama ini saya melihat banyak orang mengira seorang ksatria adalah sosok yang selalu menang. Padahal kehidupan mengajarkan sesuatu yang berbeda. Ksatria bukanlah orang yang tidak pernah gagal. Bukan pula orang yang tidak pernah merasa takut. Ksatria adalah seseorang yang tetap melangkah ketika keadaan belum memberikan alasan untuk percaya. Tetap menjaga keyakinan ketika orang lain memilih meragukan. Tetap memperbaiki diri ketika hasil belum terlihat. Dan tetap rendah hati ketika keberhasilan akhirnya datang.

Mentalitas itulah yang ingin saya wariskan melalui buku ini. Bukan sekadar kisah hidup saya. Melainkan cara memandang kehidupan. Ada banyak malam ketika saya menutup laptop dengan perasaan belum puas. Saya membaca kembali halaman yang sudah selesai ditulis, lalu menghapusnya. Bukan karena kalimatnya salah. Melainkan karena saya merasa pembaca belum benar-benar dapat merasakan apa yang saya alami.

Saya belajar bahwa menulis bukan hanya menyusun kata-kata. Menulis adalah membangun kejujuran. Semakin jujur seorang penulis kepada dirinya sendiri, semakin mudah pembaca menemukan dirinya di dalam cerita tersebut. Mungkin itulah proses yang paling melelahkan. Bukan mencari kata-kata. Tetapi belajar jujur kepada diri sendiri. Hal yang menarik, semakin lama saya menulis, semakin saya menyadari bahwa buku ini ternyata juga sedang mengubah penulisnya.

Saya kembali mengingat orang-orang yang pernah membantu saya. Guru-guru yang membuka jalan berpikir saya. Teman-teman yang menemani proses bertumbuh. Orang tua yang tidak pernah berhenti berdoa. Orang-orang yang pernah meragukan saya. Bahkan kegagalan-kegagalan yang dahulu sempat membuat saya kecewa.

Semuanya ternyata memiliki tempatnya masing-masing dalam perjalanan hidup saya. Tanpa mereka, mungkin buku ini tidak akan pernah lahir. Saya juga belajar bahwa menulis bukanlah tentang meninggalkan jejak nama. Menulis adalah meninggalkan manfaat. Karena itu saya tidak pernah berharap pembaca mengingat siapa penulis buku ini.

Saya justru berharap mereka mengingat satu kalimat yang mampu mengubah cara mereka memandang kehidupan. Jika suatu hari nanti ada seorang mahasiswa yang kembali bersemangat mengejar pendidikannya setelah membaca buku ini, seorang guru yang menemukan kembali makna pengabdiannya, atau seorang anak muda yang memilih bangkit setelah mengalami kegagalan, maka bagi saya buku ini telah menjalankan tugasnya.

Alhamdulillah, setelah melalui proses yang panjang, Mentalitas Ksatria kini memasuki tahap akhir penerbitan bersama Jejak Pustaka. InsyaAllah buku ini akan terbit pada akhir Agustus sebagai buku resmi yang dilengkapi ISBN serta telah didaftarkan untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Bagi saya, proses tersebut bukanlah garis akhir. Justru inilah awal dari sebuah perjalanan baru. Sebab sejak awal saya percaya bahwa sebuah buku tidak benar-benar selesai ketika penulis menuliskan kalimat terakhir. Sebuah buku baru benar-benar hidup ketika seseorang membacanya, menemukan dirinya di dalam setiap halaman, lalu menutup buku itu dengan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari sebelumnya.

Mungkin itulah makna sesungguhnya dari Mentalitas Ksatria. Bukan tentang menjadi manusia yang paling hebat. Melainkan tentang terus membangun diri agar menjadi manusia yang layak menerima setiap amanah, setiap kesempatan, dan setiap mimpi yang Allah titipkan.