Konten Media Partner

Jalin Persaudaraan Lewat Festival Brass, Totobuang dan Hadrat 2019

Lentera Maluku

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Sanggar Nusaniwe Eri dengan musik totobuang (4/9). Dok : Lenetra Maluku
zoom-in-whitePerbesar
Sanggar Nusaniwe Eri dengan musik totobuang (4/9). Dok : Lenetra Maluku

Lentera Maluku. Kota Ambon mempunyai daya tarik tersendiri dalam perkembangan musik dan budaya, di mana alat musik tradisional dipadukan dengan alat musik modern. Seperti yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Ambon melalui Festival Brass, Totobuang dan Hadrat 2019, sebagai rangkaian dari pelaksanaan HUT ke-444 Kota Ambon pada tanggal 7 September 2019 mendatang.

Festival ini, menampilkan kurang lebih 1.000 orang yang turut ambil bagian di sejumlah ruas jalan di kota Ambon, pada Rabu malam (4/9).

Pemain Brass dalam Festival Brass, Totobuang & Hadrat (4/9). Dok : Lentera Maluku

Alat musik tradisional yang menjadi ciri khas orang Maluku ialah Tifa dan Totobuang. Meskipun alat musik Tifa dan Totobuang mempunyai latar belakang yang berbeda, namun jika digabungkan akan menghasilkan sebuah perpaduan yang manis dan juga indah didengar. Biasanya kedua alat musik ini selalu dimainkan dalam satu harmonisasi yang sama, karena itulah kedua alat musik ini dinamakan Tifa Totobuang.

Dalam kesenian warga Maluku, Hadrat merupakan tradisi yang paling melekat pada masyarakat yang beragama Islam. Dalam hadrat terdapat alat-alat musik bernuansa Islam, salah satunya rebana atau yang dikenal juga dengan tamborin, ini merupakan alat musik yang sudah tidak asing lagi di Indonesia.

Kolaborasi Sanggar Papala Latuhalat dan Hadrat Talake (4/9). Dok : Lentera Maluku

Festival ini dinilai Walikota Ambon, Richard Louhenapessy sebagai ajang mempersatukan budaya dalam bingkai keagamaan. Yang mana di Maluku alat musik Brass identik dengan masyarakat Kristen dan Hadrat identik dengan masyarakat muslim.

“Yang kita buat hari ini bukan untuk saya, bukan untuk sekertaris kota, dan bukan untuk pak wakil lagi, tapi untuk masa depan kalian. Oleh karena itu, kepada bapak dan mama, kepada ade dan kakak, dan semua yang telah berpartisipasi, saya ucapkan terima kasih. Kita akan bertemu di tanggal 6 dan 7 pada waktu dan tempat yang berbeda”, ungkap Walikota Ambon.

Sambutan penutupan dari Walikota Ambon (4/9). Dok : Lentera Maluku

Bukan hanya dimeriahkan oleh penampilan Brass, Totobuang & Hadrat, dibeberapa titik lokasi seperti depan Kantor Pos Pusat Ambon, depan KFC Urimesing, depan Hotel Abdulali dan terakhir depan Kantor Pemadam kebakaran Ambon juga terdapat panggung musik kecil, yang menampilkan talenta-talenta berbakat dari Kota Ambon.

Sementara itu, di jalan protokol dipadati sekitar 100 lebih pemain Brass , Totobuang & Hadrat dengan harmonisasi musik yang dikolaborasikan secara bersama.

Live musik depan Kantor Pos Pusat Ambon (4/9). Dok : Lentera Maluku

Adapun lokasi-lokasi kolaborasi Totobuang dan Hadrat pada Festival ini, dimulai dari titik pertama simpang depan Masjid Raya Al-fatah terdapat Sanggar Papala dari Latuhalat dan Hadrat Talake, titik kedua di jalan A.Y Patty depan BRI ada Sanggar Boiratan dan Hadrat Turzina, titik ketiga samping toko buku Valentine ada Sanggar Khayla dan Hadrat Khayla, titik keempat depan pemadam kebakaran ada Sanggar Wairang Soya dan Hadrat Hatukau Batumerah, titik kelima depan gereja Katedral Ambon ada Sanggar Marisa Karpan, titik keenam depan Bank Panin ada Sanggar Nusaniwe Eri dan titik ketujuh depan kantor pos ada Sanggar Aminata Tutuhitu.

Festival yang bertajuk “Ambon Pono Deng Musik” ini berakhir pada pukul 22.00 WIT. Pantauan wartawan antusias masyarakat memadati jalan A.Y. Patty, Jalan Pattimura, Jalan Ahmad Yani dan Jalan Diponegoro. (LM2)