Konten dari Pengguna

Dari Dapur ke Identitas: Pertarungan Budaya di Tengah Gelombang Globalisasi

Leon Rumengan

Leon Rumengan

Siswa Kuliner di SMK Katolik St Familia Tomohon

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google

Tulisan dari Leon Rumengan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya merupakan salah satu siswa di SMK yang terkenal di Sulawesi Utara, tepatnya di Kota Tomohon, yang memilih program keahlian kuliner sebagai jalan pembelajaran dan pencarian jati diri. Di dapur sekolah, saya belajar bahwa makanan bukan sekadar konsumsi, melainkan bahasa yang membawa cerita, nilai, dan identitas pembuatnya.

Presentasi Saat Ujian Laporan PKL (Arsip Pribadi, 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Presentasi Saat Ujian Laporan PKL (Arsip Pribadi, 2026)

Pemahaman ini semakin kuat saat saya melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) di sebuah hotel besar di Manado. Dapur di sana menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, di mana menu internasional disajikan dengan standar global. Namun, di balik kerapihan dan konsistensi tersebut, saya merasakan bahwa ciri khas lokal sering kali tersisih. Dari situ saya menyadari bahwa dapur juga merupakan arena pertarungan budaya di tengah arus globalisasi.

Dalam perspektif Antropologi Kuliner, makanan adalah representasi budaya yang terus berkembang, namun tetap harus berakar. Selama PKL, saya banyak mengolah menu internasional dengan standar tertentu, tetapi merasa kurang memiliki ruang untuk mengekspresikan identitas diri. Sebaliknya, ketika berinteraksi dengan makanan lokal, saya merasakan kedekatan dan kebebasan yang berbeda.

Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa apa yang kita ciptakan di dapur mencerminkan diri kita. Kreativitas yang dipadukan dengan ciri khas budaya lokal dapat menjadi kekuatan untuk membedakan sekaligus menyelamatkan identitas. Ketika cita rasa tradisional dikombinasikan dengan sentuhan internasional, tercipta harmoni yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar. Hal-hal kecil seperti rasa, teknik, dan penyajian dapat berkembang menjadi peluang besar.

Tropical Kolak Entremet Cake : Penggabungan Cita Rasa Budaya Lokal Dengan Teknik Internasional (Arsip Pribadi 2026)

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sidney Mintz dalam kajiannya tentang makanan dan budaya, apa yang kita makan tidak pernah netral. Ia selalu terkait dengan sejarah, kekuasaan, dan identitas. Hal ini sejalan dengan pemikiran Claude Lévi-Strauss yang melihat makanan sebagai bagian dari struktur budaya manusia. Sementara itu, Massimo Montanari menegaskan bahwa kuliner adalah hasil konstruksi budaya yang terus berubah, namun tetap berakar pada tradisi.

Pemahaman tentang ciri khas dan kreativitas membantu membentuk identitas diri yang kuat. Bagi saya, hal ini mendorong untuk menghadirkan keunikan sebagai jati diri, termasuk dalam berkarya di bidang kuliner, sedangkan bagi orang lain menjadi inspirasi untuk membangun identitas sekaligus menjaga budaya di tengah globalisasi.

Praktik Ujian Keahlian Kuliner Di SMK Katolik St. Familia Tomohon (Arsip Pribadi 2026)

Pada akhirnya, kenyataan yang kita hadapi di era yang penuh dengan keberagaman budaya global ini menuntut kita untuk tidak sekadar menjadi peniru, tetapi pencipta yang sadar akan jati dirinya. Arus budaya luar tidak dapat dihindari, bahkan sering kali membawa kemajuan, namun di dalamnya terdapat satu kebenaran yang tidak boleh diabaikan: identitas tidak akan bertahan jika tidak dihidupi.